Edisi 07-12-2017
Hati-Hati Obesitas Picu Komplikasi


ANAK SD usia 10-12 tahun di lima wilayah DKI Jakarta ditemukan sebesar 15,3% di antaranya dari 600 anak tergolong obesitas.

Kondisi ini berpotensi menimbulkan berbagai komplikasi jangka panjang yang mengancam kesehatan.H al ini terungkap dalam diskusi media bertajuk “Dampak Jangka Panjang Obesitas pada Anak”, 20 November lalu.

Menurut dr Klara Yuliarti SpA(K), staf pengajar dari FKUI, kriteria obesitas yang benar, yakni dengan mengukur body mass index (BMI), tidak sekadar perbandingan tinggi dan berat badan. Penyebab obesitas itu multifaktorial. “Bahkan, faktor genetik yang terlibat dalam obesitas pun bukan hanya satu gen. Gen hanya memengaruhi pada kecepatan metabolisme.

Justru faktor lingkungan yang lebih berperan besar,” sebut dr Klara. Obesitas yang disebabkan kelainan genetik atau disebut obesitas endogen, jumlahnya hanya 10%. Meskipun kecil, obesitas endogen ini sangat sulit dikendalikan dan umumnya diikuti kelainan lain, misalnya sindroma hipoventilasi (sesak napas), kaki bengkok (Blouts disease) dan lain-lain.

90% obesitas anak disebabkan kelebihan kalori dan kurang aktivitas fisik. Obesitas menimbulkan komplikasi jangka panjang, seperti hipertensi dan gangguan profil lemak yang merupakan faktor risiko penyakit jantung koroner (PJK).

Kondisi ini juga memicu intoleransi glukosa yang merupakan awal dari diabetes melitus tipe 2. Komplikasi lain adalah sleep apnea (ganguan tidur), masalah persendian, dan perlemakan hati dan batu empedu. “Dengan kata lain, obesitas adalah penyebab berbagai penyakit kronis.

Untuk mengelola obesitas anak tidak mudah sehingga lebih baik dilakukan pencegahan sedini mungkin,” kata staf Divisi Nutrisi dan Penyakit Metabolik, Departemen Ilmu Kesehatan Anak di FKUI/RSCM ini. Data penderita obesitas pada anak di Indonesia dapat dilihat dari Riskesdas.

Riskesdas menggunakan kriteria perbandingan tinggi dan berat badan untuk menentukan anak obesitas, dan angkanya sekitar 11,9%. Selain dari Riskesdas, beberapa penelitian lokal menunjukkan prevalensi obesitas pada anak SD, antara lain penelitian 3 SD swasta di Jakarta Timur menunjukkan 27,5% anak obesitas dari 2.292 anak.

Dampak Psikososial

Tidak hanya kesehatan fisik, nyatanya obesitas juga menyerang mental yang bersangkutan. Dampak psikososial obesitas pada anak adalah dalam hal penerimaan sosial. Kegemukan berdampak pada masalah emosi dan perilaku. Sebagai contoh, obesitas memiliki stigma atau stereotip yang cenderung negatif.

Dari sudut pandang anak-anak misalnya, apakah anak gemuk nyaman diajak bermain oleh teman-temannya? Untuk permainan fisik yang kompetitif, umumnya anak obesitas tidak dapat bergerak aktif atau lamban. “Hal ini secara tidak langsung berdampak pada harga diri dan kepercayaan diri rendah,” kata Aurora Lumbantoruan MPsi.

Psikolog ini menegaskan, remaja dan anak perempuan lebih terkena dampak sosial ini daripada remaja laki-laki yang gemuk. Karena itu, untuk anak yang sudah terlanjur obesitas, perlu dilakukan pencegahan agar tidak terjadi komplikasi.

Caranya dengan memantau BMI (indeks massa tubuh) secara rutin, dan mendeteksi deposit lemak sejak dini. Deposit lemak sejak dini sebelum usia 6 tahun berkaitan dengan obesitas saat dewasa. Salah satu langkah penting dalam mencegah obesitas adalah juga dengan mengurangi gula.

WHO merekomendasikan asupan gula bebas pada anak maupun dewasa, kurang dari 10% total asupan kalori dalam sehari. Nah yang dimaksud gula bebas adalah monosakarida dan disakarida yang ditambahkan ke makanan dan minuman olahan, termasuk gula alami pada madu, sirup, jus buah, dan buah-buahan kaya kalori.

sri noviarni