Edisi 14-11-2017
Pesta Berbuntut Siulan


BASEL – Cuaca terbaik Swiss biasanya terjadi di Basel. Jika Lucerne, Bern, atau Zurich mendung, Basel biasanya cerah. Saat Jenewa, Lausanne, atau Biel hujan, Basel kadang kala hanya berawan.

Tapi, tidak demikian ketika Swiss menjamu Irlandia Utara, Minggu (12/11) malam waktu setempat. Basel, seperti juga kawasan Swiss lainnya, diterpa hujan angin. Suhu juga menurun hingga 2 derajat Celsius. Kondisi Saint Jakob-Park lebih mirip ladang kentang ketimbang stadion sepak bola bertaraf internasional.

Tidak sampai ada genangan air, tapi akibat permainan ngototdua tim yang sama-sama ingin mengikuti Piala Dunia 2018 di Rusia pada 18 Juni mendatang, markas FC Basel itu penuh dengan bercak hitam, saat rumput hijau itu terkelupas. “Agak sulit memang bermain dengan kondisi seperti ini.

Tapi, syukurlah, kami lolos (kualifikasi ke Piala Dunia 2018),“ kata Granit Xhaka, pemain Swiss. Swiss bisa berpesta karena akhirnya berhasil lolos lantaran hingga pukul 20.00 waktu setempat kedudukan tetap 0-0.

Mengingat pertandingan sebelumnya di Stadion Windsor Park, Belfast dimenangkan Swiss 1-0 sehingga anak asuh Vladimir Petkovic itu tampil sebagai pemegang tiket ke Rusia. Begitu peluit panjang berbunyi, sekitar 36 ribuan fansDie Nati bersorak kegirangan.

Di lapangan, tampak Petkovic menyalami satu demi satu pemain dan tim ofisialnya. Sesekali mereka berpelukan. Seragam warna merah itu lalu diganti dengan kaus oblong yang sudah disiapkan sebelumnya. “Rusia kami datang”, begitu yang tertulis di kaus oblong putih itu.

Malam itu, Swiss larut dalam kegembiraan. Perjalanan panjang selama hampir dua tahun dalam babak penyisihan berbuah manis. Swiss akan hadir di Negeri Beruang Merah. Ini keempat kali secara beruntun mereka mengikuti Piala Dunia. “Targetnya jelas, perempat final,“ ujar sang kapten Stephan Lichsteiner.

Swiss, meski tercatat sebagai negara mini, tidaklah selemah Andorra, Malta, Kepulauan Faroe, Liechstenstein, atau San Marino. Sebaliknya, negara penghasil cokelat dan keju terbaik dunia ini cukup mapan di jagat sepak bola dunia.

Kalangan wartawan olahraga Swiss bahkan menyebut inilah The Golden Generation of Switzerland dengan punggawa semacam Xhaka, Xherdan Shaqiri, Ricardo Rodriguez, atau Fabian Schaer. “Hanya, pembuktiannya belum ada,” tandas salah satu wartawan Swiss.

Di Rusia nanti, imbuhnya, Admir Mehmedi dkk sudah saatnya membuktikan sebagai salah satu tim kuat di dunia. “Kalau bisa masuk perempat final, akan bagus,” tandasnya. Petkovic, seperti biasa, meskipun cukup hasil seri untuk bisa ke Rusia, memilih strategi menyerang.

The winning teamyang dibawanya ke Belfast tiga hari lalu, dipasang tak berubah sejak menit awal. Sayang, penampilan Swiss tidak secemerlang saat bertandang ke kandang Irlandia Utara.

Banyak umpan kurang matang, juga aksi purapura ala Lichsteiner yang sering jatuh berguling-guling meski tersenggol sedikit. Tampaknya, hasil akhir adalah segalanya. Soal bagaimana mereka bermain di lapangan, tak banyak yang peduli.

Hampir tak ada lagi yang risau dengan penampilan para pemain karena Swiss terus menjaga partisipasinya di Piala Dunia. Dan, itu patut dirayakan. Namun, tidak semua bisa bergembira. Haris Serefovic justru bersikap sebaliknya. Penyerang asal Sursee, Swiss Tengah ini, tak bisa ikut merayakan lolosnya Swiss ke Rusia bersama rekan-rekannya.

Di kamar ganti, Serefovic justru menangis sesenggukan. Tak ada yang berani mendekat atau bertanya. Tangisan Serefovic itu akibat siulan panjang dari sektor penonton ketika dirinya digantikan Breel Donal Embolo pada menit ke-86. Di depan publik sendiri, kendati lolos ke Piala Dunia 2018, dia tetap mendapat siulan panjang dari penonton.

Bagi Serefovic, itu terasa berlebihan. “Penonton yang demikian sebaiknya tidak usah datang ke stadion,” ujar salah satu tim Petkovic. “Kami berjuang habis-habisan, tidak layak mendapatkan siulan semacam itu.”Apa yang dirasakan Serefovic mungkin dipahami Pelatih Irlandia Utara Michael O’Neill.

Meski sudah berjuang habis-habisan, dia tetap gagal mengakhiri penantian Green and White Army selama hampir 28 tahun. Harapan kembali mengikuti Piala Dunia untuk pertama kali lagi sejak 1986 harus kandas secara dramatis.

Irlandia Utara ditimpa kesialan karena penalti kontroversial pada pertemuan pertama yang menyebabkan kekalahan 0-1. Sekarang pasukannya gagal mencetak gol ke gawang Swiss. Ini membuat O’Neill tidak mood lagi memikirkan masa depannya. Dia belum tahu apakah akan terus bertahan atau mundur.

“Sebenarnya tim kami lebih baik. Kami terus berjuang hingga menit ke-94. Para pemain jelas merasa terpukul. Jika bukan karena penalti (pada pertemuan pertama), pertandingan tentu sudah dilanjutkan ke perpanjangan waktu.

Krisna Diantha

Laporan Kontributor KORAN SINDO

Swiss