Edisi 13-10-2017
WN Singapura Sodomi 3 Bocah


BATAM KOTA – Perilaku Mohammad Asri alias Abah, 46, warga negara Singapura yang menyodomi bocah di bawah umur membuatnya harus berurusan dengan polisi.

Dia terancam hukuman 15 tahun penjara. Kapolresta Barelang Kombes Pol Hengki menyatakan, setidaknya ada tiga bocah yang menjadi keganasan perilaku seks menyimpang Asri. “Kami masih kembangkan.

Apakah masih ada korban lainnya atau tidak, silakan melapor jika ada yang merasa menjadi korban,” kata Hengki saat ekspos perkara di Mapolresta Barelang, Kamis (12/10). Berdasarkan pengakuan tersangka, dia telah melakukan perbuatan bejat tersebut sejak 2015.

Namun, dari pengakuan tersangka kepada penyidik, hanya tiga bocah yang menjadi nafsu sesatnya. Hengki menjelaskan, ada dua TKP yang menjadi tempat tersangka melepaskan hasrat seksualnya terhadap tiga korban.

TKP pertama yaitu di rumah pelaku di kawasan Telagapunggur, Nongsa dan pinggir jalan kawasan Mega Legenda. Korban pertama adalah FS, 16. Remaja ini disodomi Abah sebanyak dua kali pada 2015 dan 2016.

“Aksi itu dia lakukan di rumah kontrakan lamanya, di kawasan Telaga punggur juga,” ujar Hengki. Lalu ada BG, 15, yang juga disodominya sebanyak dua kali pada 2016, tepatnya pada Agustus. Perbuatan itu dilakukan Abah di rumahnya yang terakhir dan pinggir jalan kawasan Mega Legenda.

Korban terakhir adalah BY, 12. Bocah ini menjadi korban kejahatan seksualnya sebanyak lima kali. “Dari laporan orang tua korban inilah kemudian tersangka ditangkap,” ungkap Hengki.

Terbongkarnya aksi bejat Abah bermula dari pesan messenger antara tersangka dan korban. Saat itu korban BY menggunakan telepon genggam milik ibunya. Aktivitas chat antara korban dan tersangka seputar meminta uang dan ajakan berhubungan badan.

“Dari situlah terbongkar, karena korban lupa menghapus chat dia dengan tersangka,” ujar Hengki. Pelaku kini dijebloskan ke sel tahanan Mapolresta Barelang. Dia dijerat dengan pasal berlapis yakni Pasal 82 ayat 1 UU No 35/2014 tentang Perlindungan Anak juncto pasal 292 KUHP tentang kejahatan kesusilaan.

Abah mengaku mengimingimingi para korban dengan sejumlah uang dan dijanjikan akan disekolahkan. “Saya kasih Rp10.000-Rp25.000,” ujar pria yang selama di Batam bekerja lepas sebagai pemandu wisata.

Dia membantah, selama tinggal di Batam sejak 2005 tidak memiliki izin tinggal. Menurutnya, baru sejak 2014 hingga sekarang tak pernah lagi mengurus perpanjangan paspor dan izin tinggal di Batam.

mohammad ilham