Edisi 14-11-2017
Gempa Guncang Iran-Irak, 342 Tewas


BAGHDAD – Gempa bumi berkekuatan 7,3 Skala Richter mengguncang Iran dan Irak. Korban meninggal lebih banyak berjatuhan di Iran yang mencapai sedikitnya 336 orang, sedangkan di Irak hanya sekitar enam orang.

Para petugas penyelamat kini sedang mencari para korban yang masih terjebak di bawah puing-puing reruntuhan. Stasiun televisi pemerintah Iran melaporkan lebih dari 336 orang tewas dan sedikitnya 3.950 warga terluka. Jumlah korban tersebut diperkirakan akan terus meningkat.

Pasalnya, banyak wilayah terdampak gempa yang belum bisa dijangkau oleh tim penyelamat. Gempa bumi itu dirasakan di beberapa provinsi barat Iran. Wilayah yang paling parah dilanda gempa adalah Kermashah di mana pemerintah lokal sudah mengumumkan duka selama tiga hari.

Sebanyak 236 korban ditemukan di wilayah Sarpol-e Zahad di Provinsi Kermanshah, yang berjarak 15 km dari perbatasan Irak. Televisi Iran tersebut juga menyatakan gempa itu menyebabkan kerusakan parah di beberapa desa di mana sebagian rumahnya terbuat dari bata.

Sebanyak 14 provinsi di Iran terkena dampak akibat gempa tersebut. “Seluruh lembaga pemerintah harus bergerak untuk membantu warga yang terkena dampak,” kata Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, dilansir Reuters . Dia juga kemarin menyampaikan duka untuk korban meninggal.

Badan Survei Geologi Amerika Serikat (USGS) mengungkapkan, gempa di perbatasan Iran dan Irak itu mencapai 7,3 SR. Titik pusat gempa itu terletak di Penjwin, Provinsi Sulaimaniyah, wilayah Kurdi di Irak. Wilayah tersebut terletak di perbatasan dengan Iran.

Namun, jumlah korban di wilayah Irak justru lebih sedikit. Para petugas kesehatan Kurdi mengungkapkan sedikitnya enam orang tewas di Irak dan sedikitnya 68 warga terluka. Para petugas lokal dan kesehatan Irak mengungkapkan wilayah yang paling terkena dampak paling parah adalah Darbandikham.

Di sana, 10 rumah hancur. Gempa tersebut juga dirasakan penduduk Baghdad. Banyak penduduk Baghdad berhamburan ke luar rumah ketika merasakan guncangan dahsyat. “Saya sedang duduk bersama anak-anak saat makan malam. Tiba-tiba rumah berguncang,” kata penduduk Baghdad, Majida Ameer.

Dia langsung berlari ke luar rumah bersama tiga anaknya. “Saya pikir ada bom besar, tapi saya mendengarkan banyak orang berteriak gempa,” imbuhnya. Akibat gempa bumi, aliran listrik terputus di beberapa kota di Iran dan Irak.

Banyak warga yang memilih tidur di jalanan dan taman karena khawatir terjadi gempa susulan, padahal cuaca sangat dingin di kawasan tersebut. Pusat Gempa Iran menyatakan 118 gempa susulan terjadi. Kepala Bulan Sabit Merah Iran mengatakan 70.000 orang membutuhkan tempat perlindungan sementara.

Hojjat Gharibian merupakan salah satu dari ratusan ribu korban selamat harus melawan dingin karena tidak memiliki selimut. “Dua anak saya tidur ketika rumah mulai berguncang karena gempa. Saya membawa mereka dan berlari ke jalanan. Kita berada di jalanan hingga pekerja kemanusiaan memindahkan kita ke sekolah,” kata Gharibian.

Petugas Kepolisian Iran, pasukan elite Garda Revolusi, dan milisi Basij diterjunkan ke wilayah bencana. “Beberapa jalanan masih tertutup. Kita khawatir dengan banyak korban di wilayah pedalaman,” ungkap Menteri Dalam Negeri Iran Abdolreza Rahmani Fazli.

Di Irak, wilayah paling parah terkena dampak gempa adalah Kota Darbandikham, sekitar 75 km timur Kota Sulaimaniyah di kawasan Kurdi. “Lebih dari 30 orang terluka di kota tersebut,” kata Menteri Kesehatan Kurdi Rekawt Hama Rasheed. Dia menjelaskan situasi sangat kritis.

Menurut Rasheed, rumah sakit utama di distrik tersebut mengalami kerusakan dan tidak mendapatkan aliran listrik. Dengan begitu, korban luka dibawa ke Sulaimaniyah untuk mendapatkan perawatan intensif. “Banyak rumah dan bangunan yang mengalami kerusakan besar,” paparnya.

Di wilayah Diyarbakir, Turki, penduduk lokal juga merasakan guncangan gempa. Namun, tidak ada laporan korban luka dan kerusakan rumah di sana. Kepala Bulan Sabit Merah Turki Kerem Kinik mengungkapkan kepada NTV bahwa timnya sedang berada di Erbil dan siap menuju lokasi gempa di Irak.

“Kita mengumpulkan 3.000 tenda, 10.000 tempat tidur, dan selimut untuk dibawa ke perbatasan Irak,” kata Kinik. Dia juga mengungkapkan pihaknya berkoordinasi dengan Bulan Sabit Irak dan Iran.

Wilayah perbatasan Iran dan Irak merupakan kawasan seismik yang sangat rawan gempa. Pada 2004 lalu, gempa berkekuatan 6,5 SR meratakan kota bersejarah Bam di Iran tenggara dan mengakibatkan 26.000 orang tewas.

Tak Ada Korban WNI

Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI menuturkan, berdasarkan informasi yang mereka dapat dari Kedutaan Besar Indonesia (KBRI) di Iran dan KBRI di Irak, tidak ditemukan adanya warga negara Indonesia (WNI) yang menjadi korban dalam gempa tersebut.

“Sejauh ini tidak ada laporan mengenai WNI yang menjadi korban. Konsentrasi WNI terdekat adalah di Sulaimaniyah, wilayah Otonomi Kurdistan, Irak, sekitar 100 km dari lokasi utama gempa di Halabja. Sebagian besar bekerja sebagai TKI penata laksana rumah tangga dan sekitar 11 orang bekerja tenaga paramedis,” kata Kemlu dalam siaran pers kemarin.

KBRI Baghdad dan KBRI Teheran terus memantau perkembangan dan berkoordinasi dengan otoritas setempat serta simpul-simpul WNI di sekitar lokasi kejadian. Berdasarkan data Kemlu, jumlah WNI di Iran sekitar 295 dan di Irak sekitar 700, sebagian besar di wilayah Otonomi Kurdistan.

andika hendra m/ Sindonews

Berita Lainnya...