Edisi 14-11-2017
Nasabah Tuntut Transparansi Dana Sitaan


DEPOK - Massa nasabah KSP Pandawa kembali mendatangi Kejaksaan Negeri (Kejari) Kota Depok kemarin. Mereka menuntut pihak kejaksaan transparan mengungkap aset aliran dana Pandawa yang disita.

Pengacara mantan nasabah KSP Pandawa Deny AK meminta kejaksaan menjelaskan aliran aset Pandawa. Berdasarkan data Polda Metro Jaya, total aset Pandawa mencapai Rp1,3 triliun, namun didapatkan data aset tersebut kini menjadi Rp3,3 miliar.

Hal itulah yang menjadi pertanyaan nasabah Pandawa. “Masa di kejaksaan cuma Rp3,3 miliar yang disita. Kalau total aset, saya mengacu Polda Metro Jaya yang menyebut angka Rp1,3 triliun,” ujar dia kemarin. Selain aset dalam bentuk uang terdapat pula aset lain yang dipertanyakan antara lain puluhan mobil dan sepeda motor.

“Surat-surat tanah juga, saya menduga itu yang nilainya kecil. Kami ingin jaksa sebutkan berapa jumlah keseluruhan aset yang disita secara terbuka,” kata dia. Deny juga mempertanyakan laporan awal tindak kejahatan bos Pandawa Salman Nuryanto. Laporan ke kepolisian adalah tindak pidana pencucian uang (TPPU).

“Awalnya TPPU tibatiba sampai di sini (kejaksaan) hilang. Nuryanto tidak didakwa dengan UU TPPU. Meski hukuman UU Perbankan tinggi, TPPU kan bisa maksimal,” ucap dia. Tidak hanya itu, pengacara dan nasabah Pandawa juga mencoba mengklarifikasi Kepala Kejari Depok Sufari terkait rumor ada pertemuan dengan salah satu pengacara di sebuah hotel pada Februari dan Maret lalu.

“Itu kan tidak boleh dan pelanggaran. Kalau dibilang silaturahmi, ya harusnya katakan jangan sampai menjadi rumor,” kata Deny. Jaksa penuntut umum (JPU) Fauzi mengatakan, terkait aset dan lain-lain secara lengkap telah disampaikan di persidangan. “Sidang Pandawa memasuki tahap tuntutan dan dibacakan secara terbuka.

Siapa pun boleh mendengar misalnya berapa tuntutannya, asetnya berapa,” ujar Fauzi di hadapan massa nasabah Pandawa. Ketika ditanya isi tuntutan, dia mengungkapkan hal tersebut bersifat rahasia. “Yang boleh tahu hanya jaksa yang bersangkutan dan pimpinan. Kami sendiri juga enggak tahu,” ungkap dia.

Mendengar itu, massa mulai ricuh dan mendesak kepala Kejari Depok berhadapan langsung menemui massa. “Mana nih kajari jangan-jangan dia lagi ngumpet sekarang,” kata seorang nasabah Pandawa.

r ratna purnama

Berita Lainnya...