Edisi 13-10-2017
Selalu Berpikir seperti Anak Muda


Jean-Claude Biver dijuluki sebagai sang legenda industri jam Swiss. Tak ada yang bisa me nyangkal hal itu.

Dia sa ngat paham tentang tradisi, teknologi, dan gun cang an da lam industri jam berkelas mewah di dunia. Pengalaman di berbagai industri jam membuat Biver semakin matang. Dia pernah bekerja di Audemars Piguet, Blancpain, dan Omega. Ke mu dian, namanya juga memo pu lerkan Hublot sebagai per usahaan jam yang ber kelas. Kini, dia juga ma sih memimpin TAG Heuer sejak Desember 2014. De ngan be kal pendidikan sebagai seorang ekonom, Biver meng ang - gap jam adalah gairah hidupnya se men - jak kecil.

Dia menganggap jam sebagai mainan yang menyenangkan. Ter nya ta, jam menjadi dunianya yang di ge lutinya. Kini, di usianya 60-an tahun, dia sudah memiliki energi karismatik di dalam pembuatan jam mewah. “Kita mem ba ngun mesin untuk jam tangan,” ujar pria ke lahiran Luk - semburg itu. Sebagai seorang legenda, Biver tentu memiliki pola bekerja yang unik. Se perti apa? “Saya bekerja seperti sapi jantan,” ujarnya, dilansir Watch Advisor. Dia berkeliling dunia untuk mem pro - mosikan dan mengendalikan bis nis nya. Se - lain itu, Biver juga selalu ber pikir seperti anak muda, meski usianya sudah mencapai 68 tahun.

Dia memiliki lima anak, paling tua berusia 38 tahun dan pa ling muda 16 tahun. Diameng akusenangberbicaradengananak muda karena saya selalu dikejutkan dengan banyak hal oleh generasi muda. “Saya tidak mengetahui brand yang dibelinya, jenis musik yang disukainya, dan tato yang dimilikinya,” ucapnya. Karena itulah, Biver meng ung kapkan tak pernah memahami generasi baru. Kenapa hal itu bisa terjadi? Pekerjaannya lebih sering mengurusi pelanggan tua. Tak mengherankan jika Biver juga merekrut anak muda untuk bekerja di TAG Heuer.

Mereka berusia 14 hingga 18 ta hun. “Saya bertanya kepada anak muda itu tentang Gigi dan Bella Hadid? Ba gai mana pendapatmu tentang Lady Gaga?” ujarnya. Dia memberikan produk jam dan me - reka akan memberikan rekomen dasi. “Saya mendengarkan pendapat anak muda. Saya menghargai masa depan,” tuturnya. Di usianya yang senja, Biver meng ang - gap dirinya bukan orang tua. “Saya selalu mengatakan kalau menjadi tua itu ketika kamu berhenti belajar. Ketika kamu ber - henti untuk ingin tahu, ketika kamu mulai berpikir tentang segala sesuatu yang kamu ketahui. Saat itulah kamu tua, kemudian kamu seharusnya pensiun,” ujarnya.

Dia mengungkapkan dirinya masih memiliki rasa keinginan tahuan yang mendalam dan luas. Biver mengakui dirinya masih haus dan lapar untuk terus belajar. Biver memang lahir di Luksemburg. Namun, dia tumbuh besar di Swiss sejak usia 10 tahun karena keluarganya ber - migrasi. Dia pernah kuliah di College des Morges dan meraih gelar sarjana bisnis di Universitas Lausanne. Setelah lulus, dia menghabiskan waktu di Vallée de Joux untuk menyerap budaya pem buatan jam. Di sana, dia bertemu Jacques Piguet yang menjalankan pabrik jam. Kemudian dia bertemu Georges Go lay, Chairman dan CEO Audemars Pi guet (AP).

Biver ditawari pekerjaan se bagai manajer penjualan untuk Ero pa. Di sana, dia belajar tentang seni pem buatan jam. Kemudian, dia men jadi ma najer produk di Omega. Berbagai pres tasi di industri jam, Biver diberi gelar Doctor Honoris Causa dari Bu - si ness School Lausanne pada 2012 atas kon tri businya dalam industri jam Swiss. Selain dikenal sebagai master dalam dunia jam, Biver juga dikenal ahli dalam urusan keju. Setiap tahun, Biver mem - produksi sedikitnya lima ton keju di peternakannya di Pegunungan Alpen Swiss.

Dia memproduksi keju hanya be - berapa pekan setiap musim panas saat bunga padang rumput bermekaran. Biver pun mengklaim keju produksinya memiliki rasa bunga dan susu. Karena kejunya yang eksklusif, Biver menolak menjual keju tersebut. Dia ha nya memberikan keju tersebut kepada teman dan keluarga. Tapi, dia memba gikan keju itu ke restoran yang dipilihnya dan menolak untuk dibayar. “Saya me megang penuh distribusi keju ter se but,” tuturnya, dilansir The Economist.

Andika hendra m