Edisi 13-10-2017
Fibrilasi Atrium Bisa Picu Stroke


FIBRILASI atrium (FA) sering terjadi tanpa disadari, termasuk di Indonesia. Padahal, FA dapat menyebabkan pembekuan darah di jantung yang bila lepas ke sirkulasi sistemik dapat menyebabkan stroke.

Fibrilasi atrium (FA) merupakan kelainan irama jantung berupa detak jantung yang tidak beraturan. “Penderita FA memiliki risiko lima kali lebih tinggi untuk mengalami stroke dibandingkan orang tanpa FA. Kelumpuhan merupakan bentuk kecacatan yang sering dijumpai pada kasus stroke dengan FA,” ungkap Prof Dr dr Yoga Yuniadi SpJP(K) FIHA FasCC, guru besar Ilmu Kardiologi dan Kedokteran Vaskular FKUI, dalam press conference Kampanye Fibrilasi Atrium (FA), Rabu (11/10). Pada 37% pasien FA berusia kurang dari 75 tahun, stroke iskemik merupakan gejala pertama yang didapati. Di Indonesia, banyak insiden kelumpuhan akibat FA yang terjadi pada usia produktif, yaitu di bawah usia 60 tahun.

Pasien yang datang ke rumah sakit biasanya sudah dalam keadaan lumpuh dan setelah diperiksa ternyata disebabkan FA. Salah satunya kelumpuhan dalam berbicara atau sulit berbicara. Sebanyak 40% kelumpuhan sulit berbicara diakibatkan FA. Kelumpuhan yang diderita pasien FA memiliki ciri khusus, seperti memiliki tingkat keparahan yang tinggi, bersifat lama, dan sering berulang (relapse ). “Rata-rata sekitar 50% pasien yang terkena stroke akan mengalami stroke kembali dalam jangka waktu satu tahun,” ucap dr Yoga.

Meraba nadi sendiri merupakan salah satu cara mudah untuk mengenali FA. Jika dilakukan dengan benar dan ternyata ditemukan ada kelainan, masyarakat diimbau untuk segera berkonsultasi ke dokter. Tindakan ini diharapkan dapat menurunkan risiko stroke akibat FA yang sebagian besar mengakibatkan kecacatan atau kelumpuhan.

Upaya pemberdayaan masyarakat tersebut dilakukan dengan berbagai cara, salah satunya dengan mengedukasi masyarakat melalui media massa. Indonesia Heart Rhtyhm Society (InaHRS), Asia Pasific Heart Rhthym Society (APHRS), Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (Perki), Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia cabang Jakarta (Perki Jaya), Rumah Sakit Pusat Jantung Nasional Harapan Kita, dan Departemen Kardiologi dan Kedokteran Vaskuler FKUI bersama-sama berkomitmen untuk meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap FA.

Setidaknya terdapat tiga teknik yang dapat dilakukan sebagai terapi FA, yaitu teknik ablasi kateter, melakukan pemasangan alat LAA Closure, serta pemakaian obat antikoagulan oral baru (OKB). Terapi ini berperan besar dalam menurunkan risiko serangan stroke karena FA yang berakibat kelumpuhan. Di Indonesia, sudah ada 26 praktisi yang dapat menggunakan alat ablasi kateter. Walaupun SDM yang mampu menggunakan alat ini sudah cukup banyak, sayangnya jumlah dan distribusi alat tidak merata.

Permasalahan lainnya, sampai saat ini terapi OKB belum masuk layanan BPJS kesehatan, padahal terapi OKB merupakan lompatan besar dalam terapi FA. Selain lebih efektif, OKB dapat mengatasi permasalahan risiko perdarahan, reaksi silang antarobat dan lainnya. Maka itu, dukungan semua pihak, baik pemerintah maupun swasta, sangat diharapkan dalam mengatasi FA di Indonesia. Sementara itu, dr Agung Fabian Chandranegara SpJP(K), Ketua II Panitia Kampanye FA 2017, mengatakan, Atrial Fibrillation Campaign (AFC) adalah acara internasional yang diselenggarakan dalam rangka meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya deteksi FA.

Karena itu, penting sekali sosialisasi pengetahuan mengenai promosi kesehatan jantung dan deteksi dini FA kepada masyarakat dalam rangka mencapai tujuan menurunkan mortalitas akibat penyakit kardiovaskular. “Adapun bentuk konkret kegiatan tersebut haruslah menarik dan dapat dengan mudah dipahami awam sehingga maksud dan tujuan kegiatan ini dapat tercapai dengan baik,” ungkap dr Agung.

Kampanye FA sebenarnya telah dilakukan juga pada tahun lalu dan akan dilaksanakan setiap tahunnya sepanjang September. Pada kampanye FA tahun ini, terdapat hal yang berbeda dan menarik karena peringatan kampanye FA akan dibarengi peringatan Hari Jantung Sedunia yang jatuh pada 29 September.

Sri noviarni