Edisi 14-11-2017
Kekerasan di Masyarakat Kian Memprihatinkan


TANGERANG –Kekerasan di masyarakat ki an memprihatinkan. Hal ini terlihat dari fenomena yang terjadi belakangan. Kasus terakhir menimpa pasangan Rian, 28, dan Mia Au lina, 20.

Keduanya dituding mesum dan ditelanjangi warga, ke mu dian diarak kerumah ketua RT/RW, dan dianiaya secara brutal. Tidak berhenti di situ. Aksi main hakim te sebut bahkan di vi deokan atas perintah pe rang kat desa, dan disebar ke semua jejaring sosial hingga viral, dan men ja di buah mu lut warga Tangerang.

Kasus kekerasan tersebut se olah menggenapi rangkaian kasus kekerasan yang terjadi di ka wasan Jabodetabek dalam pekan yang sama. Di antara kasus dimaksud ada lah pembunuhan yang di la ku kan Novi Wan ti, 25, terhadap anak nya, Greinal Wijaya, yang masih berusia lima tahun gara-gara sering mengompol.

Pada ha ri yang sama, juga ter jadi pem b unuhan yang dilakukan adik berinisial RA terhadap kakak kandung, Randi Syah putra yang dipicu persoalan sepele. Sebelumnya, kasus kekerasan yang juga menyita perhatian publik dilakukan seorang dokter. Ryan Helmi, begitu nama dok ter tersebut, tega menembak istrinya, Letty Sultri.

Ryan ka lap dan menghabisi istri yang ju ga berprofesi sebagai dokter aki bat dituntut cerai. Rangkaian kekerasan ter sebut mengindikasikan masyarakat saat ini sangat reaktif. Hal ini me nandakan masyarakat sedang frustrasi. Di sisi lain, kekerasan juga bisa terjadi akibat ketidakpercayaan masyarakat kepada aparat penegak hukum sehingga mereka mengedepankan pengadilan publik.

Pandangan ini disampaikan ps i kolog Universitas Pancasila Aully Grashinta. Dia menuturkan, akibat reaktif maka munculnya stimulus kecil bisa menjadi pemicu terjadinya hal yang be r ujung pada tindakan yang me rugikan. ”Hal itu dipicu dari kurangnya daya kritis untuk menggali lebih dalam dan mendudukkan masalah pada tempatnya sehingga penyelesaian ma salahnya lebih mengedepankan faktor emosi daripada ra sional,” ujar dia.

Dalam pandangannya, apa yang terjadi di masyarakat tersebut sebagai ciri masyarakat yang frustrasi. Mereka tidak mempunyai kemampuan un tuk ber sikap tenang dan me ne laah masalah secara runut dan menggunakan logika. Sebalik nya, dorongan untuk menjadi agre sif dan me nyelesaikan masalah secara agresif menjadi kuat.

”Ada juga faktor keti da kpercayaan terhadap hukum. Masyarakat belajar bahwa pe ne gaka n hu kum yang dilakukan oleh pihak berwenang malah ti dak mem bawa efek jera bagi pelaku. Apa rat hukum dinilai lam bat, bertele-tele bahkan perlu uang, se hingga pengadilan ma sya rakat lebih dikedepankan,” tegasnya.

Kemajuan teknologi, lanjut dia, juga menjadi pemicu terjadinya fenomena penghakiman oleh masyarakat, karena teknologi sebenarnya membuat kita men jadi lebih ”cepat”. Kita terbiasa menerima informasi dengan cepat, mencari informasi de ngan cepat, menyesuaikan di ri dengan cepat juga pada perubahan.

Hal ini membuat kita tidak terbiasa untuk menjadi sabar dan perlahan. ”Kasus main hakim sendiri sebenarnya sudah lama terjadi, ha nya sekarang didorong juga oleh teknologi. Pada banyak orang, perubahan teknologi tidak dibarengi dengan peningkatan kemampuan berpikir atau pendidikan.

Hasilnya, ya tidak kritis dalam menerima informasi, semua ditelan mentah-mentah,” jelas dia. Adapun Rektor Ibnu Chouldun, Musni Umar, menilai peng arakan yang dilakukan oleh masyarakat terhadap sepasang sejoli di Tangerang membuktikan masyarakat tidak percaya hukum. Karena itu, mereka me milih melakukan hukuman so sial.

”Karena masyarakat menganggap tidak ada gunanya bila diserahkan kepada aparat se bab tidak akan selesai secara hu kum sebagaimana yang diinginkan masyarakat,” tutur Mus ni menanggapi pasangan me sum saat dihubungi KORAN SINDO kemarin.

