Edisi 14-11-2017
Tangerang Menuju Kota Aerotropolis


TANGERANG– Keberadaan Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta (Soetta) di teritorial Kota Tangerang memiliki dampak sangat besar bagi perkembangan kota berjuluk Seribu Industri dan Sejuta Jasa tersebut.

Tata letak, pembangunan infrastruktur, dan pusat ekonomi kota menjadi terpusat ke bandara terbesar di Indonesia itu. Konsep pembangunan kota penerbangan yang berpusat pada bandara atau dikenal dengan aerotropolis itu pada akhirnya akan membawa Kota Tangerang menjadi gerbang masuk dunia ke Indonesia.

Wali Kota Tangerang Arief R Wismansyah mengatakan, koordinasi antara pihaknya dan pengelola Bandara Soetta, yakni PT Angkasa Pura (AP) II (Persero) masih terus berjalan dan semakin ditingkatkan. “Kami terus melakukan koordinasi dengan pihak bandara.

Karena, Kota Tangerang ini mengusung konsep aerotropolis dan kami akan melakukan branding ,” kata Arief, kepada KORAN SINDO, beberapa waktu lalu. Menurutnya, branding tersebut sangat baik untuk lebih mengenalkan Kota Tangerang kepada masyarakat dunia.

Apalagi, potensi yang dimiliki kota ini sangat besar dan banyak yang belum digali lebih maksimal. “Bandara Soetta merupakan pintu gerbang Indonesia. Kami akan memanfaatkan semua potensi yang ada agar mendukung kemajuan pembangunan yang ada di Kota Tangerang semakin pesat,” tuturnya.

Arief pun mengatakan, konsep aerotropolis yang dikembangkan Pemkot Tangerang berdampak baik pada pertumbuhan nilai investasi yang mencapai 5,7%. Sejumlah maskapai juga mulai membuka kantornya. Begitu pun dengan perusahaan lainnya, mereka sudah mulai berinvestasi.

Geliat perkembangan investasi ini merupakan gejala yang positif dari aerotropolis yang sedang dikembangkan pemerintah. Seperti pada konsep pembangunan kota metropolitan umumnya, kota aerotropolis juga memiliki kawasan di pinggiran kota (suburban) yang terhubung dengan infrastruktur dan transportasi massal.

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Tangerang Said Endrawiyanto mengatakan, infrastruktur transportasi massal menuju Bandara Soetta sudah mulai dipersiapkan semua. Salah satunya kereta api yang menuju Bandara Soetta. Saat ini, semua kebutuhan infrastruktur kereta api itu sudah selesai semua.

Tinggal fisiknya saja. Begitu pun dengan yang lainnya. “Untuk kereta bandara sudah selesai semua, tinggal fisiknya. Sekarang, kami sedang meminta kepada pemerintah pusat agar dibuatkan beberapa feeder bus penumpang KA bandara,” katanya. Selain KA bandara, infrastruktur yang sedang disiapkan adalah bidang tanah untuk pembangunan tol Kunciran-Bandara Soetta.

Pembangunan jalan berbayar ini merupakan proyek pemerintah pusat. “Bidang tanah yang telah dibebaskan baru mencapai 10-20%. Ada dua bidang. Yang pertama di sekitar Benda dan yang kedua berada di Kunciran. Sisanya, tinggal menunggu pembayaran saja,” ungkapnya.

Said menjelaskan, total biaya pembebasan tanah untuk jalan tersebut mencapai Rp2-3 triliun. Sementara alokasi anggarannya baru Rp500-600 miliar. Biaya pembebasan lahan itu diambil dari dana APBN.

Seluruh pembangunan infrastruktur dan transportasi massal itu dilakukan sebagai bentuk dukungan atas konsep aerotropolis yang sedang dikembangkan pemerintah kota untuk kemajuan Bandara Soetta.

Sementara itu, Executive General Manager Kantor Cabang Bandara Soetta M Suriawan Wakan mengakui pesatnya perkembangan di Bandara Soetta banyak terbantu oleh pembangunan yang dilakukan pemerintah.

“Memang benar pemerintah kota telah berbuat banyak, di antaranya membuat akses jembatan di Rawa Bokor, lalu feeder busway di TOD kami, dan menyediakan suplai air bersih di bandara,” tuturnya.

Sebagai bentuk sinergi yang mendukung pembangunan kota, pihaknya membuat program kerja sama seperti membuat sunatan massal, memberikan bantuan mobil perpustakaan, dan ambulans. “Kontribusi kami ada beberapa program kemitraan dan bina lingkungan yang kami alokasikan untuk pemerintah kota.

Kami akan koordinasi lagi apa yang tepat dibutuhkan pemerintah kota,” tandasnya. Kontribusi pihak bandara, dalam hal ini PT Angkasa Pura II, dalam ikut mendukung pembangunan di Kota Tangerang tidak bisa dimungkiri. Pasalnya, posisi Bandara Soetta memang berada di Kota Tangerang.

“Tidak bisa dimungkiri, kami berada di area atau wilayah Tangerang. Saat pesawat landing , sudah tidak lagi disebutkan mendarat di Bandara Soetta Jakarta, tapi sudah di Tangerang, Banten,” ungkapnya.

Ke depan, pihaknya juga akan melakukan branding Kota Tangerang di sejumlah media iklan yang ada di Bandara Soetta dengan tulisan Wellcome to Tangerang dan mempromosikan wisatanya. “Paling tidak, di Bandara Soetta juga kan ada beberapa maskapai airline dan di dalam pesawatnya ada majalah.

Nah , kalau bisa beberapa airline ini diundang untuk memberikan konten,” sebutnya. Melalui konten pada majalah airline yang disisipkan di belakang bangku penumpang itu, pemerintah kota bisa memperkenalkan wisata-wisata yang ada di Kota Tangerang dan sejarah kota tersebut.

“Sasarannya supaya dapat dibaca oleh penumpang yang naik pesawat untuk lebih mengenal Tangerang. Begitu pun kalau ada kesenian-kesenian dan tradisi Tangerang yang ingin ditunjukkan,” ujarnya.

Pihaknya mengaku sangat terbuka dengan semua usulan pemerintah kota untuk lebih mengenalkan semua potensi yang dimilikinya buat dikenalkan kepada para pengunjung yang ada di Bandara Soetta.

“Memang, kami ingin ada peran aktif untuk bisa memberi kontribusi, mengenalkan. Misalnya ada kesenian, tari asli Tangerang yang ingin ditampilkan di Terminal 1,2, dan 3, kami akan mendukung,” ungkapnya.

Pihaknya berharap sinergi antara Bandara Soetta dan Pemkot Tangerang dapat terjalin dengan baik sehingga berdampak pada pengembangan pembangunan di kedua belah pihak yang menguntungkan.

hasan kurniawan