Edisi 15-11-2017
Tajuk-Menyiapkan Masa Depan


Pemerintah Arab Saudi telah berancang-ancang melepas ketergantungan pendapatan negara mereka dengan mengubah ratusan mil persegi wilayah gurun di negeri itu menjadi kota-ko ta baru.

Dengan membangun kota baru diharapkan ada pemasukan ba ru dari jasa atau wisata. Salah satu pembangunan yang sedang di la kukan adalah konstruksi Pusat Keuangan Raja Ab dullah atau di sing kat King Abdullah Financial District (KAFD). To tal biaya atau in ves tasi yang digunakan untuk proyek tersebut men capai USD10 mi liar atau setara Rp136 triliun.

Hingga saat ini se kitar USD8 miliar te lah dibelanjakan dalam pembangunan pro - yek prestisius itu. Proyek se luas 1,6 juta meter persegi tersebut akan diisi dengan lebih 60 apar temen, kantor, dan menara ritel, be berapa sekolah dan garasi par kir, klinik medis, gedung-gedung pub lik, dan tiga hotel.

Saat pem bangunan selesai, kota baru itu da pat menampung 50.000 pen du duk. Ini bagian dari rencana re - for masi Pemerintah Arab Saudi pa da 2030 agar bisa lebih mampu ber bicara di kancah internasional. Langkah yang sama dan lebih dulu dilakukan adalah Pemerintah Uni Emirat Arab (UEA).

Dengan ikonnya, yaitu Kota Dubai, Pe me - rin tah UEA ingin mengurangi ketergantungan mereka terhadap pe - ma sukan dari minyak. Sekarang Dubai adalah salah satu destinasi wi sa ta dunia bersaing dengan negara-negara Eropa. Kota ini di ba - ngun dengan keunikan dan kemewahan untuk menarik investor atau wisatawan.

Pembangunan gedung-gedung bertingkat untuk me na rik investor ke Dubai, tempat-tempat wisata baru dengan ke - khas an mereka dibangun. Terbaru adalah Louvre Abu Dhabi yang me ru pakan ”adik” dari Museum Louvre Paris yang terkenal. Masih b a nyak ikon-ikon di kota tersebut dan membuat Dubai menjadi kota ter populer kelima di dunia.

Bahkan, dengan pembangunan yang ma sif, Dubai mengusai 66% ekonomi wisata di negara tersebut. Arab Saudi dan UEA adalah beberapa contoh negara yang telah me mikirkan masa depan negaranya. China pun bergerak dengan tek nologi informasi untuk menatap masa depan.

Pemerintah China sa dar untuk menggerakkan penduduknya yang berjumlah sekitar 1,4 miliar orang atau menguasai 18,8% rasio penduduk dunia yang men capai 7,4 miliar orang, dibutuhkan teknologi. Untuk meng hu - bung kan miliar penduduknya, China membutuhkan teknologi in - for masi yang memang borderless.

Hasilnya, jangan kaget ketika saat ini perusahaan-perusahaan teknologi informasi mereka telah men - jadi raksasa dunia menyaingi bahkan mengungguli perusahaanperusahaan yang sama di Amerika Serikat atau Eropa. China pun men jadi negara dengan cadangan devisa terbesar dan pertumbuhan eko nomi yang menjanjikan.

Lalu, bagaimana dengan Indonesia? Tentu, Indonesia harus mem punyai kesadarannya untuk membangun masa depan. Dengan ke khasan kekayaan alam yang melimpah, semestinya Indonesia su - dah bisa berancang-ancang untuk bisa menjadi besar.

Apa yang tidak di miliki negara lain dan juga dibutuhkan negara lain ada di In do ne - sia. Industri pariwisata alam yang hanya butuh perawatan, tumbuhtumbuhan yang dibutuhkan dunia seperti rempah-rempah atau ke - la pa sawit pun bisa menjadi andalan.

Panjang pantai terpanjang ke - dua setelah Kanada semestinya bisa menghasilkan garam terbesar. Ke c erdasan penduduknya karena memiliki peradaban yang tinggi bi sa bersaing dengan bangsa lain. Indonesia mempunyai modal untuk membangun masa depan.

Ha nya butuh kemauan yang tulus dari seluruh elemen masyarakat u n tuk mendorong bangsa ini menyiapkan masa depan menjadi le - bih baik atau bahkan terbaik di dunia. Sayang, persinggungan kepentingan-kepentingan kelompok menjadi penghalang bangsa ini untuk bisa menyiapkan masa depannya lebih baik.

Belum lagi kepentingan-kepentingan pendek yang mendominasi dalam ba - nyak kehidupan di Indonesia. Pembangunan yang saat ini dilakukan le bih banyak untuk mengatasi ketertinggalan, bukan untuk me - nyia p kan masa depan.

Tentu, harapannya, semua elemen ma sya ra - kat mempunyai pikiran dan tindakan untuk menyiapkan masa de - pan bangsa ini seperti Arab Saudi, UEA, ataupun China. Kalau me re - ka bisa, Indonesia yang telah memiliki modal kenapa tidak bisa? Saat nya menyiapkan masa depan bangsa ini.







Berita Lainnya...