Edisi 15-11-2017
Sistem Pembayaran dan Energi Ramah Lingkungan


Keluarnya Amerika Serikat dari Paris Agreement merupakan dampak langsung ataupun tidak langsung dari krisis sistem pembayaran di Amerika Serikat ketika krisis perekonomian menghantam perekonomian negara itu.

Da lam kasus Amerika Serikat je las sekali bahwa arah hu bung - an nya seperti itu. Lantas, apakah per kem - bang an energi ramah ling kung - an akan memengaruhi sistem pem bayaran? Sulit mencari ja - wab an untuk itu. Dalam kasus ru s aknya pembangkit nuklir aki bat gangguan pada alam dan bu mi, seperti di Jepang dan Uni So viet (Rusia), maka dam pak - nya sudah pasti bahwa sistem pem bayaran juga terganggu.

Na mun, dalam kondisi ek s ter - na litas lainnya yang negatif se - per ti menumpuknya kar bon di - ok sida masih menunggu ja wab - an para ilmuwan dunia. Pemilik industri yang meng - ha silkan emisi gas rumah kaca ke atmosfer memiliki ke ter ta - rik an atau diwajibkan oleh hu - kum untuk menyeimbangkan emi si yang mereka keluarkan me lalui mekanisme sekuestrasi kar bon.

Fasilitas pembangkit te naga listrik bisa termasuk ke da lam industri ini. Sementara di sisi sebaliknya pe milik yang mengelola hutan atau lahan pertanian bisa me n - jual kredit karbon berdasarkan aku mulasi karbon yang ter kan - dung dalam pepohonan di hu - tan mereka.

Bisa juga pengelola in dustri yang mengurangi emisi kar bon mereka menjual emisi me reka yang telah dikurangi ke - p ada emitor lain. T ujuan utama dari per jan ji - an ini adalah menahan laju p e - ning katan temperatur global hing ga di bawah 2 derajat Cel - sius dari angka sebelum masa Re volusi Industri, dan men c a - pai upaya dalam membatasi per ubahan temperatur hingga se t idaknya 1,5 derajat Celsius.

Pem batasan ini akan secara sig - ni fikan mengurangi risiko dan dam pak dari perubahan iklim. Logikanya, dampak negatif da ri kerusakan lingkungan da - pat menyelamatkan sistem pem ba yaran. Selain itu, akan me ningkatkan kemampuan un - tuk beradaptasi terhadap dam - pak dari perubahan iklim, me - ning katkan ketahanan iklim, dan melaksanakan pem b a ngun - an yang bersifat rendah emi si gas ru mah kaca tanpa meng ancam pro duksi pangan.

Tu juan ini juga akan mem e nga ruhi sistem pem - ba yaran de ngan memberikan in - sen tif po si tif bagi sistem pem ba - yar an yang pro lingkungan hi - dup. Ju ga akan tercipta suplai fi - nan sial yang konsisten demi ter - ca pai nya pembangunan yang ber si fat rendah emisi gas rumah ka ca dan tahan terhadap per - ubah an iklim.

*** Dengan demikian, sistem pem bayaran dalam konteks ling kungan tidak bisa bersifat ne t ral. Dampak lingkungan ter - ha d ap sistem pembayaran ber - si fat seperti trisula. Ini me nun - tut perbaikan kurikulum pen di - dik an agar berbasis lingkungan hi dup.

Beberapa faktor bagi pe - ne rapan lingkungan dalam upa - y a ini harus mem per tim bang - kan lingkungan sebagai suatu to talitas–alami dan buatan, ber - si f at teknologi dan sosial (eko - no mi, politik, kultural, his t o ris, mo ral, estetika). Upaya ini me - ru pakan suatu proses yang ber - ja lan secara terus-menerus dan se panjang hidup, dimulai pa da za man prasekolah dan ber lanjut ke tahap pendidikan for mal atau pun nonformal.

Per lu pen - de katan yang sifatnya in ter di - sip liner, dengan me na rik/ meng ambil isi atau ciri spe si fik da ri masing-masing di sip lin il - mu sehingga me mung kin kan sua tu pendekatan yang ho lis tik dan perspektif yang seimbang.

Kita harus meneliti (exa - mine) isu lingkungan yang uta - ma dari sudut pandang lokal, na s ional, regional, dan int er na - sio nal, sehingga siswa dapat me ne rima insight mengenai kon disi lingkungan di wilayah geo grafis yang lain.

