Edisi 14-11-2017
China Didorong Tambah Investasi Energi


JAKARTA – Pemerintah Indonesia mendorong sejumlah perusahaan asal China untuk meningkatkan investasi energi di Indonesia.

Hal tersebut dituangkan dalam nota kesepahaman (Memorandum of Understanding /MoU) antara Menteri ESDM Ignasius Jonan dan Administrator National Energy Administration (NEA) Chi na H.E.Nur Bekri di acara The 5th Indonesia-China Energy Forum yang berlangsung di Hotel JW Marriot, Jakarta, kemarin. Forum tersebut merupakan fo rum ke-5 setelah terakhir kali di gelar 10 tahun lalu.

”Presiden me nekankan bahwa kami tetap me nerima dan welcome tentang in vestasi asing, termasuk mening katkan investasi China dengan prinsip saling menguntungkan,” kata Jonan. Berdasarkan agenda tersebut terdapat 96 perusahaan Chi na, termasuk SINOPEC, Petro China, CNOOC, dan Alumunium Corporation of China Ltd, ha dir mengikuti konferensi tersebut.

Jonan berharap forum itu bisa meningkatkan kerja sama di bidang kelistrikan, minyak dan gas bumi (migas), ener gi baru dan terbarukan (EBT), serta mineral dan batu ba ra (minerba). Selain yang berasal dari Chi na, forum tersebut juga diha diri 40 perusahaan dalam negeri, salah satunya PT Pertamina (Persero).

Jonan menawarkan investasi beberapa sektor ESDM ke pada perusahaan China di Indo nesia. Di sek tor mi gas, Jonan mendorong CNOOC atau Sinopec dan Petro China me ngelola beberapa wilayah ker ja. ”Kami men dukung perusahaan-perusahaan China di bidang hulu mi gas lebih aktif ber investasi di Indonesia,” kata dia.

Pihaknya juga mendorong China bermitra dengan Pertamina untuk membangun kilang di da lam negeri. Salah satunya Ki lang Bontang di Kaliman tan Timur. Sementara di sektor kelistrikan, perusahaan China diharapkan membangun pem bangkit listrik tenaga uap (PLTU) mu lut tambang di Indonesia dengan harga listrik yang kompetitif.

Saat ini sudah ada beberapa perusahaan China ikut berpartisipasi dalam proyek 35.000 MW. Selain itu, ada juga pro yek di luar 35.000 MW, seperti PLTU Banten I, PLTU Banten II, PLTU Banten III, PLTU I Jawa Barat, PLTU II Jawa Barat, PLTU I Jawa Tengah, dan beberapa PLTU besar lainnya di wilayah Indonesia.

Selain itu, di sektor minerba, Jonan mendorong ekspor batu ba ra dari Indonesia ke China. Di sisi lain, Jonan juga meminta Chi na berinvestasi membangun pabrik pengolahan dan pe m urnian (smelter) di dalam ne g eri dan pengelolaan mineral lo gam di Indonesia dengan tetap memperhatikan faktor lingkungan hidup.

Dia mencontohkan, investasi China di sektor minerba ada lah pembangunan smelter grade alu mina di Kabupaten Mem pa wah, Kalimantan Barat, antara Alu munium Corporation of Chi na Ltd (Chinalco) dan PT Ane ka Tam bang Tbk serta PT Ina lum. Smel ter yang di ren ca na kan me mi liki kapasitas 1 juta ton pertahun ini diperkirakan me nelan in vestasi USD1,5-1,8 miliar.

Di sektor EBT, Jonan juga me minta perusahaan China lebih aktif berinvestasi. Sebab se - ta hun terakhir investasi EBT di In donesia didominasi perusahaan asal Eropa, Amerika Serikat, dan Jepang. Padahal peluang investasi di EBT sangat ter buka dengan adanya target baur an energi sebesar 23% tahun 2025. Mantan Menteri Per hubung an ini berharap forum tersebut bisa menghasilkan langkah nyata. ”Tidak hanya diskusi yang terlalu panjang.

Jadi, dikerjakan apa yang bisa dilakukan secepat-cepatnya,” kata dia. Pada kesempatan sama, Nur Be kri mengatakan, Pemerintah Chi na menaruh perhatian besar da ri terjalinnya kerja sama sektor ESDM dengan Indonesia. Pasalnya, Indonesia memiliki po ten si besar pada bidang migas, lis trik, mineral dan batu bara, se r ta energi baru terbarukan.

Pihaknya berharap sektor ba tu bara bisa meningkat. Sebagai mana diketahui ekspor ba tu ba ra ke China mencapai USD20 m i liar atau Rp266,78 tri liun (kurs Rp13.339 per USD). ”Sejumlah ekspor ke China tahun lalu ni lainya naik. Ekspor batubara Indonesia mencapai USD20 miliar. Laju pertumbuhan ekspor batubara Januari-September sudah 17%,” kata dia.

nanang wijayanto