Edisi 07-12-2017
KLB Difteri karena Cakupan Imunisasi Belum Maksimal


MENANGGAPI kasus difteri yang kini merebak dan telah memakan korban jiwa setidaknya di 20 provinsi di Tanah Air, Ketua Umum Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) DR Dr Aman Bhakti Pulungan SpA(K), FAAP melihat hal ini sebagai kejadian luar biasa (KLB) dan seharusnya Kementerian Kesehatan segera melakukan outbreak response immunization (ORI).

“Harus segera dilakukan ORI sesuai jadwal yang dilakukan sebanyak tiga kali,” ujarnya saat dihubungi KORAN SINDO . ORI yaitu pemberian imunisasi DPT/ DT kepada semua anak berumur 7 tahun diberikan DT atau dT).

Adapun di daerah non-KLB, seperti dikutip dari website IDAI, diperlukan kesiapsiagaan dengan memperhatikan kelengkapan status imunisasi setiap anak yang berobat.

Itu untuk penanganan jangka pendek, sedangkan untuk penanganan jangka panjang di daerah KLB perlu dilakukan gerakan imunisasi terpadu untuk meningkatkan cakupan imunisasi DPT sehingga mencapai 95% dari target anak <15 tahun.

Dr Aman menilai, kasus difteri kembali menjadi KLB setelah lama terputus lantaran cakupan imunisasi yang masih belum luas dan menjangkau masyarakat. ”Memang kalau bicara antivaksin pasti ada pengaruhnya juga. Tapi kasus antivaksin paling banyak di Sumatera.

Nah, ini (KLB difteri) paling banyak terjadi di DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Jawa Timur. Berati tidak bisa ditutupi coverage imunisasi belum menjangkau seluruh masyarakat,” paparnya lagi.

Karena itu, dia menyarankan agar Dinas Kesehatan di berbagai provinsi segera bertindak agar penyakit ini dapat segera ditangani, tidak meluas, bahkan tidak memakan korban jiwa lagi. Dr Aman juga menyayangkan masih rendahnya kepedulian orang dewasa untuk melakukan vaksin. Jadi, sebetulnya bukan anakanak saja yang perlu vaksin.

DTP mengandung mikroorganisme yang sudah mati. DTP adalah versi vaksin yang juga mencegah tiga kondisi tersebut tapi untuk anak-anak. Vaksin ini disarankan bagi yang belum pernah mendapat vaksinasi jenis ini saat anak-anak.

Tdap hanya diberikan sekali seumur hidup, tapi disarankan untuk menyuntikkan vaksin penguat tiap 10 tahun sekali untuk mencegah terkena difteri dan tetanus. Sementara itu, Prof DR dr Samsuridjal Djauzi SpPD-KAI FACP, Satgas Imunisasi Dewasa PB PAPDI, mengatakan bahwa anggapan bahwa tubuh orang dewasa sudah terbentuk sempurna sehingga tidak lagi memerlukan vaksinasi adalah salah.

”Karena pada kenyataannya semakin bertambah usia, kekebalan tubuh justru semakin menurun sehingga dibutuhkan imunisasi untuk membentengi tubuh dari serangan penyakit,” ujarnya. Lebih lanjut, dia menyatakan bahwa pemberian vaksin akan memberi perlindungan hingga 80% pada setiap individu.

sri noviarni