Edisi 07-12-2017
Media Cetak Lebih Dipercaya


JAKARTA –Koran akan mati karena ditinggalkan pembacanya? Ternyata tidak. Media cetak jenis ini masih menjadi pilihan pembaca karena beritanya dapat dipercaya.

Me d ia cetak lain, dalam hal ini tabloid dan majalah, juga ma sih menjadi pilihan masyarakat. Walaupun masih setia pada me dia cetak, para pem baca media cetak juga mengikuti perkembang an teknologi. Mereka ju ga menggunakan internet dalam kehidupan sehari-hari. Frekuen si me re ka meng gu na kan in ternet bahkan terbilang sangat tinggi, yakni mencapai 86% atau di atas rata-rata yang sebesar 61%.

”Hal ini semakin memper kuat fak ta bahwa pem baca me dia cetak berasal dari kalangan yang lebih affluent,” katanya. Di sisi lain, Nielsen juga meng ungkapkan, mes ki pun jum lah pendapatan belanja iklan turun 11% dari 2013 ke ta hun 2017, total pendapatan iklan koran yang ma sih tetap ber ada di angka Rp21 triliun.

Fak ta ini meng gambarkan bah wa media cetak masih memi liki peluang mendapatkan kue iklan yang signifikan. Hasil survei Nielsen senada de ngan temuan Zenith The ROI Agency di India. Menurut me reka, meski bisnis media cetak melesu dan tertinggal oleh me dia televisi dan digital, prospek surat kabar di India tetap ce rah.

Bahkan, koran akan terus mendominasi segmen media dalam tiga tahun ke depan. Me dia cetak akan memperoleh 38,9% dari total iklan 73.711 core pada 2020. Pada tahun yang sama, media digital diperkirakan akan me raup 15,4% penayangan iklan, sedangkan televisi 36,5%. CEO Zenith The ROI Agency India Tanmay Mohanty tidak menampik penetrasi in ternet tumbuh cepat dan berhasil mengakses pasar yang se belumnya tidak tersentuh se hingga persaing an akan kian ketat.

Pengakuisisian Time Inc oleh Meredith, juga menunjukkan potensi tersembunyi me - dia cetak yang sedang tertutup me dia online. ”Miliarder tidak mungkin menggelontorkan uang tanpa perhitungan. Mereka pasti melihat peluang komersial,” kata Presiden News Me dia Alliance, David Chavern, dilansir The Seattle Times.

Informasi Akurat

Ketua Program Studi Komunikasi, Program Pendidikan Vokasi Universitas Indone sia Ame lita Lusia menilai masyarakat bertahan membaca me dia cetak karena mereka mempunyai kebutuhan akan in formasi yang akurat untuk sum berreferen si. ”Meskipun ar tikel dengan topik sama ada di berita online atau ada di berita TV, untuk ana lisis yang s a ngat detail akan di temukan di ko ran,” tutup man tan jurnalis ini.

Dia memaparkan, saat ini orang masih percaya pada ko ran ka rena memiliki ke da lam an ana lisis saat membahas sua tu to pik, baik itu yang ber kait an dengan politik, dunia hi bur an, olah raga, dan sebagainya. ”Tem pat yang dimiliki media cetak seperti koran untuk menampilkan satu berita, me le bihi ka rakter tulisan di media on line un tuk satu berita yang sama.

”Ini memungkinkan penggalian berita dari aspek 5W 1H,” katanya. Dilihat dari alur kerja untuk media cetak ju ga lebih panjang. Penulisan di me dia cetak memungkinkan tu l isan yang dipub lished me le wati ”mata” kedua, ketiga, kee pat, dan seterus nya, se hing ga lebih akurat da lam mem verifikasi tulisan.

”Mata” yang dimaksud adalah tu lisan re porter melewati redaktur, kepala desk,editor bahasa, re daktur pelaksana, pemimpin redaksi,” paparnya. Lebih jauh dia me ma par kan, deadline yang lebih pan jang pada me dia konvensional seperti koran, memungkinkan pe nulis men cari lebih banyak sum ber agar tulisannya lebih berkualitas.

”Sumber tulisan itu bisa dari stu di kepustakaan, ob servasi, mau pun na ra sum ber,” katanya. Senada, pakar komunikasi po litik UIN Syarif Hidayatullah Ja karta Gun Gun Heryanto me man dang media cetak, dalam hal ini koran, diuntungkan ka r ena terbit secara harian, dengan sistem kerja yang melembaga dan memiliki tanggung jawab redaksi yang lebih baik.

”Be r beda dengan media TV meng gunakan frekuensi publik jelas terlihat kecenderungannya. Sementara media sosial dan online yang tidak kredibel se ring dipenetrasikan berita hoax. Bahkan, ada yang abai dengan kroscek,” katanya. Namun, dia mengingatkan ting kat kepercayaan yang baik be lum tentu berbanding lurus de ngan pola konsumsi.

Meskipun saling berhubungan, belum tentu saling menguatkan. ”Koran sebagai media terpercaya pun jika tidak ada inovasi maka akan ditinggalkan. Misalnya media cetak perlu ada ben tuk online-nya sebagai support,” tuturnya.

dita angga/ r ratna purnama/ shamil