Edisi 20-11-2017
Partai Berkuasa Pecat Mugabe


HARARE– Partai berkuasa di Zimbabwe, ZANU PF, memecat Presiden Robert Mugabe dari posisi ketua partai kemarin.

Pemecatan itu untuk memaksanya mundur dari kekuasaan secara damai setelah kudeta militer. Anggota komite sentral partai berkuasa ZANU PF Chris Mu - ts vangwa menjelaskan lang - kah tersebut pada kantor be ri - ta Reuters saat akan memulai ra pat luar biasa partai ke ma - rin. Dia menegaskan bahwa Mu gabe telah kehabisan wak - tu negosiasi untuk peng un - dur an diri dan harus me ning - gal kan negara itu saat dia bisa. “Kami mencoba semua cara. Dia mencoba menawar un tuk mundur secara ber mar tabat,” ungkap Chris Mu tsvang wa, dikutip Reuters, kemarin.

Mutsvangwa mengancam seruan unjuk rasa jalanan jika Mugabe tetap menolak mun - dur. “Kami akan membawa kem bali massa dan mereka akan melakukan pekerjaan mereka,” tandasnya. Mutsvangwa telah meng - gelar kampanye dalam 18 bu - lan terakhir untuk meng gu - ling kan Mugabe. ZANU PF ju - ga memecat istri Mugabe, Grace, dari jabatan ketua Liga Perempuan dan memberikan posisi lagi pada mantan wakil pre siden Zimbabwe Em mer - son Mnangagwa. Mantan kepala keamanan negara yang dijuluki “buaya” itu juga ada dalam posisi untuk me mimpin pemerintahan se - men tara setelah Mugabe.

Pe - me rintahan bersatu itu akan fokus membangun kembali hu bungan Zimbabwe dengan du nia luar dan menstabilkan eko nomi yang sedang meng - alami krisis. Televisi Zimbabwe me la - por kan pada Jumat (17/11) bahwa Mugabe akan bertemu para komandan militer yang memimpin kudeta empat hari lalu dan pendeta Katolik yang menjadi mediator negosiasi antara kedua pihak. Sabtu (18/11) ratusan ribu orang berunjuk rasa di Harare. Mereka menari dan memeluk para tentara karena merasa yakin Mugabe segera mundur. Penggulingan Mugabe yang terjadi dalam empat hari itu mengagetkan seluruh Af - rika.

Tren ini dapat menyebar ke negara Afrika lain yang ma - sih dipimpin tokoh kuat se ma - cam Mugabe. Saat ini Pemimpin Uganda Yoweri Museveni dan Pe mim - pin Kongo Joseph Kabila juga menghadapi tekanan untuk mundur. Pria, wanita, dan anakanak berjalan di sepanjang ken daraan lapis baja dan ten - ta ra yang pekan ini meng gu - ling kan pria yang telah me me - rin tah negara itu sejak mer - deka dari Inggris pada 1980. Dalam kompleks rumah Atap Biru yang mewah, Mugabe te - tap menolak mundur, meski dia telah melihat semua du - kung an terhadapnya telah hi - lang.

Partai berkuasa, badan ke amanan, dan warga Zim - babwe telah mencabut du - kung an terhadap Mugabe. Keponakannya, Patrick Zhu wao, mengatakan bahwa Mu gabe dan istrinya sudah siap mati untuk mem per ta - han kan apa yang mereka ang - gap benar daripada melegi ti - masi kudeta itu. Meski begitu, di jalanan Harare hanya sedikit yang ma - sih mengenang Mugabe se - bagai tokoh kemerdekaan. Publik juga lebih suka mem bi - carakan mimpi-mimpi mereka untuk perubahan politik dan ekonomi setelah dua dekade represi dan tekanan di bawah pemerintahan Mugabe. “Ada tangisan ke gembira an. Saya telah menunggu se pan - jang hidup saya untuk hari ini. Be bas pada akhirnya. Kami be - bas akhirnya,” ungkap Frank Mutsindikwa, 34, sam bil me - me gang bendera Zim babwe.

Massa dalam jumlah besar berkumpul di Harare untuk memuji intervensi militer da - lam menggulingkan Mugabe. Meski penuh kegembiraan, be - berapa lawan politik Mugabe khawatir dengan besarnya pe - ran yang dimainkan militer saat ini dalam kudeta tersebut. Mereka khawatir Zim - babwe dapat terjebak dalam pe rebutan kekuasaan oleh para politisi yang didukung faksi-faksi militer dan rakyat tak dapat memilih pemimpin yang mereka inginkan.

Syarifudin