Ketua RT dan RW Jadi Tersangka

Kapolresta Tangerang AKBP M Sabilul Alif pun langsung bertindak cepat, dengan mendatangi lokasi kontrakan pasang an muda itu dan melakukan penyelidikan atas sikap warga yang main hakim sendiri. Dia memastikan tidak ada mesum seperti di tuduhkan warga. ”Ti dak terjadi mesum, karena me mang orang ini sudah dij odoh kan dan me reka memang mau me nikah.

Jadi, saat itu mereka se dang pacaran,” kata Sabilul ke pa da KORAN SINDO kemarin. Berdasarkan penelusuran po lisi, peristiwa bermula saat Rian dan Mia sedang pacaran di ru mah kontrakan Mia, Kampung Kadu RT 07/03, Ke lu rah an Sukamulya, Cikupa, Ka bu pa ten Ta ngerang.

”Awalnya Mia min ta di b elikan makanan. Ke mu dian, Rian pergi keluar beli ma k anan dan mereka makan. La lu Rian ke ka mar mandi, tapi pin tunya tidak ditutup dan se pa ruhnya ma sih terbuka,” ungkapnya. Saat Rian sedang di kamar man di itulah, rombongan warga langsung merangsek masuk me lakukan penggerebekan.

Mereka langsung membawa Mia dan Rian yang berada didalam kamar untuk keluar. Sambil te riak pasangan mesum, kedua pa sangan muda ini diseret dari da lam rumah kontrakannya. Mereka lalu membuka paksa celana yang dipakai Mia, hingga tertinggal celana dalamnya.

Tidak hanya itu, warga ju ga mem bu ka paksa baju yang di pakai Mia, hing ga buah dadanya ter li hat dan ke mudian diarak sambil jalan. Warga juga men jambak ram but Mia hingga menjerit kesakitan. Selain menganiaya Mia, warga yang sudah tersulut emosi sam bil teriak menuding pasangan mesum itu juga me nelan jangi Rian.

Mereka membuka baju dan celana Rian, hingga celana dalamnya saja. Secara brutal, warga memukuli Rian. Di tengah arak-arakan warga itu, pasangan muda yang akan me nikah ini juga dipaksa warga un tuk mesum dan mem peragakan adegan berbuat intim didepan mereka.

”Dalam perjalanan arakarak an itu, semua warga yang me lihat diminta memfoto dan mem videokan kedua pasangan yang telanjang ini. Katanya, silakan upload (kemedia sosial),” sam bung Sabilul lagi. Kasat Reskrim Polresta Tangerang Kompol Wiwin Setiawan mengatakan, sejak video itu menjadi viral, pihaknya langsung melakukan cek lokasi dan me nangkap para warga tersebut.

Saat ini sudah empat warga yang berhasil ditangkap petugas. Mereka terdiri atas orang yang melakukan penganiayaan ser ta ketua RT dan RW sekitar. Me reka ditangkap karena meng aniaya warganya. ”Polresta Tangerang akan mem proses hukum para pelaku peng aniayaan dan pengeroyokan,sesuai Pasal 170 KUHP dan atau 335 KUHP, sehingga korban menderita luka-luka,” sambung Wiwin.

Di antara pelaku yang ditangkap berinisial G, 41, T, 44, dan A, 37. Sementara pelaku yang merekam korban ser ta menyebarkannya kemedia sosial hingga menjadi viral masih proses pengejaran. ”Tidak boleh main hakim sendiri. Harusnya kejadian seperti itu di laporkan ke pada kepala desa atau kepolisian untuk ditindak lanjuti.

Saat ini kedua pe laku ma sih dimintai keterangan,” tambahnya. Korban juga didorong untuk me lakukan visum et repertum gu na penyidikan lebih lanjut. Agar trauma yang dialami para kor b an tidak bertambah dalam, polisi juga menyiapkan tim psikiater untuk korban. ”Pasca peristiwa itu, kondisi kejiwaan kor ban mengalami guncangan, ka rena tindakan main hakim sen diri oleh warga itu direkam.

Tim psikologi dan psikiater su dah kami siapkan,” jelasnya. Saat ini pihaknya masih men dalami motif warga melaku kan penggerebekan dan melempar fitnah kepada pasangan mu da yang akan menikah ter sebut. Diduga ada motif lain yang men dalangi aksi tersebut.

”Kami menduga ketua RT dan RW pu nya motif lain. Apakah karena tidak suka dengan pemilik kon trakan itu, yaitu Bapak Helmi? Atau kepada korban yang akan menikah. Masih didalami,” tukasnya.

yan yusuf/ ratna purnama


Berita Lainnya...