Edisi 14-11-2017
Terapkan Strategi Lama, Phillips 66 Dulang Keuntungan Berlipat


Phillips 66 mendapatkan keuntungan besar dalam bisnis kilang minyak senilai USD823 juta pada kuartal ketiga tahun ini atau meningkat 60% dibandingkan dengan tahun lalu. Peningkatan keuntungan itu mengejutkan.

Pasalnya, Badai Harvey sempat menyebabkan kilang minyak milik Phillips di Sweeny di luar Houston ditutup se mentara beberapa waktu lalu. Namun, hal itu tidak memengaruhi penurunan keuntungan karena ditutup oleh kenaikan penjualan diesel. Apalagi margin keuntungan sudah tinggi sebelum Badai Harvey.

“Kami beroperasi dengan baik selama kuartal ketiga tahun ini sehingga kami bisa menghadapi tantangan Badai Harvey,” ujar CEO dan Chairman Phillips 66 Greg Garland. “Ketika badai menghampiri operasi Perairan Teluk Meksiko, kami mendapatkan keuntungan besar dari portofolio bisnis yang beragam,” katanya.

Keuntungan petrokimia dari Phillips 66 mengalami penurunan, tetapi sektor pipa gas mendapatkan keuntungan besar. Keuntungan kilang mi nyak juga melompat 100% dibandingkan dengan tahun lalu dengan 40% untuk diesel dan 25% untuk bensin. Nilai saham Phillips 66 juga mengalami kenaikan 9% sejak Badai Harvey.

Hal ini karena masih tingginya kepercayaan investor terhadap perusahaan tersebut. “Investor mungkin menunggu momentum setelah menguatnya kuartal ketiga kali ini,” ujar analis UBS Equities Spiro Dounis dilansir Reuters . Sementara mengenai visi Phillips 66, diungkapkan Garland, perusahaannya masih dalam proses mencari identitas dunia energi.

Selama lima tahun terakhir, Phillips 66 berinvestasi hampir USD24 miliar dalam berbagai bisnis, seperti minyak, kimia, pengeboran, dan pemasaran. “Ketika kamu berpikir tentang strategi perusahaan ini, kita tidak berubah,” ujar Gar land dilansir Tusla World . “Dunia di sekitar kita sudah berubah dan bisnis energi berbeda dibandingkan dengan lima tahun lalu.

Tapi strategi kita masih bernilai,” paparnya. Strategi lama tersebut adalah fokus pada industri minyak dengan melakukan diversifikasi produk yang masih berkaitan dengan sektor energi. Dengan fokus tersebut, perusahaan akan lebih jelas arahnya dan kepercayaan investor juga tetap terjaga.

Phillips 66 merupakan perusahaan multinasional Amerika Serikat (AS) yang berkantor pusat di Westchase, Houston, Texas. Mereka menjadi perusahaan energi independen setelah ConocoPhillips melepas kepemilikan saham dan asetnya alias mengakhiri kerja sama. Phillips 66 pun menjadi perusahaan energi yang lepas dari ConocoPhillips sejak 2012 silam.

Nama Phillips 66 diambil dari merek dagang pendahulu ConocoPhillips, yakni Phillips Petroleum Company. Phillips 66 mulai masuk Bursa Saham New York pada 1 Mei 2012. Fokus utama Phillips 66 adalah produksi gas alam cair dan petrokimia. Perusahaan itu kini memiliki 14.000 karyawan di seluruh dunia dan aktif di lebih dari 65 negara.

Phillips 66 berada pada peringkat ke-30 Fortuna 500 dan peringkat ke-74 pada Fortune Global tahun 2016 lalu. Phillips Petroleum didirikan Lee Eldas “L.E.” Phillips dan Frank Phillips serta Bartlesville, Oklahoma, pada 13 Juni 1917. Awalnya perusahaan itu hanya memiliki aset USD3 juta dengan 27 karyawan dan wilayah kerja di Oklahoma dan Kansas.

Setelah penemuan ladang gas pada 1918 di Panhandle dan Hugoton, Phillips menjadi fokus mengembangkan industri gas alam. Hingga pada 1925, Phillips menjadi produsen gas alam terbesar di AS. Kemudian pada 1927, mereka juga memproduksi bensin. Bahan bakar minyak pertama itu diujicobakan di Jalan Tol AS 66 Oklahoma dan mobil mampu melaju 66 mil per jam.

Akhirnya bahan bakar minyak (BBM) itu diberi nama Phillips 66. Oleh sebab itulah 66 menjadi angka sakral bagi perusahaan tersebut. Pada 1967, Phillips menjadi perusahaan minyak kedua setelah Texaco yang menjual BBM di 50 negara bagian AS.

Phillips 66 menciptakan perusahaan gabungan dengan Chevron divisi kimia dan plastik pada 2000. Kemudian pada 2002, Phillips 66 merger dengan Conoco dan membentuk ConocoPhillips. Mereka melanjutkan pemasaran BBM dengan merek Phillips 66 dan Conoco.

Disukai Warren Buffett

Sejak Phillips 66 memi sahkan diri dari Conoco Phillips, mulai tahun 2013 mereka mengumumkan Berkshire Hathaway milik Warren Buffett sebagai firma yang menjual 19 juta dari 27,2 juta lembar saham Phillips 66. Kini Buffett memiliki 15,77% saham Phillips 66.

“Kita membeli saham Phillips 66 bukan karena pemilik kilang minyak atau perusahaan minyak terintegrasi. Kita membeli saham Phillips 66 karena kita menyukai perusahaan itu,” ujar Buffett dilansir Equities . Dia juga sangat menyukai manajemen Phillips 66 yang baik.

Dengan nama Buffett sebagai pemilik saham Phillips 66 itu menjadi kekuatan utama bagi perusahaan tersebut. Bagai manapun Buffett masih menjadi magnet dalam dunia investasi di AS. Apa yang di lakukannya akan diikuti banyak investor lain masih percaya pada sektor energi yang masih menjanjikan.

Pada 17 Februari 2015, Phillips 66 menjual dua sistem pipanisasi gas alam ke mitranya, Phillips 66 Partner, senilai USD1,01 miliar dalam bentuk tunai dan saham. Phillips 66 memiliki 15 kilang minyak dengan kapasitas 2,2 juta barel perhari dan 24.000 pipa gas alam dengan daya kirim 7,2 miliar kubik kaki per hari. Phillips 66 juga memiliki seperempat saham di Dakota Access Pipeline.

andika hendra m