Edisi 13-10-2017
Investasi Komoditas Gaya Hidup Didorong


TANGERANG – Indonesia perlu menarik lebih banyak investasi di bidang komoditas berbasis gaya hidup (lifestyle commodity), seperti pariwisata seiring dengan tren gaya hidup yang dinamis.

Kepala Badan Koordinasi dan Penanaman Modal (BKPM) Thomas Lembong mengatakan, Indonesia sangat membutuhkan investasi di industri padat karya sebagai sarana untuk penyerapan tenaga kerja. Thomas menilai, industri gaya hidup bersifat sangat padat karya dan mencakup multisektor, antara lain pariwisata, perhotelan, kafe, dan restoran. Selain itu, juga produk hasil pertanian dan hortikultura seperti kopi dan kakao.

“Memang harus ujung ke ujung dan seimbang antara padat modal dan padat karya, tapi bagi usaha menengah dan kecil, hemat kami peluang jangka pendek yang sekarang itu di lifestyle dan pariwisata,” ujarnya seusai Forum Trade Tourism and Investment, di Tangerang, Banten, kemarin. Menurut Lembong, pertumbuhan ekonomi yang sangat baik di negara-negara besar, seperti China, India, Timur Tengah, dan Afrika, menjadikan pasarnya sangat berkembang. Sejalan dengan itu, terjadi peningkatan permintaan untuk industri gaya hidup, baik berupa produk barang maupun jasa seperti pariwisata.

Dengan populasi penduduk Indonesia yang besar, peluang industri berbasis gaya hidup untuk memasarkan di domestik pun sangat besar. “Permintaannya sangat luar biasa, tinggal bagaimana kita menggarapnya. Dengan teknologi internet, kita bisa berjualan dan kirim produk atau menawarkan jasa ke seluruh dunia. Kita harus mengarah ke sana, terutama yang muda-muda harus giat menerobos peluang di industri berbasis gaya hidup ini,” tuturnya. Lembong menambahkan, pariwisata sebagai bagian dari jasa dan gaya hidup harus digenjot investasinya.

Terlebih, untuk membangun sarana pariwisata, seperti hotel dan restoran, hanya butuh waktu sekitar enam bulan hingga dua tahun. Berbeda dengan membangun pabrik yang bisa makan waktu tiga hingga lima tahun. “Investasi di bidang pariwisata sekarang pertumbuhannya 35-40% per tahun, lebih tinggi dari pertumbuhan investasi secara nasional yang 12- 14% per tahun. Jadi, sudah bagus pertumbuhannya meskipun nilainya masih kecil. Saya yakin suatu saat akan menjadi sektor yang sangat signifikan,” ujarnya.

Sementara itu, peluang investasi juga datang dari investor asal London, Paris, dan New York, yang menyatakan ketertarikannya untuk berinvestasi di Indonesia. Mereka juga mulai menjajaki kelaikan investasi di sektor pariwisata di Indonesia. Hal tersebut diketahui setelahMenteriPariwisata( Menpar) Arief Yahya didampingi Ketua Tim Pokja 10 Destinasi Prioritas Hiramsyah S Thaib menerima audiensi CEO Wellington Capital Advisory (WCA) David Burke di Gedung Sapta Pesona, Kemenpar, Selasa (10/10).

Hiramsyah mengatakan, dalam audiensinya, David Burke melaporkan dan menyampaikan tiga hal. Pertama, WCA selaku analis dan financial investment advisor yang berbasis di Jakarta dan Singapura telah menerima berbagai permintaan kajian untuk kelaikan investasi di sektor pariwisata di Indonesia. “Terutama kliennya dari London, Paris, dan New York,” ujar Hiramsyah dalam keterangan pers tertulis. Kedua, dengan sinyal kuat dari para investor itu, Hiramsyah mengatakan, WCA sangat berharap bisa turut membantu mempromosikan peluang investasi di “10 Bali baru” maupun destinasi lainnya. Ketiga , penawaran kerja sama yang diajukan WCA ini adalah “Zero Rupiah” alias tanpa biaya.

WCA hanya meminta untuk dipasok berbagai materi dan lokasi-lokasi potensial destinasi investasi pariwisata yang clean and clear dari sisi perizinan. Selanjutnya WCA akan membantu memasarkan peluang destinasi investasi pariwisata kepada kliennya dan berkoordinasi lebih lanjut dengan Kemenpar, khususnya dalam pemenuhan kebutuhan investasi di sektor pariwisata dan private sektor untuk pemenuhan amenitas yang nilai kebutuhannya mencapai USD10 miliar.

Menpar Arief Yahya mengapresiasi ketertarikan dari WCA dalam membantu mempromosikan destinasi investasi di sektor pariwisata Indonesia. Menurut dia, hal itu membuktikan Indonesia memiliki potensi tinggi di sektor pariwisata dan membutuhkan banyak sentuhan dalam penataan destinasi, termasuk kehadiran investor yang berperan di dalamnya. “Pariwisata merupakan salah satu leading sector di Indonesia, WCA tidak akan salah membantu Kemenpar dalam pengembangan pariwisata,” kata Menpar.

Dari data BKPM, selama periode 2012-2016 realisasi investasi di sektor pariwisata tumbuh rata-rata 17% per tahun. Jika merujuk pada data realisasi investasi pariwisata pada semester I/2017, nilai realisasi investasi pariwisata mencapai USD929,14 juta atau Rp12,4 Triliun.

Inda susanti