Edisi 13-10-2017
Cegah FA dengan Kampanye Menari


FIBRILASI atrium (FA) terjadi akibat gangguan sinyal listrik pada serambi jantung sehingga bergetar dan tidak berfungsi baik.

Pada keadaan seperti ini, darah terkumpul di atrium dan membentuk bekuan darah yang dapat lepas menuju otak sehingga berakibat stroke. Selain itu, FA berakibat gagal jantung yang menyebabkan cepat lelah, pusing, dan sesak napas. FA merupakan kondisi progresif yang jika tidak diobati dapat memperburuk kondisi kesehatan dan timbul komplikasi. Dr dr Doni Firman SpJP(K) FIHA mengatakan, permasalahan FA merupakan hal yang penting dalam permasalahan kardiovaskular di Indonesia.

“Di Amerika diperkirakan kelainan ini berjumlah 5 juta orang. Di Indonesia, kami belum mempunyai data pasti, tetapi tentu tidak terlepas dari permasalahan FA sendiri. FA dikaitkan dengan komplikasi tromboemboli, misalnya stroke, yang merupakan penyebab kematian tertinggi di Indonesia,” bebernya dalam acara Raba Nadi, Kenali Fiblirasi Atrium (FA), Hindari kelumpuhan! Penderita FA memiliki risiko stroke lima kali lebih tinggi dibanding orang tanpa FA.

Bila penderita FA mengalami stroke, biasanya mengalami keparahan dan disabilitas yang lebih berat dibanding pasien stroke tanpa FA. FA juga berkaitan erat dengan penyakit kardiovaskular lain, seperti hipertensi, gagal jantung, penyakit jantung koroner, hipertiroid, diabetes melitus, obesitas, penyakit jantung bawaan seperti defek septum atrium, kardiomiopati, penyakit ginjal kronis maupun penyakit paru obstruktif kronik (PPOK). “Kami sangat mengharapkan masyarakat dapat turut andil dalam kesuksesan kampanye ini dengan rutin melakukan kegiatan meraba nadi sendiri dan segera konsultasi ke dokter apabila menemukan denyut nadi yang tidak teratur.

Program ini akan disosialisasikan oleh 26 cabang dan 13 komisariat Perki yang tersebar di seluruh Indonesia,” kata Dr dr Ismoyo Sunu SpJP(K) FIHA FasCC, Ketua Perki. Sementara itu, data studi observasional Monica Multinational Monitoring of Trend and Determinant in Cardiovascular Disease pada populasi urban di Jakarta menemukan angka kejadian FA sebesar 0,2% dengan rasio laki-laki dan perempuan 3 : 2. Selain itu, karena terjadi peningkatan signifikan persentase populasi usia lanjut di Indonesia, yaitu 7,74% (pada 2000-2005) menjadi 28,68% (estimasi WHO tahun 2045- 2050), maka angka kejadian FA juga akan meningkat secara signifikan.

Dalam skala yang lebih kecil, hal ini juga tecermin pada data di Rumah Sakit Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita yang menunjukkan bahwa persentase kejadian FA pada pasien selalu meningkat setiap tahunnya, yaitu 7,1% (2010) meningkat menjadi 9,0% (2011), 9,3% (2012), dan 9,8% (2013).

(sri noviarni)