Memberi tek anan pada situasi lingk ung - an saat ini dan situasi ling kung - an yang potensial, dengan me - m a sukkan pertimbangan pers - p e ktif historisnya. Mem pro - mo si kan nilai dan pentingnya ker ja sama lokal, nasional dan in ternasional untuk mencegah dan memecahkan masalah-ma - sa lah lingkungan.

Kita harus secara eksplisit mem per tim bangkan/mem - per hi tungkan aspek ling kung - an da lam rencana pem ba ngun - an dan pertumbuhan. Proses yang di ambil harus me ma m pu - kan pe serta didik untuk mem - pu nyai peran dalam meren ca - na kan pengalaman belajar me - re ka dan memberi kesempatan me re ka untuk membuat kep u - tus an dan menerima kon se - kuen si da ri keputusan tersebut.

Ha rus ada cara untuk menghu - bung kan kepekaan kepada ling - kung an, pen getahuan, kete - ram pilan un t uk memecahkan ma salah dan klarifikasi nilai pa - da setiap ta hap umur. Secara khu sus un tuk peserta didik ber - umur mu da (tahun-tahun per - ta ma) di be ri kan tekanan yang khu sus ter hadap kepekaan ling - kung an ter hadap lingkungan tem pat me reka hidup.

Pendidikan harus mem ban - tu peserta didik untuk me ne - mu kan (discover), gejala-gejala dan penyebab dari masalah ling kungan. Prosesnya harus mem beri tekanan pada kom - plek sitas masalah lingkungan se hingga diperlukan ke mam - pu an untuk berpikir secara kri - tis dengan keterampilan untuk me mecahkan masalah.

Me - man faatkan beraneka ragam si - tua si pembelajaran (learning en - vi ronment)dan berbagai pen de - kat an dalam pembelajaran me - nge nai dan dari lingkungan de - ngan tekanan yang kuat pada kegiatan-kegiatan yang si fat - nya praktis dan memberikan pe ngalaman secara langsung (first-hand experience).

*** Kembali ke masalah pe ma - nas an global. Beberapa hal yang ma sih diragukan para ilmuwan ada lah mengenai jumlah pe ma - nas an yang diperkirakan akan ter jadi pada masa depan, dan bag aimana pemanasan serta per ubahan-perubahan yang ter jadi tersebut akan bervariasi da ri satu daerah ke daerah yang lain.

Hingga saat ini masih ter ja - di perdebatan politik dan publik di dunia mengenai apa, jika ada, tin dakan yang harus dilakukan un tuk mengurangi atau mem - ba likkan pemanasan lebih la n - jut atau untuk beradaptasi ter - ha dap konsekuensi-konse - kuen si yang ada.
Sebagian besar pem e rin tah - an negara-negara di dunia telah me nandatangani dan me ra ti fi - ka si Protokol Kyoto, yang meng - arah pada pengurangan emi si gas-gas rumah kaca. Mo del iklim saat ini menghasilkan ke mirip - an yang cukup baik de ngan per - ubah an suhu global ha sil peng - amat an selama seratus ta hun ter akhir, tetapi tidak me nyi mu - la si semua aspek dari iklim.

Model-model ini tidak se cara pas ti menyatakan bahwa pe ma - nas an yang terjadi antara ta h un 1910 hingga 1945 di se bab kan oleh proses alami atau ak t ivitas ma nusia, tetapi me re ka me nun - juk kan bahwa pe ma nas an sejak 1975 didominasi oleh emisi gasgas yang diha sil kan manusia.

Para ilmuwan telah mem pe - la jari pemanasan global ber da - sar kan model-model komputer ber d asarkan prinsip-prinsip da sar dinamika fluida, transfer ra diasi, dan proses-proses lain - nya, dengan beberapa pe nye - der hanaan disebabkan ke ter ba - tas an kemampuan komputer.

Model-model ini mem pre dik si - kan bahwa penambahan gasgas rumah kaca berefek pada iklim yang lebih hangat. W a lau - pun digunakan asumsi-asumsi yang sama terhadap konsen tra - si gas rumah kaca pada masa de - pan, sensitivitas iklimnya ma - sih akan berada pada suatu ren - tang tertentu. Sejauh mana Trump paham akan model-mo - del ini memang masih dalam per debatan, tapi yang jelas Trump tak ingin sistem pem ba - yar an memburuk. Sebuah trade off yang besar!

ACHMAD DENI DARURI

President Director Center for Banking Crisis