Edisi 15-11-2017
Polisi Buru Penyebar Video Pasangan yang Difitnah Mesum


TANGERANG - Polisi memburu pelaku penyebaran video sepasang kekasih yang difitnah mesum dan ditelanjangi warga hingga menjadi viral di dunia maya.

Polresta Tangerang membentuk tim cyber untuk memburu para pelaku. “Bantu kami beri informasi pengunggah video penganiayaan itu. Semoga dapat segera terungkap dan menghilangkan konten pornografi di media sosial (medsos),” kata Kapolresta Tangerang AKBP Sabilul Alif kemarin.

Dia mengimbau masyarakat tidak ikut menyebarkan video tidak beradab tersebut dan akan menindak tegas siapa pun yang menyebarkan video penganiayaan remaja korban fitnah itu. “Pengunggah video itu sedang kita buru karena telah melanggar hak privasi orang lain sekaligus melanggar Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE),” katanya.

Dua sejoli, yakni Robi, 28, dan Mia Aulina, 20, yang difitnah berbuat mesum, kemudian diarak, ditelanjangi, dan dianiaya oleh warga di Kampung Kadu RT 07/03, Kelurahan Sukamulya, Kecamatan Cikupa, Kabupaten Tangerang, Banten, beberapa waktu lalu.

Ironisnya, sejumlah warga merekam kejadian memalukan tersebut lalu mengunggah ke medsos hingga menjadi viral. Selain memburu pengunggah video kekerasan terhadap sepasang kekasih itu, polisi kembali menangkap dua warga berinisial I dan S.

Dengan begitu, jumlah pelaku penganiayaan yang berhasil ditangkap berjumlah enam orang. Dua di antaranya Ketua RT yakni G, 44, dan Ketua RW berinisial T, 41. Dua tersangka lainnya, yaitu A dan N.

Kasat Reskrim Polresta Tangerang Kompol Wiwin Setiawan menjelaskan, tiga pelaku, yakni G, N, dan A berperan memaksa korban Rian untuk mengaku telah berbuat mesum. Mereka juga sempat mencekik atau memegang kerah baju korban hingga korban mengalami luka.

Dia menceritakan, peristiwa bermula ketika Rian mengunjungi rumah kontrakan Mia. Pasangan ini sudah dijodohkan dan telah mengikat janji segera menikah. Saat tengah asyik berduaan, Mia lapar dan minta dibelikan makanan.

Sekitar pukul 22.00 WIB, Rian keluar untuk membeli makanan. Setelah itu, mereka makan. Kemudian, Riankekamarmandi untuk buang air kecil dengan tidak menutup seluruh pintunya. Sementara Mia tetap berada di posisinya. Saat itulah G dan beberapa warga menggeruduk sambil berteriak- teriakmesum, pasangan mesum, tangkap, tangkap.

Rian yang masih berada di kamar mandi gelagapan. Warga pun dengan kasar menyeret keduanya keluar rumah kontrakan dan dipaksa membuka celana dan baju. Mereka diarak ke jalan kampung. Sepanjang jalan, Rian dan Mia diteriaki, dicaci, dianiaya oleh warga.

“Saat di depan ruko, mereka ditelanjangi, ditempeleng, dipukuli. Yang paling menyedihkan, salah satu pelaku membuka paksa baju korban Mia. Dalam kondisi telanjang, mereka diarak ke rumah Ketua RW,” ungkap Wiwin.

Menurut Kriminolog Universitas Indonesia Ferdinand Andi Lolo, pelaku pengarak pasangan yang difitnah mesum harus ditindak tegas. Tindakan main hakim sendiri sudah merugikan orang lain dan tidak sesuai aturan berlaku.

“Aparat juga harus tegas, jangan ada kompromi sehingga masyarakat menjadikan ini sebagai pelajaran dan tidak diulangi di masa depan,” ujarnya.

Jika pelaku ditindak tegas, orang lain akan berpikir ulang untukmelakukanhalyangsama. Sebaliknya, masyarakat bisa melihat contoh tidak tegas jika pelaku tidak diberikan sanksi yang sesuai. “Kuncinya tegas dan jangankompromi,” ucapnya

hasan kurniawan/ r ratna purnama