Edisi 14-11-2017
Houthi Ancam Serang Kapal Perang dan Kapal Tanker Minyak


DUBAI – Gerakan Houthi mengancam menyerang kapal perang dan kapal tanker dari negara-negara musuh sebagai pembalasan atas penutupan pelabuhan Yaman oleh koalisi militer pimpinan Arab Saudi.

Saudi menuding Houthi menembakkan rudal balistik ke Bandara Riyadh pada 4 November lalu. Dua hari kemudian, koalisi Arab Saudi menutup akses ke pelabuhan Yaman dengan alasan menghentikan pengiriman senjata ke Houthi. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyatakan penutupan pelabuhan itu bisa mengakibatkan kelaparan di Yaman dan menewaskan jutaan warga sipil.

“Kapal perang dan kapal tanker minyak mereka tidak akan aman dari tembakan pasukan angkatan laut Yaman, jika mereka diperintahkan oleh pemimpin senior untuk menyerang,” ungkap kantor media Houthi, Al Masirah, di lamanya mengutip pernyataan seorang komandan militer.

Yaman terletak di samping sisi setelan Laut Merah, salah satu rute perdagangan paling penting di dunia untuk kapal tanker yang melintas dekat pantai Yaman saat dari Timur Tengah melalui Terusan Suez ke Eropa.

Houthi merupakan pejuang dari minoritas Zaidi Syiah di Yaman dan beraliansi dengan mantan Presiden Yaman Ali Abdullah Saleh. Kelompok itu mengontrol sebagian besar wilayah Yaman termasuk ibu kota Sanaa. Aliansi militer pimpinan Arab Saudi bertempur mendukung pemerintahan Presiden Yaman Abd-Rabbu Mansour Hadi yang berbasis di Aden.

“Keputusan mengancam kapal- kapal koalisi diambil setelah rapat pejabat angkatan laut yang membahas kemungkinan respons atas penutupan pelabuhan Yaman,” kata laporan Al Masirah dikutip kantor berita Reuters.

Pada September lalu, Pemimpin Houthi Abdel-Malek al-Houthi menyatakan, kelompoknya dapat menargetkan kapal tanker minyak Arab Saudi jika pasukan koalisi menyerang pelabuhan utama Yaman di Hodeidah.

Kepala komite revolusioner tertinggi Houthi, Mohammed Ali al-Houthi, menulis di halaman Facebook bahwa Houthi akan menargetkan instalasi minyak di Arab Saudi dengan rudal jika koalisi menyerang Hodeidah.

Houthi pernah melancarkan ancaman semacam itu terhadap Arab Saudi dan mitra koalisi utamanya, Uni Emirat Arab (UEA). Meski demikian, mereka tidak pernah menunjukkan kemampuan menyerang target-target yang disebutkan itu.

Serangan rudal yang bisa dicegat Saudi pada 4 November lalu memanaskan ketegangan antara Arab Saudi dan Iran. Riyadh menuding Teheran menyuplai rudal ke Houthi. Iran menyangkal tuduhan menyuplai senjata ke Houthi. Teheran menegaskan serangan rudal itu merupakan reaksi atas agresi Saudi.

Koalisi pimpinan Arab Saudi menyatakan pekerja dan suplai bantuan bisa masuk ke Yaman meski ada penutupan pelabuhan. Meski demikian, sejumlah badan bantuan menyatakan mereka tidak bisa masuk ke Yaman. Lembaga bantuan memperingatkan Yaman akan mengalami kelaparan dan bencana kesehatan jika bantuan tidak dapat masuk ke negara itu.

syarifudin


Berita Lainnya...