Edisi 14-11-2017
ASEAN Abaikan Rohingya


MANILA–Para pemimpin negara-negara Asia Tenggara mengabaikan peng ungsi an massal warga etnik Rohingya dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN di Manila, Filipina.

Mereka lebih fokus pada penanganan Laut China Selatan karena semua pihak diminta me ngutamakan mereka. Namun, mereka tetap tidak akan mengambil jeda untuk isu Laut China Selatan yang melibatkan beberapa negara ASEAN. Dalam draf kesepakatan setelah pertemuan para pemimpin ASEAN tidak menyebutkan nama “Rohingya”.

Padahal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyebut pengungsian massal Rohingya disebut sebagai “pembersihan etnik”. Dalam kesimpulan KTT ASEAN tidak menyebutkan kata “Rohingya”. Tapi, para pemimpin ASEAN itu hanya membahas pentingnya bantuan kemanusiaan untuk “komunitas terdampak” di Negara Bagian Rakhine.

Pembahasan pernyataan bersama itu dipimpin Filipina yang menjadi Ketua ASEAN. Namun, Myanmar pasti turut andil dalam penyusunan hasil KTT ASEAN tersebut. Tidak adanya penggunaan istilah Rohingya menjadi permintaan pemimpin Myanmar Aung San Suu Kyi. Dia telah meminta para pemimpin ASEAN menghindari penggunaan kata tersebut.

Pasalnya, Pemerintah Myanmar menganggap Rohingya sebagai imigran ilegal dari Bangladesh dan tidak menganggapnya. Padahal se banyak lebih 600.000 pengungsi Rohingya kini tinggal di kamp di Bangladesh sejak militer Myanmar melaksanakan ope rasi pembersihan etnik pada 25 Agustus silam. Ketegangan Rohingya menjadi perhatian du nia karena Suu Kyi yang pernah meraih Nobel Perdamaian pada 1991 dinilai hanya diam.

Beberapa negara ASEAN, khususnya mayoritas Muslim, seperti Malaysia, Indonesia, dan Brunei, mengungkapkan perhatian serius tentang Ro hingya. Namun, ASEAN tetap menjaga prinsip untuk tidak in tervensi. Dengan begitu, ASEAN mengabaikan isu Rohingya.

“Myanmar telah melak sanakan pembersihan etnik sehingga 600.000 warga Rohingya mengungsi hanya dalam waktu dua bulan,” ungkap Di rektur Eksekutif Human Rights Watch (HRW) Kenneth Roth. “Saat ini adalah waktunya bagi ASEAN mengatasi pendekatan tidak berbuat apa pun terhadap kekejaman yang dilakukan negara anggotanya,” papar Roth.

Kemudian dalam isu Laut China Selatan, mereka sepakat tidak akan memberikan jeda. Meskipun situasi relatif tenang, ASEAN tidak akan mengambil kemajuan. “Tugas kita bersama menghindari kesalahhitungan yang bisa memicu ketegangan,” demikian bunyi draf kesepakatan KTT ASEAN. China mengklaim seluruh wi layah Laut China Selatan.

Padahal Taiwan dan empat negara ASEAN, seperti Malaysia, Vietnam, Filipina, dan Brunei, juga mengklaim sebagian wilayah Laut China Selatan. Namun, dalam draf kesepakatan KTT ASEAN menunjukkan para pemimpin ASEAN akan bekerja sama memelihara perdamaian, stabilitas, kebebasan navigasi, dan penerbangan di atas Laut China Selatan sesuai dengan hukum internasional.

Jokowi: ASEAN Harus Bersatu

Presiden Republik Indonesia Joko Widodo (Jokowi) mengatakan, ASEAN telah berdiri selama 50 dan telah mampu menciptakan ekosistem stabilitas, perdamaian, dan kese jahteraan di Asia Tenggara. “Namun, kita tidak boleh puas dengan capaian ini. Tantangan kita kedepan tetap sangatlah berat,” kata Presiden Jokowi.

Oleh karena itu, ASEAN harus kuat, bersatu, dan mampu menjaga sentralitas. “Kita harus mampu menjadikan ASEAN sebuah asosiasi yang tidak saja dihormati masyarakatnya namun juga dihormati dunia,” tutur Presiden Jokowi. Jika ASEAN ini maju lebih cepat dan relevan dengan perkembangan dunia, maka diperlukan collective leadership yang kuat dan tanggung jawab tinggi.

“Kita dapat merespons perkembangan dengan cepat,” ujar Presiden Jokowi. “Mari bersama kita jadikan ASEAN sebuah asosiasi yang kokoh dan bermanfaat bagi rakyatnya dan bermanfaat bagi dunia,” ujar Presiden. Kemudian Presiden Jokowi menyampaikan harapan agar kemitraan strategis ASEAN dan Amerika Serikat (AS) bisa lebih memberikan kon tribusi bagi perdamaian dan kesejahteraan dunia.

Harapan tersebut disampaikan Presiden Jokowi saat meng hadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Peringatan 40 Tahun Ker ja Sama Kemitraan ASEANAS yang dilaksanakan di Philippine International Convention Center (PICC) di Manila, Filipina, kemarin.

Menurut Jokowi, kontribusi tersebut sangat diperlukan mengingat kemitraan strategis ASEAN dan AS meliputi sejumlah bidang mulai dari politik, keamanan, hingga perekonomian. “Bagi ASEAN, Amerika Serikat merupakan salah satu mitra penting kita.

Saya yakin Ame rika Serikat juga memandang penting ASEAN, baik dengan alasan politik, keamanan, maupun dalam kaitan dengan kerja sama ekonomi,” ujar Presiden Jokowi. Lebih lanjut Presiden Jo kowi berpendapat, kawasan ASEAN juga memiliki sejumlah kelebihan dibandingkan de ngan kawasan lain.

Jokowi mengatakan, ASEAN bisa menjadi mitra strategis AS karena berbagai kelebihan yang dimiliki kawasan Asia Tenggara, antara lain jumlah penduduk sekitar 640 juta jiwa, kawasan yang stabil, dan pertumbuhan ekonomi rata-rata di atas pertumbuhan ekonomi dunia.

“Saya yakin Presiden Trump akan melihat kerja sama ekonomi (ASEAN-AS) dalam konteks yang lebih luas dengan hasil ‘win-win cooperationí,” ujar Presiden Joko wi.

Sementara itu, Presiden AS Donald Trump kemarin me nyebut hubungan yang baik saat bertemu dengan Presiden Duterte. “Fokus percakapan adalah isu ISIS, narkoba, dan perdagangan,” kata juru bicara Gedung Putih Sarah Sanders.

andika hendra m/ant

Berita Lainnya...