Edisi 20-11-2017
Bawa Enam Paket Sabu, Kapospol Ditangkap


JAKARTA - Kepala Pos Polisi (Kapospol) Subsektor Tanah Tinggi, Johar Baru, Jakarta Pusat Ipda MS diamankan petugas Satnarkoba Polres Metro Jakarta Barat kemarin.

Dari tangannya petugas mengamankan enam paket sabusabu seberat 5 gram. Kapolres Metro Jakarta Pusat Kombes Pol Suyudi Ario Seto membenarkan kabar penangkapan tersebut. Menurut dia, tindakan Ipda MS ini mencoreng nama baik jajaran kepolisian, terutama Polres Metro Jakarta Pusat. Bahkan Suyudi mendukung penuh langkah Satnarkoba Polres Metro Jakarta Barat untuk menyelidiki kasus tersebut hingga tuntas.

“Jika memang terbukti memakai atau mengedarkan sabu, Ipda MS harus bertanggung jawab secara hukum dan kode etik kepolisian. Tetap akan dipidanakan dan kami proses kode etiknya nanti. Arahan untuk menjauhi narkoba selalu kami sampaikan, tetapi kalau masih nekat seperti ini ya risiko tanggung sendiri,” tegas Suyudi. Suyudi mengatakan, sabu seberat 5 gram yang dibawa Ipda MS kemungkinan besar bukanlah barang bukti kasus narkoba yang ditangani di wilayah hukum Polres Metro Jakarta Pusat. Dia menambahkan, Ipda MS baru setahun lebih menjalankan tugasnya sebagai kapospol Subsektor Tanah Tinggi.

“Selama bertugas, Ipda MS merupakan anggota yang biasa saja. Termasuk soal prestasinya. Ada indikasi yang bersangkutan memakai dan mengedarkan narkoba,” kata dia. Senada, Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Raden Prabowo Argo Yuwono mengatakan, Propam Polda Metro Jaya masih melakukan pemeriksaan terhadap yang bersangkutan. Belum diketahui secara pasti peran dari Ipda MS dalam kasus ini. “Dia masih diperiksa Propam terkait narkoba,” ucapnya.

Psikolog Universitas Pancasila (UP) Aully Grashinta menuturkan ada beberapa faktor penyebab seseorang terlibat narkoba. Pertama karena faktor ekonomi karena pada dasarnya orang tidak pernah puas dengan pendapatannya jadi selalu merasa kurang. Kedua motif kekuasaan. Menurut dia, pengedar memang sengaja menggunakan kekuasaan polisi untuk dapat bergerak dengan lebih leluasa. Sementara dari sisi polisi terdorong ingin menunjukkan kekuasaannya.

yan yusuf/ r ratna purnama