Edisi 15-11-2017
Kampanyekan Science Communication


KEMENTERIAN Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia menyelenggarakan Science Communication : Membangun Masyarakat Indonesia Berbasis Ilmu Pengetahuan dan Teknologi .

Tujuannya untuk mendidik publik dan membudayakan riset di masyarakat guna membentuk bangsa yang peduli dengan ilmu pengetahuan dan teknologi. “Indonesia ini kan bangsa yang besar.

Dengan sumber daya manusia yang dikelilingi sumber daya alam yang sangat berpotensi, kita harus menjadi bangsa yang berlandaskan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dengan begitu, kita tidak akan mudah tertipu oleh hal-hal yang tidak masuk akal,” papar Ali Ghufron Mukti selaku Direktur Jenderal Sumber Daya Iptek dan Dikti .

Saat ini banyak masyarakat yang cenderung mempercayai hoax atau hal yang tidak rasional. Sementara ada temuan ilmu pengetahuan dan teknologi seperti pemanfaatan nuklir justru kerap dipandang sebelah mata. Padahal, nuklir memiliki potensi yang sangat besar untuk menyelamatkan Indonesia dari krisis energi.

Prof Dr Djarot S Wisnubroto selaku Kepala Bidang Pengembangan Teknologi Daur Bahan Nuklir dan Rekayasa di Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) menyampaikan, “Energi nuklir itu menjadi satusatunya sumber listrik yang tidak memancarkan gas rumah kaca sehingga secara efektif bisa mengganti bahan bakar fosil.

Selain itu, energi nuklir bisa dimanfaatkan untuk meningkatkan kesejahteraan manusia atas peran pentingnya dalam memasok listrik dunia. Bahkan, saat ini tercatat ada 439 pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) yang beroperasi di 32 negara.”

Di Indonesia, pengembangan teknologi nuklir telah diupayakan di Indonesia oleh Batan dengan hasil yang telah membantu meningkatkan kehidupan rakyat Indonesia di berbagai bidang, termasuk bidang peternakan, bidang pertanian, bidang pertambangan, dan bidang kedokteran.

Inilah mengapa pemerintah melalui Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi menerapkan science Communications yang bertujuan mengekspos berbagai manfaat tenaga nuklir hingga pengembangan riset lainnya.

Namun, agar penerapannya efektif secara menyeluruh di masyarakat, pemerintah tidak bekerja sendiri. Science communication bukan hanya antar-scientist saja, juga scientist kepada non-scientist.

Karena itu, kalangan akademisi dirasa turut berperan penting dan bisa memulai terlebih dahulu dalam melakukan komunikasi sains. Prof Dr Ibnu Hamad MSi selaku Guru Besar Departemen Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia berpendapat, “Di ranah akademik, kami setuju bahwa fondasi dari science communication adalah riset dan penelitian.

gen sindo