Edisi 07-12-2017
Betah karena Terpikat Makanan Asli Nusantara


Meskipun baru tiga tahun menjadi CEO PT Home Credit Indonesia, Jaroslav Gaisler mengaku sudah akrab dengan Indonesia sejak 2000 silam.

Selama berkarier sebagai profesional, pria yang akrab dipanggil Jarda itu kerap berpindah-pindah tempat tinggal dan lebih sering berada di luar kam pung halamannya di Republik Ceko. Dia pernah ber mukim di Rumania, Singapura, Amerika Serikat, India, dan sekarang di Indonesia.

”Sewaktu di Singapura dulu, saya sering ber keliling Asia Tenggara. Saya suka sekali di Asia Tenggara dan rumah saya kini di mana keluarga saya berada, yaitu di Indonesia,” ujarayahduaoranganakinikepada KORAN SINDO beberapa waktu lalu.

Sebagai orang Ceko, dia mengaku betah di Indonesia. Salah satu yang membuatnya betah adalah makanannya. Dia pun tak sungkan-sungkan menyebut tem pat makan favoritnya, yakni 1945 Restaurant di Fairmont Hotel, Senayan. Menurutnya, makanan Indonesia di tempat itu sangat menakjubkan dan autentik.

”Di sana saya suka menu sop buntut, nasi goreng, dan sebagainya. Sangat saya rekomen dasi kan,” ujarnya. Meski terbilang sibuk menggawangi Home Credit Indonesia, Jarda selalu menyempatkan diri menghabiskan waktu bersama keluarga untuk sekadar melakukan traveling atau bermain golf.

Untuk aktivitas ini pun, dia punya tujuan wisata favorit, yakni Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur (NTT). Di sana dia bisa menghabiskan waktu untuk diving atau sekadar menikmati alamnya. ”Di sana sangat menyenangkan, karena suasananya tenang dan orangnya ramah. Kami juga suka melihat kuda berlarian di Sumba.
Berlibur bagus untuk keseimbangan hidup,” ujarnya. Aktivitas lain yang kerap dia lakukan untuk mengisi liburan adalah berwisata ke Italia untuk menyalurkan hobi lainnya, yakni bermain ski. Bahkan, hampir setiap tahun dia dan istrinya punya kebiasaan menginap di hotel yang sama di Italia, kemudian melakukan aksi downhill.

”Tadinya saya suka downhill dengan kecepatan 128 km per jam. Memacu adrenalin. Namun, setelah berkeluarga dan anak-anak saya lahir, kecepatan bermain ski hanya 19 km per jam saja. Mereka mengubah pola pikir saya selama ini untuk lebih bertanggung jawab,” ujarnya.

Jarda mengaku sangat sulit untuk memisahkan diri dari rutinitas kantor atau mencari waktu senggang. Ini karena biasanya selalu ada target yang ingin dicapai oleh perusahaan. Akan tetapi, dia memiliki prinsip bahwa waktu adalah komoditas yang paling berharga.

Menurutnya, semua orang di dunia memiliki jatah waktu yang sama tergantung bagaimana menggunakannya. Namun buat dia, kebersamaan dengan keluarga adalah yang utama. ”Putri sulung saya akan segera kuliah entah di mana pun itu.

Ini artinya dia tidak akan tinggal bersama saya lagi, kemudian menikah dan berkeluarga. Tidak terasa waktu berlalu cepat, saya ingin menikmati masa bersama mereka. Waktu adalah komoditas yang paling berharga,” ujarnya.

hafid fuad