Edisi 14-11-2017
Pemerintah Kaji Pengaruh E-Commerce terhadap Pasar Tenaga Kerja


JAKARTA – Era perdagangan me lalui internet atau ecommerce tidak bisa lagi di hindarkan. Sektor ini bahkan disebut-sebut menjadi penyebab bergugurannya ritel konvensional yang kalah bersaing.

Kondisi tersebut mendapat pe rhatian dari pemerintah. Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) kini sedang mengkaji dampak digitalisasi ekonomi tersebut terhadap sek tor ketenagakerjaan. ”Kami sedang mengkaji dam pak digitalisasi perekonomian terhadap penciptaan kesempatan kerja.

Ini merupakan an tisipasi ketika kita masih punya isu pengangguran di 5,5%,” ujar Kepala Bappenas/Menteri Pe rencanaan Pembangunan Na sional Bambang Bro djonegoro di Jakarta kemarin. Dalam beberapa bulan terakhir, sejumlah toko ritel di Jakarta terpaksa harus menutup bis nisnya karena sejumlah alasan, di antaranya akibat lesunya pen jualan dan maraknya tren be lanja online.

Akibatnya, para pe ngelola toko ritel terpaksa harus mengurangi karyawannya. Menurut Bambang, ke de pan tan tangan yang dihadapi mu lai be rat mengingat di satu sisi generasi muda butuh pek er ja an, namun di satu sisi ada era digitalisasi. Dia memprediksi era ecommerce yang masif ter se but tidak hanya berpengaruh pa da sek tor ritel, tapi juga in dus tri keuangan termasuk perbankan.

”Maka akan ada pengangguran yang berat, ditambah lagi ada bo n us demografi,” ujar Bambang. Pekan lalu Badan Pusat Statistik (BPS) merilis, eko no mi Indonesia menurut pe nge luar an pa da kuartal III/ 2017 tum buh men capai 5,06% se ca ra ta hunan (year-on-year/ yoy) dan menciptakan tam bah an ke sem pat an ker ja sebanyak 2,61 juta.

Dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2015-2019, tingkat pengangguran terbuka di tar get kan mencapai 4-5% dan penciptaan kesempatan kerja se be sar 10 juta orang.

Pada 2015, rea lisasi TPT mencapai 6,18%, la lu pada 2016 sebesar 5,61%, dan pada Maret 2017 mencapai 5,5%. Sementara realisasi penciptaan kesempatan kerja, berdasarkan data Survei Angkatan Ker ja Nasional per Agustus 2017, pada 2015 sebanyak 0,19 ju ta orang, lalu naik menjadi 3,59 juta orang pada 2016, dan 2,61 juta orang pada 2017.

Pada Agustus 2017 lalu, jumlah angkatan kerja mencapai 128,06 juta orang, meningkat 2,09% dibandingkan tahun sebe lumnya 125,44 juta orang. Sementara itu, jumlah pekerja per Agus tus 2017 mencapai 121,02 ju ta orang, tumbuh 2,2% dibandingkan tahun sebelumnya 118,41 juta orang.

”Pertumbuhan ke sem pat an ker ja lebih baik diban ding kan per tumbuhan angkatan ker ja. De ngan demikian, mes ki pun jum l ah pengangguran bertambah sekitar 10.000 orang, TPT turun menjadi 5,5% dari 2016 yang se besar 5,61%,” ujar Bambang.

Daya Beli Melambat

Di bagian lain, Bambang memastikan bahwa konsumsi rumah tangga tetap tumbuh mes ki meng alami perlambatan. Menurutnya, pengeluaran masyarakat ke las atas ma sih meningkat. Bambang melanjutkan, ada in dikasi perubahan perilaku kon sumen dari yang tadinya banyak membeli barang-barang da sar beralih ke jasa.

Ini terlihat da ri konsumsi kesehatan dan pen d idikan tumbuh kuat sebesar 5,38%. Selain itu, pertumbuhan konsumsi restoran dan hotel ser ta transportasi dan ko mu ni kasi juga tumbuh kuat masingmasing sebesar 5,86% dan 5,52%, lebih tinggi dari pa da keseluruhan konsumsi rumah tangga.

”Ketiga sektor ini lah pergeseran yang paling ting gi. Ini berarti meningkat nya kelas me nen gah di Indonesia,” ungkapnya. Di samping itu, ujar Bambang, masyarakat belakangan ini lebih memilih belanja ke tem pat yang lebih mudah di akses, seperti minimarket ketimbang hipermarket. ”Kedua, belanja online teruta ma untuk barang-barang tahan lama,” jelasnya.

BPS men ca tat, pada kuartal III/2017 da ya beli masyarakat Indonesia meng alami per lambatan. Hal ini diperlihatkan dari ting kat ko n sumsi rumah tang ga pa da pe ri ode Juli-September 2017 yang hanya tumbuh 4,93%, le bih rendah di ban ding kan sebelum nya yang mencapai 4,95%.

Pengamat ekonomi Ins ti tute for Development of Eco no mics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira mengatakan, kon sum si ru mah tangga masih menunjukkan adanya penurunan da ya beli. Me nurut dia, pergeseran pola konsumsi masyarakat ke online be lum terlalu ber pe ngaruh terhadap daya beli masyarakat.

”Saya melihatnya konsumsi tu run karena memang pendapatan masyarakat kelas menengah kebawah seperti buruh, pe tani, maupun bangunan, memang upah riilnya terus mengalami penurunan. Artinya kenaikannya tergerus oleh inflasi yang rendah,” ungkapnya. Bhima melanjutkan, berdasarkan data BPS, jumlah rekening masyarakat kelas atas naik sig nifikan.

Hal ini menandakan bah wa bukan terjadi pergeseran pola konsumsi melainkan masyarakat kelas atas yang memang menahan konsumsi. ”Ekspektasi ke depan dari masyarakat kelas atas ini mengkhawatirkan prospek ekonomi kurang bagus secara domestik.

Selain itu, mereka juga khawatir harga minyak naik terus sehingga berjaga-jaga tidak mau belanja karena kemungkinan besar akan ada penyesuaian BBM dan lis trik. Dan itu sudah terjadi. Itu sebabnya mereka menahan uangnya untuk tidak belanja,” tuturnya.

oktiani endarwati /ant

Berita Lainnya...