Edisi 15-11-2017
Uni Eropa Sepakati Traktat Pertahanan


BRUSSELS - Uni Eropa (UE) menyepakati traktat pertahanan untuk memperkuat kerja sama di blok tersebut seiring proses Brexit dan krisis politik di Ukraina.

UE telah membentuk Kerja Sama Struktur Permanen dalam Kesepakatan Pertahanan (PESCO) di Brussels, Belgia, kemarin. PESCO dibentuk untuk meningkatkan koordinasi dalam pengembangan sistem persenjataan dan pertahanan.

Ini merupakan bagian upaya yang dipimpin Jerman dan Prancis untuk memperkuat UE. UE diduga akan kehilangan anggaran pertahanan senilai USD6,4 miliar jika Inggris sudah resmi keluar dari blok tersebut atau biasa disebut Brexit.

Kepala Diplomatik UE Federica Mogherini menilai positif kesepakatan tersebut sebagai lembaran baru bagi pertahanan Eropa. “Saat ini, kami telah mengajukan lebih dari 50 proyek baru,” ujar Mogherini, dikutip Channel News Asia (CNA ).

Upaya peningkatan hubungan militer di antara seluruh anggota UE sudah dicanangkan sejak beberapa dekade lalu. Meski demikian, usulan tersebut selalu terbengkalai lantaran mendapat perlawanan yang sangat kuat dari Inggris yang cemas terbentuk pakta militer baru di Eropa.

Bagaimana pun, krisis di Ukraina mendesak Eropa memiliki keamanan lebih kuat. Perubahan kebijakan di Amerika Serikat (AS) yang kini dipimpin Presiden Donald Trump juga menimbulkan banyak keraguan.

Para pemegang kekuasaan di Eropa mempertanyakan, dapatkah AS diandalkan untuk melindungi Eropa jika suatu saat terjadi krisis keamanan. Akankah AS melindungi Eropa seperti saat terjadi Perang Dunia II? “PESCO penting bagi kami, khususnya setelah Pilpres AS sehingga kami dapat mengatur diri kami sendiri sebagai orang Eropa.

PESCO akan saling melengkapi dengan NATO. Namun, kami menyelesaikan masalah keamanan di Eropa oleh kami sendiri,” kata Menteri Pertahanan (Menhan) Jerman Ursula von der Leyen. Mogherini menilai, NATO akan tetap memegang peranan utama.

Namun, UE juga dapat memberikan bantuan sumber daya yang tidak dimiliki NATO. Di atas kertas, PESCO akan memimpin operasional markas utama atau gudang logistik di Eropa. Mereka akan fokus pada pengembangan perlengkapan militer seperti tank.

Sesuai kesepakatan, ke-23 negara anggota UE harus berkomitmen meningkatkan anggaran pertahanan secara reguler, termasuk menyediakan 20% anggaran pembelian alat militer dan 2% untuk riset dan pengembangan teknologi.

Dengan koordinasi yang baik, negara Eropa diharapkan memiliki pertahanan yang lebih solid. “Isu sebenarnya bukan seberapa banyak kita menghabiskan uang untuk pertahanan militer, tapi kenyataan kita menghabiskannya secara sedikitsedikit,” kata Mogherini.
Kesepakatan itu juga mengikat anggota negara UE menyediakan dukungan substansial di Eropa, termasuk mengirimkan pasukan dalam misi militer UE. Negara yang menandatangani PESCO akan dievaluasi setiap tahun untuk memastikan berkomit mendengan isi PESCO.

Jika terbukti melanggar, mereka akan dikeluarkan. Kesepakatan itu akan diluncurkan secara resmi pada malam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) UE pada Desember mendatang supaya sah secara hukum. Jerman dan Prancis menawarkan visi masing-masing saat membentuk PESCO.

Jerman menginginkan keanggotaan sebanyak mungkin untuk merancang skema yang lebih lengkap. Adapun Prancis hanya menginginkan kelompok kecil yang berkomitmen dalam bidang militer, termasuk melakukan intervensi militer ke luar negeri. Ahli pertahanan Frederic Mauro mengaku skeptis dengan keberadaan PESCO.

“PESCO tidak akan banyak berguna di Eropa,” katanya. Selain itu, semua negara memiliki hak veto sehingga kesepakatan dalam isuisu kontensius akan sulit dibuat. Inggris yang meninggalkan UE, Denmark, Malta, Irlandia, dan Portugal menolak bergabung.

muh shamil