Edisi 16-10-2017
Penderita Asma di Indonesia Masih Tinggi


DATA Badan Kesehatan Dunia (WHO) 2014 menyebutkan asma adalah penyebab kematian ke-13 di Indonesia.

Namun, banyak orang tidak menyadari dirinya menyandang asma maupun penyakit paru obstruktif kronis( PPOK ) , yang sekaligus penyebab keterlambatan diagnosa dan tata laksananya. Secara global, Indonesia berada di peringkat ke-20 untuk kematian terkait asma. Sekitar satu dari 22 orang menderita asma (Riskesdas, 2013). Namun, hanya 54% yang didiagnosis dengan hanya 30% kasus terkontrol dengan baik (Penelitian Pasar Asma di Indonesia, 2015).

Adanya fakta banyak orang tidak menyadari bahwa dia sudah menyandang asma dan PPOK merupakan salah satu penyebab keterlambatan diagnosa dan tata laksananya. Hal ini menyebabkan tingginya angka rujukan dan pengobatan di fasilitas pelayanan kesehatan. “Beberapa penanganan penyakit tidak menular (PTM) telah dilakukan oleh Kemenkes, namun tentunya upaya ini akan semakin efektif dengan dukungan pihak swasta dan lapisan masyarakat lainnya,” sebut dr Lily S Sulistyowati MM, Direktur Pencegahan dan Pengendalian PTM, Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Kemenkes RI, dalam konferensi pers penandatanganan kerja sama dan peluncuran program Healthy Lung , sekaligus kunjungan ke Pusat Inhalasi yang diadakan AstraZeneca.

Asma adalah kondisi kronis umum yang memengaruhi saluran udara di paru-paru di mana terdapat peradangan dan penyempitan saluran udara yang dapat menyebabkan suara mengi, sesak napas, sesak dada dan batuk. Adapun penyakit paru obstruktif kronis (PPOK) adalah penyakit progresif dan kronis yang meliputi sejumlah gejala pada paru-paru. Dikatakan Joris Silon, AVP Asia Area AstraZeneca, penyakit pernapasan seperti asma, PPOK, dan kanker paruparu meningkat pesat di seluruh Asia dan khususnya di Indonesia. Hal tersebut menjadi tantangan tersendiri untuk kebanyakan sistem perawatan kesehatan, yang secara historis berfokus pada perawatan akut dan jangka pendek.

“Mengobati penyakit pernapasan secara efektif memerlukan penanganan panjang dan fokus dalam penanganan seumur hidup secara potensial,” beber Joris. PT AstraZeneca Indonesia menggagas program Healthy Lung . Program ini merupakan program kesehatan terkait penanganan penyakit paru, yang ditujukan untuk para tenaga kesehatan di Indonesia guna memastikan bahwa pasien penyakit pernapasan mendapatkan perawatan yang mereka butuhkan. “Kami berharap program Healthy Lung akan membantu meningkatkan kapabilitas tenaga kesehatan di Indonesia dalam penanganan penyakit paru. Karena ini merupakan aspirasi yang sejalan dengan strategi kesehatan nasional kami,” ujar dr Eni Gustina MPH PLT Direktur Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat, Kemenkes RI.

Program ini akan menjadi dukungan penting bagi pembangunan pelayanan kesehatan di Indonesia. PPOK adalah penyebab kematian ke-6 di Indonesia. Perkiraan jumlah kelas PPOK A & B sekitar 60% dan C & D sekitar 40% (data di seluruh dunia). Dengan 10%-19% sebagai pasien akut. Di antara negaranegara Asia, Indonesia berada di peringkat 5 untuk kematian karena asma, dan 13 di seluruh dunia. Sementara, prevalensi asma (11,8 juta pasien). Hanya 29% dari populasi penderita dewasa penyakit asma yang dirawat, sisanya tidak terawat atau terawat sebagian.

Sementara itu, hanya 11% pasien PPOK yang mencari pengobatan, sisanya mengabaikan gejala dan memakai obat yang dijual bebas (OTC). Untuk mengatasi kebutuhan akan diagnosa dini dalam penanggulangan penyakit yang lebih baik, AstraZeneca turut membantu dalam pengembangan Pusat Inhalasi di lebih dari 300 puskesmas dan RSUD di Jakarta guna menyediakan akses yang lebih baik kepada pasien.

Cakupan tersebut akan diperluas hingga mencakup 4.000 puskesmas dengan rawat inap di seluruh Indonesia dari tahun 2018 hingga tahun 2020. Saat ini sudah berhasil dikembangkan 126 Pusat Inhalasi yang tersedia di seluruh Indonesia.

Sri noviarni