Edisi 14-11-2017
Delhi Tetap Diselimuti Kabut Asap


Ketebalan kabut asap mencapai 10 kali lipat dari batas yang direkomendasikan di ibu kota New Delhi, India, kemarin.

Pejabat pemerintah tampaknya kewalahan mengatasi krisis kesehatan publik yang telah memasuki pekan kedua tersebut. Kedutaan Besar (Kedubes) Amerika Serikat (AS) mengukur level partikel beracun yang disebut PM 2,5 mencapai 495 pada kemarin pagi.

Padahal batas tertinggi untuk kualitas “baik” adalah 50. Badan perkiraan cuaca India menyatakan hujan akan terjadi dalam tiga hari mendatang sehingga diharapkan bisa membersihkan kabut asap. “Hujan ringan akan terjadi di beberapa negara bagian sekitar Delhi dan di Delhi selama tiga hari mendatang.

Ini dapat menghasilkan perubahan pola angin di kawasan,” ungkap Charan Singh, pakar di Departemen Meteorologi India pada kantor berita Reuters, kemarin. “Asap akan mulai berkurang besok,” ujar Singh.

Otoritas Delhi mendeklarasikan darurat kesehatan publik pekan lalu setelah level polusi di kota itu meningkat. Fenomena ini terjadi karena aktivitas warga yang membakar bekas panen di negara bagian utara, asap kendaraan, dan debu.

Selama akhir pekan, pemerintah berencana menggunakan truk pemadam kebakaran untuk menyemprotkan air di beberapa wilayah ibu kota, tapi langkah tersebut hanya memiliki dampak kecil. Pejabat pemerintah federal menjelaskan, otoritas tak bisa lagi melakukan lebih banyak tindakan untuk mengatasi kabut asap.

“Kami hanya dapat melakukan sejauh ini dan sekarang kami harus menunggu hujan untuk membersihkan atmosfer,” kata Prashant Gargava, pejabat di Dewan Kontrol Polusi Pusat India. Gargava yang bertanggung jawab mengawasi kualitas udara menjelaskan, kondisi udara Delhi berada dalam zona berbahaya meski pemerintah telah melakukan berbagai langkah.

Beberapa tindakan yang telah diambil pemerintah adalah menghentikan aktivitas konstruksi dan menaikkan tarif parkir mobil untuk mendorong warga menggunakan transportasi publik. Partikel udara PM 2,5 memiliki ukuran 30 kali lebih kecil dibandingkan dengan diameter rambut manusia.

Partikel ini bisa terhirup masuk ke paru-paru sehingga mengakibatkan penyakit pernapasan dan masalah kesehatan lainnya. Rumah sakit di ibu kota mengalami peningkatan jumlah pasien yang mengalami masalah pernapasan.

“Setiap detik kami merusak paru-paru kami, tapi kami tak dapat berhenti bernapas,” papar Arvind Kumar, kepala departemen bedah dada dan paru-paru di Rumah Sakit Sir Ganga Ram di Delhi.

Maskapai United Airlines telah kembali mengaktifkan penerbangan dari Newark, New Jersey ke New Delhi, India, pada Minggu (12/11), setelah sempat berhenti beroperasi karena kualitas udara di ibu kota India tersebut.

Pemerintah pusat dan negara bagian telah mengaktifkan kembali kegiatan belajar mengajar di sekolah, kemarin, setelah meliburkan sementara pekan lalu. Langkah ini pun menambah lebih banyak kendaraan di jalan. Beberapa orang tua siswa mengkritik kebijakan itu karena kondisi udara masih buruk.

Syarifudin

Berita Lainnya...