Edisi 07-12-2017
Pesawat Bomber Bergabung Latihan AS-Korsel


SEOUL - Pesawat bomber B-1B bergabung dalam latihan militer skala besar Amerika Serikat (AS) dan Korea Selatan (Korsel) seiring meningkatnya ketegangan di Korea.

Pesawat itu terbang dari wilayah Guam yang dikelola AS dan bergabung dengan jet tempur siluman AS, F-22 dan F-35 dalam latihan tahunan tersebut. Latihan yang berlangsung hingga Jumat (8/12) itu digelar sepekan setelah Korea Utara (Korut) menguji rudal balistik antarbenua yang dapat mencapai wilayah AS.

Saat ditanya tentang penerbangan pesawat bomber itu, juru bicara Kementerian Luar Negeri (Kemlu) China Geng Shuang meminta semua pihak menahan diri. “Kami harap pihak-pihak terkait dapat menahan diri dan tidak melakukan apa pun yang menambah ketegangan di semenanjung Korea,” ungkapnya saat konferensi pers di Beijing kemarin.

Korut menilai latihan militer AS-Korsel itu mendorong semenanjung Korea ke jurang perang nuklir. Pyongyang berulang kali mengancam menghancurkan Korsel, AS, dan Jepang. Kantor berita KCNA menyatakan, pada akhir pekan lalu Presiden AS Donald Trump “mengemis untuk perang nuklir” dengan menggelar latihan militer tersebut.

KCNA menyatakan, latihan yang melibatkan pesawat bomber itu merupakan simulasi perang total, termasuk latihan menyerang pemimpin Korut, pangkalan roket balistik dan nuklir, pangkalan udara, pangkalan angkatan laut, dan target besar lainnya.

Senator AS dari Partai Republik Lindsey Graham mendesak Pentagon segera memindahkan anggota keluarga personel militer AS, seperti pasangan dan anak, keluar dari Korsel. Graham memperingatkan konflik dengan Korut semakin mendekat.

Latihan militer AS-Korsel itu bertepatan dengan kunjungan langka Kepala Urusan Politik Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Jeffrey Feltman. “Wakil Menteri Luar Negeri (Menlu) Korut Pak Myong-guk bertemu Feltman kemarin di ibu kota Korut, Pyongyang, dan membahas kerja sama bilateral dan isu lain yang menjadi kepentingan bersama,” ungkap laporan KCNA .

Feltman merupakan mantan pejabat Departemen Luar Negeri (Deplu) AS dan menjadi pejabat level tertinggi PBB yang mengunjungi Korut sejak 2012. Deplu AS menyatakan, Feltman tidak membawa pesan apa pun dari Washington.

“Presiden Korsel Moon Jaein akan mengunjungi China pekan depan untuk bertemu Presiden Xi Jinping,” ungkap pernyataan kantor kepresidenan Istana Biru Korsel. Peningkatan kemampuan rudal dan nuklir Korut akan menjadi agenda utama.

Kantor Kepala Staf Gabungan Korsel menyatakan, latihan militer yang disebut Vigilant Ace itu didesain untuk meningkatkan kesiapan dan ke-mampuan operasional bersama AS.

China dan Rusia meminta AS-Korsel menghentikan latihan militer itu dengan imbalan Korut menghentikan program senjatanya. Beijing merupakan aliansi utama Korut. China khawatir konflik di Korut akan menciptakan kekacauan ke negara lain.

“Rusia juga membuka saluran komunikasi dengan Korut dan siap menggunakan pengaruhnya,” ungkap Deputi Menteri Luar Negeri Rusia Igor Morgulov, dikutip kantor berita RIA . Sementara pemerintah Jepang merancang anggaran tambahan sekitar USD25,9 miliar pada tahun fiskal hingga Maret untuk menutupi belanja pertahanan rudal di tengah krisis Korut.

Pyongyang telah meluncurkan puluhan rudal, termasuk dua rudal yang terbang di atas wilayah Jepang. Korut juga menggelar tes nuklir kelima dan terbesar pada September lalu.

syarifudin