Edisi 20-11-2017
Muhammadiyah Merekat Kebersamaan


YOGYAKARTA – Perayaan Milad Muhammadiyah yang ke- 105 kali ini berbeda dari acaraacara sebelumnya.

Nuansa budaya terlihat menonjol dalam resepsi milad kali ini. Secara khusus perayaan milad yang jatuh pada 18 November 2017 ini digelar di Pagelaran Keraton Yogyakarta. Tak hanya itu, seluruh panitia yang terlibat dalam hajatan bertema “Muhammadiyah Merekat Kebersamaan” ini mengenakan busana Jawa. Sebelum acara resmi dimulai, sekitar pukul 19.30 ditampilkan panduan suara yang membawakan lagu Jangkring Gengong yang kemudian dilanjutkan dengan pertunjukan sendratari dan sejumlah tari-tarian.

“Alhamdulillah hari ini Muhammadiyah merayakan Milad Ke-105. Milad merupakan refleksi syukur atas karunia Allah bahwa gerakan Islam berkemajuan yang didirikan oleh KH Ahmad Dahlan ini tetap istikamah berkiprah di jalan dakwah dan tajdid untuk mencerahkan umat, bangsa, dan kemanusiaan semesta,” terang Ketum PP Muhammadiyah Haedar Nashir. Lebih lanjut Haedar mengungkapkan, jika dalam upacara milad tersebut para pimpinan dan peserta Muhammadiyah dari pusat dan wilayah serta amal usaha memakai pakaian nasional dan daerah yang khas, semua itu wujud simbolik dari kehendak merekat kebersamaan yang indah di tengah keragaman.

Haedar mengutip perkataan filsuf Prancis, Ernest Renan, bahwa di tubuh suatu bangsa terdapat ikatan batin yang dipersatukan karena memiliki persamaan sejarah dan cita-cita yang sama walaupun di dalamnya terdapat beragam suku, ras, budaya, bahasa, dan adat istiadat. “Keragaman atau kemajemukan tidak menghalangi kita hidup bersama secara damai, toleran, dan saling memajukan,” tegas dia.

Dalam milad tersebut, PP Muhammadiyah juga memberikan Muhammadiyah Award kepada tiga tokoh yang memiliki jasa besar bagi persyarikatan, yakni Sri Sultan HB X, H Roemani, salah satu warga biasa yang memiliki dedikasi dan kedermawanan dalam membangun Rumah Sakit Muhammadiyah, dan yang terakhir penghargaan akan diberikan kepada Profesor Mitsuko Nakamura, peneliti asal Jepang, yang telah banyak meneliti perkembangan Islam, khususnya Muhammadiyah. Raja Yogyakarta Sri Sultan Hamengku Buwono X menyambut baik award yang diberikan Muhammadiyah.

Raja Yogyakarta ini juga memberikan selamat atas Milad Muhammadiyah yang ke-105. Menurut Sultan, Muhammadiyah yang lahir di Yogyakarta sebagai gerakan murni pembaharu Islam sejak lahir hingga sekarang menunjukkan kedekatan antara Muhammadiyah dan Keraton. “Jika dua entitas ini bersinergi, niscaya akan menghasilkan kekuatan moral dahsyat yang memberi nilai tambah dan akselerasi terhadap semua gerakan moral di lini kehidupan kita,” terang dia.

ainun najib