Edisi 15-11-2017
Asrama Mahasiswa Longsor, Satu Tewas


SEMARANG– Dinding talud penahan tanah setinggi sekitar 7 meter di sebelah Asrama Mahasiswa Sekolah Tinggi Teologia (STT) Sangkakala di Dusun Kenteng, Desa Sumogawe, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang, longsor, Senin (13/11) malam.

Longsoran material talud berupa batu dan tanah menimpa delapan kamar asrama sekolah tinggi tersebut. Akibatnya, seorang mahasiswi bernama Ressy, 22, asal Kuala Kurun, Kabupaten Gunung Mas, Kalimantan Tengah tewas. Korban tewas lantaran mengalami luka parah di bagian kepala dan dada akibat tertimbun longsoran material.

Tak hanya itu, kejadian ini juga mengakibatkan dua orang mahasiswa lainnya, yakni Imanuel Nuban, 21, asal Desa Noebeba, Kecamatan Kuanfatu, Kabupaten Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur (NTT); dan Marcelina, 19, asal Sumba Timur, NTT mengalami luka berat. Keduanya menderita luka di bagian kaki dan tangan.

Salah seorang mahasiswa STT Sangkakala, Cristoper, 22, menuturkan, sebelum kejadian, wilayah lingkungan kampus dan sekitarnya diguyur hujan deras. Kondisi ini membuat sebanyak 120 mahasiswa STT Sangkakala yang tinggal di asrama memilih beristirahat di dalam kamar.

“Sekitar pukul 20.00 WIB, tiba-tiba terdengar suara gemuruh dari samping asrama. Saat itu juga sejumlah kamar asrama porak-poranda tertimpa longsoran material talud,” ungkapnya kemarin. Longsoran material talud yang berada persis di samping asrama longsor menimpa empat kamar asrama blok putra dan empat kamar asrama blok putri.

Kejadian ini membuat ratusan mahasiswa panik. Mereka langsung berhamburan ke luar kamar menyelamatkan diri. Akhirnya mereka dievakuasi di aula kampus. Setelah evakuasi, sejumlah mahasiswa dan pegawai STT Sangkakala memeriksa kamar untuk mencari mahasiswa yang diduga masih berada di dalam kamar.

Saat pencarian di blok asrama putra, mereka menemukan Imanuel Nuban dalam kondisi terluka di bagian tangan dan kaki. Kemudian, di salah satu kamar asrama putri, mereka mendapati Marcelina yang terjebak di dalam kamar. Setelah dievakuasi, Marcelina mengabarkan bahwa Ressy tertimbun material.

Sejumlah mahasiswa langsung melakukan pencarian dan menemukan korban dalam kondisi meninggal dunia dengan luka di bagian kepala dan dada. Selanjutnya, kedua korban selamat dan seorang korban meninggal dibawa ke Rumah Sakit dr Ario Wirawan, Salatiga.

Staf Bagian Administrasi Akademik STT Sangkakala Agung Dian mengatakan, panjang bangunan talud yang berada di belakang asrama mahasiswa mencapai 100 meter. Namun, bangunan yang longsor sepanjang 30 meter. Talud tersebut longsor diduga lantaran tak kuat menahan banyaknya debit dan derasnya air hujan.

“Sejak siang hari (Senin, 13/11), wilayah Getasan diguyur hujan deras. Sekitar pukul 20.00 WIB, tiba-tiba talud longsor dan menimpa empat kamar di blok asrama putra dan empat kamar di blok asrama putri.

Besar kemungkinan talud longsor karena tidak kuat menahan banyaknya debit air dan deras arus air hujan yang mengalir,” paparnya. Di atas bangunan asrama itu berdiri gedung serbaguna yang masih dalam proses pembangunan.

Pembangunan gedung itu dimulai awal 2017 dan hingga saat ini belum selesai 100%. “Pembangunan gedung serbaguna belum selesai 100%. Mungkin karena tanahnya belum keras dan belum tersedia saluran yang memadai untuk pembuangan air sehingga talud terkikis dan akhirnya longsor,” kata Agung Dian.

Pascakejadian bencana talud longsor di kompleks STT Sangkakala, Polres Semarang langsung melakukan penyelidikan. Hari ini tim Labfor Polres Semarang akan melakukan pemeriksaan bangunan dan talud yang longsor.

Kasat Reskrim Polres Semarang AKP Yusi Andi Sukmana mengatakan, pemeriksaan Labfor dilakukan untuk mencari penyebab ambrolnya talud di kompleks STT Sangkakala yang menewaskan seorang mahasiswa dan mengakibatkan dua orang mahasiswa lainnya mengalami luka itu.

angga rosa