Edisi 07-12-2017
Museum Gedung Sate Berteknologi Digital


BANDUNG – Pemprov Jawa Barat bakal meresmikan Museum Gedung Sate pada Jumat (8/12/17) mendatang.

Mulai pekan depan, masyarakat Jabar dapat mengunjungi museum yang terletak di bagian timur Gedung Sate, Kota Bandung ini dan mendapatkan pengalaman sarat sejarah dengan sentuhan teknologi digital.

Kepala Bagian Publikasi Setda Jabar Ade Sukalsah mengatakan, museum seluas 500 meter persegi ini digratiskan untuk umum hingga akhir tahun ini. Untuk harga tiket masuk dibulan berikutnya berkisar Rp5.000. “Untuk waktu operasional, pukul 10.00-16.00 WIB, buka tiap hari, Senin libur,” terang Ade di Gedung Sate, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, kemarin.

Museum ini berkonsep seputar arsitektur Gedung Sate sebagai gedung terindah di dunia dan sarat dengan sejarah. Museum Gedung Sate memiliki tiga segmen. Segmen pertama prolog, kedua eksplorasi, dan segmen ketiga kontemplasi.

Ketua Tim Museum Gedung Sate Ade Garnandi mengatakan, museum ini dibangun karena Gedung Sate adalah ikon Jabar yang memiliki nilai historis tinggi. “Ada nilai-nilai perjuangan di dalam sini, bahkan ada yang sampai mengorbankan jiwa raga melindungi statusnya sebagai milik bangsa Indonesia,” katanya.

Ade mengatakan, museum ini mulai dirancang sejak dua tahun lalu. Bahkan, riset dilakukan sampai ke Belanda dan beberapa museum perpustakaan Negeri Kincir Angin itu. Sementara pembangunan fisik museum yang berada di lantai dasar Gedung Sate ini memerlukan waktu lima bulan dengan penyelesaian konten museum dilakukan sekitar 3,5 bulan.

Menurutnya, Tim Konten Museum Gedung Sate harus terbang ke Belanda karena Gedung Sate dibuat pada era kolonial sehingga diperlukan riset sejarah dari negeri asal arsiteknya.

Walaupun bertemakan sejarah, kata Ade, pengunjung akan merasakan sensasi teknologi interaktif saat menggali informasi dari museum ini. Teknologi seperti layar sentuh yang menyajikan informasi melalui grafis menarik menjadi daya tarik atraksi di Museum Gedung Sate.

agung bakti sarasa