Edisi 07-12-2017
Poros Mahasiswa-Ekonomi Berdikari Bukan Mimpi


Mengapa sedikit-sedikit mesti impor? Barangkali demikian respons yang kita berikan ketika mendengar jumlah impor yang besar.

Pertanyaan ini kerap ditanyakan ketika kita harus mengimpor barang dan jasa dari berbagai sektor. Sebut saja ketika mengimpor beras. Banyak pihak kemudian mempertanyakan kenapa Indonesia yang notabene negara agraris harus mengimpor beras dari luar negeri ketimbang memberdayakan beras dari tanahnya sendiri. Walaupun permasalahan ini tidak dapat dipandang dengan kacamatasederhana, kritik-kritik tersebut nyata ada nya.

Kritik-kritik ini kadang disertai dengan pesimisme bahwa Indonesia, dengan kekayaan sumber daya alam dan jumlah penduduk terpadat keempat di dunia ini, tidak bisa mandiri da lam produksi. Seolah Indonesia terus bergantung pada negara-negara asing dan produknya tak mampu bersaing dinegeri sendiri.

Keadaan ini begitu kontras dengan apa yang diinginkan oleh salah satu pendiri bangsa, Soekarno. Bung Karno pada tahun 1965 pernah memopulerkan istilah Berdikari dalam Ekonomi. Berdikari yang memiliki kepanjangan berdiri di atas kaki sendiri.

Oleh karena itu, Bung Karno menginginkan bangsa ini menjadi bangsa yang mampu mengelola sumber daya yang ada dengan tenagatenaga sendiri dan tidak bergantung pada bangsa lain. Sejatinya, langkah dalam mewujudkan berdikari dalam ekonomi ini bisa dilakukan dari halhal kecil. Mulai dari akti vitas produsen dan konsumen.

Dari segi produsen misalnya, dapat memaksimalkan sektor usaha mikro kecil dan mene ngah (UMKM) untuk memajukan perekonomian. Bukti dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa UMKM menyumbang kontribusise besar61,41% dalam perekonomian.

Dengan angka yang cukup besar tersebut, pertumbuhan UMKM berdampak positif juga bagi pertumbuhan ekonomi, tidak hanya berasal dari sektorsektor besar. Maka sektor ini hendaknya dimaksimalkan.

Baik dari produsen itu sendiri dengan menggunakan kreativitas para produsen, seperti memanfaatkan kemudahan teknologi digital dalam aktivitasnya, maupun dengan campur tangan pemerintah, misalnya dengan pelatihan ataupun suntikan modal kepada para pelaku usaha dalam negeri.

Tidak hanya pemerintah, konsumen juga bisa mendukung industri dalam negeri dengan mulai menggunakan produk-produk lokal. Dengan menggunakan produk lokal, dapat meningkatkan aktivitas produksi dalam negeri sehing ga produk lokal bisa terus eksis di negeri sendiri dan tidak kalah saing dengan produk luar.

Juga dengan adanya penghargaan dari konsumen terhadap sebuah produk, bukan tidak mungkin produsen akan berusaha terus untuk meningkatkan mutu produk tersebut agar selalu memuaskan pihak konsumen. Dengan demikian, menghidupkan kembali cinta terhadap produk-produk lokal dapat berdampak pada pertumbuhan ekonomi bangsa.

Berdikari memang cita-cita besar yang pernah dimiliki para pemimpin besar negeri ini. Namun, sesuatu yang besar bisa dimulai dari hal-hal kecil. Dimulai dari produsen dan konsumen itu sendiri, kita bisa memaksimalkan potensi ekonomi kita dan menuju ekonomi yang berdiri di atas kaki sendiri. Berdikari dapat menjadi fondasi bagi ekonomi kedepannya. Indonesia bisa, Indonesia kaya alamnya, cerdas manusianya dan mandiri perekonomiannya.

REZA MARDHANI

Mahasiswa Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam, Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Berita Lainnya...