Edisi 14-11-2017
Tuntaskan Perbaikan Jalan Rusak Hingga 2020


INFRASTRUKTUR jalan merupakan kebutuhan yang sangat mendesak di Provinsi Banten. Karena itu, pemerintah provinsi terus berupaya menuntaskan perbaikan jalan provinsi yang masih dalam kondisi rusak.

Lalu, apa upaya yang dilakukan Pemprov Banten untuk menyelesaikan program infrastruktur tersebut? Berikut petikan wawancara Reporter KORAN SINDO Teguh Mahardika dengan Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Provinsi Banten Hadi Suryadi.

Titik-titik jalan provinsi mana saja yang akan dibangun pada 2018?

Yang jelas, jalan-jalan provinsi yang rusak, baik yang ada di wilayah utara maupun wilayah selatan Provinsi Banten. Kami akan selesaikan kerusakankerusakan jalan yang masih tersisa itu dalam waktu dua hingga tiga tahun ke depan.

Sebetulnya, berapa panjang jalanjalan rusak yang akan dibangun tersebut?

Yang sekarang ini, tahun 2017, kami baru menyelesaikan jalan sepanjang 50-60 kilometer yang rusak. Sisa kerusakannya masih sekitar 162 kilometer. Jadi, pada 2017 ini kami sudah membangun lebih dari 50% infrastruktur jalan yang mengalami kerusakan.

Berapa anggaran yang disiapkan untuk perbaikan-perbaikan jalan rusak sepanjang tahun ini?

Dalam menuntaskan pembangunan tersebut kami menganggarkan Rp1,25 triliun untuk tahun 2017. Dengan alokasi 80% untuk belanja modal seperti pembangunan jalan, jembatan, dan sebagian untuk irigasi. Dari dana Rp1,25 triliun tersebut sebesar Rp800 miliar difokuskan untuk pembangunan di wilayah Banten Selatan dan Banten Utara.

Lantas, bagaimana program untuk jalan-jalan penunjang wisata, apa sudah dibangun?

Jalan penunjang pariwisata di Banten juga sedang diperbaiki seperti ruas Jalan Palima- Pasar Teneng. Kami genjot penyelesaian pembangunan jalan sepanjang 34 kilometer dengan konstruksi jalan beton. Target kami tahun ini tuntas, apalagi tinggal sisa yang di ujungnya, yakni tinggal pelebaran jalan. Tapi, penyelesaian betonnya tahun ini.

Jalan penunjang pariwisata mana lagi yang dibangun?

Kami tengah fokus pada ruas Jalan Taktakan-Gunung Sari. Kami sedang melakukan pembetonan di jalur tersebut. Itu juga jalur alternatif pariwisata di Provinsi Banten. Selain itu, juga penyelesaian di jalur Lopang-Banten lama. Itu kan jalur pariwisata religi sehingga kami akan selesaikan juga perbaikannya.

Lantas, bagaimana dengan pembangunan untuk jalur wilayah bagian selatan?

Kami juga terus melakukan perbaikan di jalur itu seperti di Picung-Munjul, Munjul-Panimbang, Munjul-Cikeusik, Ciseukeut-Sobang. Yang jelas, banyak pembangunan infrastruktur jalan yang tengah kami kerjakan sekarang ini. Mudah-mudahan saja yang kami kerjakan saat ini tidak ada halangan dan tahun depan bisa tuntas seluruhnya.

Bisa Anda sampaikan kendala di lapangan yang hingga ini banyak dilalui kendaraan berat? Bagaimana koordinasinya?

Saya sudah sering berkoordinasi dengan Dinas Perhubungan (Dishub) Banten, karena kewenangan pembatasan tonase itu ada di sana (dishub). Kepala Dishub Banten juga sudah berupaya, tinggal barangkali petugas-petugas dishub ini perlu proaktif mengawasi angkutan yang ada di selatan Banten, terutama angkutan pasir yang melebihi tonase.

Lantas, sejauh ini kerugian apa yang muncul akibat angkutan kendaraan yang merusak jalan?

Kalau dari sisi kerugian, jelas sangat besar. Masyarakat juga merasa dirugikan. Karena, kalau tonase yang mereka bawa melebihi ketentuan yang kami atur yaitu 8 ton. Misalnya, ruas jalan yang seharusnya bisa bertahan dalam waktu 10 tahun, malah sudah jebol hanya dalam waktu tiga tahun.

Daerah mana saja yang kondisi jalannya masih rusak setelah dilakukan pembangunan?

Sebagian besar memang bagian selatan seperti Jalan Saketi-Malingping, Maja-Koleang. Jalan-jalan tersebut sudah kami lakukan betonisasi juga, namun jadi hancur lebur lagi. Bahkan, ruas Maja- Koleang secara bertahap kami betonisasi, sisanya tahun depan akan kami selesaikan.

Umur Jalan Maja- Koleang seharusnya 10 tahunan. Setiap jalan yang sudah dibeton itu umurnya 10-15 tahun. Saya khawatir kalau angkutannya melebihi tonase, dalam waktu tiga tahun jalanan itu akan menjadi rusak. Padahal, seharusnya bisa bertahan hingga 10 tahun.

Perbaikan jalan rusak mana saja yang sudah diselesaikan tahun ini?

Di selatan, yakni Jalan Cipanas-Warung Banten sepanjang 60 kilometer, di Pandeglang, Picung- Munjul, Panimbang- Sobang, Munjul- Cikeusik. Sementara di wilayah utara ada ruas Jalan Parigi- Sukamanah.

Hadi Suryadi

Kepala Dinas Pupr Provinsi Banten