Edisi 15-11-2017
Kemewahan Perhiasan Vintage


BAGI penggemar perhiasan, aksesori bernapaskan vintage memiliki paduan menarik yang menggambarkan kecantikan dari sisi gaya dan zamannya.

Bukan hanya karena cantik yang membuat banyak kaum khususnya wanita bertekuk lutut di hadapan perhiasan vintage , nilai sejarah pun jadi titik pemuas pencintanya. Dilansir dari Telegraph , harus diakui, ada gairah tertentu dari campuran gaya dan era dalam melihat perhiasan vintage .

Terlebih dengan bentuk perhiasan yang menyeni dan sentuhan batu alam yang mendunia. Penggemar dari Art Nouveau danArt Deco Jewellry , setidaknya dapat melihat 110 objek perhiasan yang akan dijual di Christies Genewa, mulai dari bros, cincin, hingga kalung.

Dengan mengangkat tema, Magnificent Jewels from a European Collection , perhiasan tersebut merupakan bagian dari penjualan seharga 30 juta poundsterling. Perhiasan yang dijual termasuk seni impresionis dan modern, seni pascaperang dan seni kontemporer, serta seni dan desain Afrika, yang semuanya dari koleksi pribadi yang sama.

Semuanya telah dikumpulkan selama 25 tahun oleh kolektor (pasangan) seni modern, dan juga perhiasan. Seorang french gallerist , Michel Perinet Prancis, mengungkapkan sebagian besar potongan penjualan berasal dari awal tahun 1970-an.

Selama bertahun-tahun, kolektor itu mengumpulkan koleksi potonganpotongan Art Nouveau yang mengesankan dari orang-orang seperti Lalique, Henri Vever, dan Leopold Gautrait, sebelum pindah untuk membeli permata Art Deco .

Tentunya, nilai perhiasan Art Deco saat itu hampir tidak sehebat hari ini. Michel melihat, memang tidak mudah mengusulkan untuk menjual koleksi perhiasan yang telah dibeli lebih dari 40 tahun lalu. Terlebih pasangan kolektor ini, memiliki rasa, keberanian dan penglihatan untuk mempertahankan potongan perhiasannya.

Bagi mereka, itu adalah ekspresi dari kepentingan bersama mereka (sang kolektor). Menampilkan karya penting bersejarah dari Georges Fouquet, Raymond Templier, Cartier, Van Cleef dan Arpels di samping 50 lot milik Lalique, 110 perhiasan tersebut diperkirakan bernilai 1,75-2,5 juta poundsterling atau senilai Rp31 miliar- Rp40 miliar.

David Warren, Christies Senior International Jewellery Director and Head of the Middle East, telah memperlihatkan beberapa perhiasan yang menonjol. “René Lalique diterima sebagai grand master Art Nouveau .

Lalique adalah nama yang segera muncul saat Anda memikirkan perhiasan Art Nouveau . Ada satu potongan Lalique yang sangat sulit, saya tertarik dengan bros thistle ini,” ungkap David dilansir dari Telegraph . Dengan panjang sekitar 15 cm, bros dengan dominasi warna biru dianggap memiliki potongan dinamis dan berani.

Tentunya kedua sisi dibuat simetri dengan batu aquamarine besar di bagian tengah. Bros ini memang dirancang untuk digunakan secara diagonal di bagian bahu atau topi yang dikenakan. Ada pula cincin Dragonfly karya Lucien Gailiard, yang benar-benar menampakkan kecantikan lewat detail mungilnya.

Cincin ini memperlihatkan bentuk capung, di mana sayapnya dibuat melingkar lengkap dengan guratannya. Meskipun memuat unsur hewan, cincin tersebut menonjolkan sisi femininnya. “Kekuatan desain - sepotong kecil perhiasan tapi pernyataan yang sangat berani.

Dan capung itu adalah bayangan yang indah dan emotif,” lanjutnya. Cincin Dragonfly dihargai 4.200 poundsterling atau sekitar Rp74 juta. Ada pula bros Fibula oleh Janesich yang dibuat pada 1930. Bros melingkar lengkap dengan butiran berlian terlihat sangat elegan.

Desain ini merupakan ciri khas periode Art Deco . Biasanya Deco terlihat dalam warna, bentuk yang penuh kesederhanaan. “Ini adalah desain Art Deco yang klasik dan kuat, sangat berbeda dengan potongan-potongan Art Nouveau yang ada sebelumnya.

Dalam pelelangan Anda dapat melihat penjajaran yang indah ini antara garis halus, wanita bergaya pra-Raphaelite dan tokoh nimfa Art Nouveau ,” sambungnya. Ada pula kalung dengan bandul bertahtakan berlian dan batu zamrud berbentuk seperti tas jinjing karya Georges Fouquet tahun 1925.

Satu-satunya kesamaan Art Nouveau dan Art Deco adalah penggunaan batu zamrud. Dalam perhiasan Art Nouveau , ada banyak simbolisme tanaman hijau yang digunakan sebagai simbol kesetiaan dan umur panjang.

Adapun Fouquet menggunakan zamrud yang juga mewakili kehijauan, kelahiran kembali dan naturalisme namun dengan cara yang sangat berbeda. Fouquet menciptakan kalung ini untuk World Fair 1925 , sebuah acara legendaris untuk gerakan Art Deco .

nurul adriyana