Edisi 13-10-2017
Puisi Kesepian Berbalut Fiksi Ilmiah


BLADE RUNNER 2049 tidak hanya menaikkan berkali-kali lipat derajat visual dari film pertamanya, Blade Runner (1982), tapi juga membuat kisahnya menjadi lebih kompleks dan lebih sendu dari sebelumnya.

Blade Runnerpada masanya memang bukan film laris. Namun, film ini mendapat kehormatan sebagai film yang dikultuskan (cult) oleh komunitas film dunia. Blade Runner 2049tampaknya juga mewarisi “kutukan” tersebut. Tak laris, tapi dipuji para pengulas film dunia, termasuk ditahbiskan sebagai salah satu film sekuel terbaik yang pernah dibuat. Sejak nama Denis Villenueve diketahui melekat sebagai sutradara Blade Runner 2049saja, label terbaik itu memang sesuatu yang bisa ditebak.

Sutradara berdarah Prancis-Kanada ini memang terbukti selalu sukses menyenangkan pencinta film dengan cerita-ceritanya yang penuh emosi, manusiawi, serta didukung visualisasi kuat. Mulai thriller The Prisoners (2013), drama Sicario(2015), hingga fiksi ilmiah Arrival(2016). Menonton Blade Runner 2049, kita sedikit banyak akan teringat pada Arrivalyang punya cerita kokoh, didukung gambar yang cantik nan sendu. Dalam film ini, perasaan sendu akan banyak terlihat dari sosok K (Ryan Gosling). Dia sebenarnya bukan manusia, melainkan polisi android yang ditugaskan untuk “memensiunkan” para replikan.

Replikan adalah android tahap awal yang melakukan pemberontakan, dan mereka harus “dipensiunkan” alias dibunuh. Meski android, K punya perasaan mirip manusia. Dia juga merasa kesepian, butuh teman dan kasih sayang. Jadilah dia membeli semacam hologram perempuan cantik bernama Joi (Ana de Armas). Joi bisa memasak, bisa diajak berbincang, bisa menemaninya ke mana pun, bisa dilihat, tapi tidak bisa disentuh fisiknya. Singkat kata, Joi adalah kekasih virtual K.

Hubungannya dengan Joi pun makin mengasah sifat manusia K. “Kemanusiaan” K makin menjadijadi saat dia mengetahui bahwa ternyata dulu ada replikan yang pernah hamil dan melahirkan anak. K pun ditugaskan untuk mencari dan membunuh anak tersebut. Perjalanan K mencari anak misterius tersebut bukanlah perjalanan yang penuh dengan adegan baku tembak. Alih-alih, ini ibarat perjalanan spiritual bagi K yang juga mempertanyakan diri dan eksistensinya.

Dan di sinilah sang sinematografer peraih 13 kali nomine Oscar, Roger Deakins, menunjukkan kedigdayaannya. Sosok tangguh dan dingin K (dengan wajahnya yang lempeng tanpa ekspresi) namun penuh rasa kesepian, diterjemahkan dengan gambaran settingyang putih dingin penuh salju, kadang-kadang berkabut. Sementara dalam menggambarkan kantor Wallace Company milik Niander Wallace (Jared Leto), konglomerat pembeli perusahaan Tyrell Corporation (perusahaan pembuat android dalam Blade Runner), Deakins memberikan hal lain.

Dia banyak menggunakan interior minimalis modern, dan permainan bayang-bayang air dan sinar kelam, demi menggambarkan kekuatan “hitam” perusahaan ini. Bahkan, Wallace pun dibuat sebagai sosok yang buta untuk menambah kemisteriusan dan kekelaman Wallace Company. Untuk atmosfer kota, Deakins meneruskan roh yang sudah dibuat sinematografer film sebelumnya, Jordan Cronenweth. Yaitu kotanya mirip Beijing yang berkabut, dengan huruf kanji di mana-mana. Yang diganti hanya iklan videotron geisha yang berubah menjadi hologram manusia raksasa berwujud perempuan kaukasia cantik jelita.

Iklan ini pun lebih agresif, terangterangan menawarkan pasangan hidup virtual demi mengatasi rasa kesepian. Semua gambar ini dikonsepi demikian matang, sehingga begitu menakjubkan dan jadi poin paling kuat dalam film ini. Gambar Deakins ibarat puisi beragam emosi yang melengkapi atmosfer cerita. Ditambah nada-nada dari jagoan pembuat latar musik Hans Zimmer, film jadi makin indah.

Akting seluruh pelakon dalam film lantas menggenapi kesempurnaannya. Jadi meski tak mampu mengguncang bioskop dunia, rasanya tak berlebihan jika menyebut Blade Runner 2049adalah film fiksi ilmiah terbaik tahun ini.

Herita endriana