Edisi 14-11-2017
Investasi Jadi Pendorong Pertumbuhan Ekonomi


JAKARTA – Pertumbuhan investasi pada kuartal III/2017 mencapai 7,11%. Ini tertinggi sejak kuartal I/2013. Pertumbuhan investasi ini diyakini akan mendorong pertumbuhan ekonomi.

Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Bambang Brodjonegoro mengatakan, hal ini didorong oleh pertumbuhan investasi mesin dan perlengkapan sebesar 15,18% dan peralatan lainnya 16,83%.

”Peningkatan investasi pada mesin dan peralatan lainnya mengindikasikan adanya penguatan aktivitas produksi yang berkelanjutan ke depan. Pertumbuhan investasi bangunan juga meningkat di dorong oleh proyek infrastruktur pemerintah. Data dari penjualan semen pun mengalami peningkatan,” kata Bambang di Jakarta, kemarin.

Bambang mengatakan, ekspor mampu tumbuh double digit mencapai 17,27% merupa kan tertinggi sejak kuartal II/2011. Sementara impor juga tumbuh tinggi mencapai 15,09% yang menunjukkan perbaikan aktivitas domestik. ”Impor barang modal mencapai 24,1% dan impor bahan baku mencapai 23,2%.

Ini artinya industri berjalan karena bagaimanapun industri manufaktur kita masih membutuhkan impor bahan baku dan penolong,” ungkapnya. Bambang juga mewaspadai impor barang konsumsi yang tumbuh tinggi. Pertumbuhan impor barang konsumsi yang tinggi bisa menjadi indikasi masih kuatnya konsumsi atau daya beli masyarakat.

Namun, kenaikan barang impor konsumsi bisa disebabkan kegiat an belanja online melalui ecommerce yang lebih tinggi. ”Ini yang harus diwaspadai kare na kita tidak ingin marak nya barang impor mengganggu produk dalam negeri,” katanya. Dalam kesempatan tersebut, Bambang juga mengatakan, pertumbuhan ekonomi tahun ini diproyeksikan hanya 5,1%.

Angka ini di bawah target APBN-P 2017 sebesar 5,2%. ”Sebanyak 5,2% berat karena dari tiga triwulan ini secara akumulasi semuanya masih 5,03%. Berarti untuk mengejar pertumbuhan 5,2%, pada kuartal IV/2017 harus mencapai di atas 5,5%. Tam paknya agak beratmeskipunkitamelihatada harapan dari investasi, ekspor, dan konsum si pemerintah,” kata Bambang.

Menurutnya, pertumbuhan konsumsi pemerintah pada kuartal III ini masih belum maksimal. Ada potensi pertumbuhan konsumsi pemerintah pada kuartal IV lebih tinggi. ”Kuartal III/2017 naik 3,46%. Kita melihat angka ini masih lebih rendah dibandingkan tahun 2015.

Prediksi kami di kuartal IV akan lebih baik lagi, seharusnya bisa di atas 5%,” ujarnya. Pengamat ekonomi Insti tute For Develompent of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira memprediksi hingga akhir2017pertumbuhan ekonomi maksimum hanya men capai 5,05%. ”Itu pun sudah asumsi per tumbuhan di kuartal IV itu bisa 5,1%.

Jadi sudah tinggi sampai segitu hingga akhir tahun. Untuk bisa 5,1% itu berat,” ujarnya. Menurut dia, faktor pendorong di kuartal IV secara musiman adalah Natal dan Tahun Baru karena biasanya permintaan cenderung naik. Namun, melihat daya beli masyarakat, khususnya kelas menengah cenderung melemah, dorongan dari konsumsi masyarakat diperkirakan tidak bisa maksimal pada akhir tahun ini.

”Jadi pertumbuhan konsumsi rumah tangga paling hanya sekitar 5%,” katanya. Faktor pendorong lainnya seperti belanja pemerintah kemungkinan besar juga mengalami kenaikan tinggi. ”Tapi melihat kondisi sekarang pemerintah juga dilematis.

Di satu sisi harus menjaga defisit anggaran karena penerimaan pajak masih belum bagus, masih diprediksi ada shortfall pajak sampai Rp150 triliun. Kalau jumlah pajak tidak tercapai sebanyak itu, otomatis belanja pemerintah harus direm untuk mengendalikan defisit di bawah 3%,” kata Bhima.

Bhima mengatakan, belanja pemerintah diprediksi bisa tumbuh 5-6% pada kuartal IV/2017 nanti. ”Itu juga sudah cukup tinggi dari kemarin yang hanya 3%,” ungkapnya. Di sisi lain, pemerintah juga akan mengandalkan investasi dan ekspor. ”Dari investasi bisa tumbuh cukup bagus.

Karena pada akhir tahun terpotong liburan, jadi tidak bisa mak simal. Tapi ada harapan investasi bisa jadi motor pendorong pertumbuhan. Kemudian ekspor pada kuartal IV bisa tum buh lebih dari 15% karena di satu sisi ekspor ini harga komo ditas minyak mentah bagus dan mendorong,” katanya.

oktiani endarwati