Edisi 14-11-2017
Safari Politik, Prabowo Dinilai Ukur Kekuatan


JAKARTA - Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto mulai melakukan kunjungan ke daerah. Langkah Prabowo melakukan safari politik dinilai bertujuan mengukur basis riil kekuatannya, sekaligus pemetaan politik terkait niatnya maju sebagai calon presiden dalam Pemilu 2019.

Kemarin Prabowo berziarah ke Makam Raja-Raja Mataram di Imogiri, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Sebelum ke Imogiri, Prabowo juga mengunjungi Makam Raja-Raja Mataram di Kotagede, Yogyakarta.

Pada hari yang sama, Prabowo juga melakukan pertemuan tertutup dengan Ketua Dewan Kehormatan Partai Amanat Nasional (PAN) Amien Rais di Sleman. Partai Gerindra menyebut ziarah tersebut merupakan kegiatan dalam rangka memperingati Hari Pahlawan yang jatuh pada 10 November.

Namun, aksi turun gunung mantan danjen Kopassus ini tetap memunculkan spekulasi politik, apalagi dilakukan menjelang masuknya tahun politik pada 2018. Prabowo sejauh ini masih ditempatkan sebagai penantangpalingseriusPresiden Joko Widodo (Jokowi) di pilpres mendatang berdasarkan hasil survei sejumlah lembaga.

Pengamat politik dari Universitas Padjadjaran Bandung Muradi mengatakan, ada tiga hal yang bisa dilihat dari sisi politik terkait safari politik Prabowo.

Pertama , pasca-Pilpres 2014 lalu nama Prabowo tenggelam dalam hiruk-pikuk politik nasional.

Sebagai pimpinan parpol yang masih berkeinginan maju di Pilpres 2019, Prabowo perlu tahu basis riil sebelum menentukan langkah politiknya apakah maju di pilpres nanti atau tidak. “Jadi, itu bagian dari posisi dia untuk tampil lagi. Selama ini munculnya hanya sebagai sosok oposisi, dan dalam barisan tokoh politik juga tidak terpetakan secara jelas kerja sama politiknya dengansiapa,” ujarMuradiketika dihubungi kemarin.

Kedua , dalam safari politiknya, Prabowo sekaligus bertemu dengan tokoh yang dianggapnya bisa bekerja sama secara politik.

Langkah itu sekaligus juga untuk pemetaan politik siapa kawan dan siapa lawan. Hal itu dilakukan karena Prabowo menyadari Gerindra sebagai parpol tidak punya platform ideologi yang jelas sehingga sangat sulit untuk mendapatkan basis riil yang loyalitasnya tinggi seperti halnya PDIP dan PKS.

“Jadi butuh mapping tokoh untuk bersama-sama, untuk fondasi persiapan 2019. Karena kalau mengandalkan materi Gerindra saja enggak cukup baik finansialnya. Meski di Jakarta berhasil memenangkan Anies-Sandi, secara ekonomi politik yang mungkin diuntungkan justru Pak JK (Wakil Presiden Jusuf Kalla) dan Aksa Mahmud, misalkan dari sisi relasi ekonomi,” terangnya.

Ketiga , yang bisa dilihat dari turun gunungnya Prabowo, kata Muradi, yakni kesadaran bahwa Gerindra tidak cukup kuat untuk bisa menghadapi Pilpres 2019 melawan Jokowi yang bakal didukung banyak parpol.

Hanya, kata Muradi, dalam konteks itu apa yang dilakukan Prabowo akan sulit untuk bisa mendapatkan hasil yang maksimal secara politik, sebab dengan parameter politik apa pun akan sangat sulit jika Prabowo melakukan langkah politik ketika ujungnya untuk dirinya sendiri.

“Gerindra memang sah saja mengatakan bahwa sekarang hanya Prabowo sebagai pesaing kuat yang bisa menandingi Jokowi, sebagaimana tergambar dalamsurvei-survei. Tetapiingat, itu sudah tidak ada peningkatan, dan juga karena belum adanya figur lain,” terangnya.

Sementara itu, Prabowo Subianto mengatakan kunjungannya ke makam Raja-Raja Mataram di Imogiri merupakan agenda pribadi. “Ini sebagai tradisi. Tradisi kita menghormati leluhur, menghormati sejarah kita. Saya kira itu saja, masalah pribadi, ya,” kata Prabowo yang mengenakan pakaian peranakan Mataram.

Ketika ditanya apakah kegiatan ziarah ke makam itu berkaitan dengan agenda politik, Prabowo enggan mengomentari. “Tidak ada yang lain, kamu siapa sih? Urusan pribadi kok ,” kata Prabowo singkat dan kemudian berlalu.

Ketua DPP Partai Gerindra Moh Nizar Zahro menjelaskan, langkah Prabowo belakangan ini seperti ziarah ke makam pada dasarnya murni dalam rangka memperingati Hari Pahlawan. Menurutnya, hal yang lumrah ketika Prabowo lebih banyak turunkedaerahtermasukaktifdi media sosial dalam merespons pengikutnya karena posisinya sebagai ketua umum partai.

Prabowo turun gunung tidak hanya ketika sedang menghadapi momentum politik. “Namun, perlu diingat meskipun bukan momentum politik, Pak Prabowo tetap turun dan menyapa masyarakat. Hanya selama ini mungkin tidak terekspos ke publik,” kata Nizar.

Dia membantah jika kegiatan Prabowo yang mulai aktif ini lantaran untuk mendongkrak elektabilitasnya yang turun berdasarkan hasil sejumlah survei. Menurutnya, sikap Prabowo yang sering melebur bersama rakyat, dengan sendirinya akan berimbas pada elektabilitasnya. “Hal yang terpenting, Pak Prabowo tetap bersama rakyat dan membela kepentingan rakyat,” tandasnya.

rahmat sahid/ kiswondari/ant

Berita Lainnya...