Edisi 07-12-2017
Suara Gemuruh Itu Membuat Warga Ketakutan


Yuliana dan Mbah Prengil duduk memandang sebuah luweng (gua vertikal) yang berubah menjadi danau berwarna hijau nan indah.

Gemericik air yang biasa didengarnya dari atas bukit tak lagi terdengar. Hamparan pohon jati kini sudah sirna. Semua berubah menjadi danau luas dengan air berwarna hijau. Banjir yang menerjang Dusun Serpeng, Desa Pacarejo, Semanu, Kabupaten Gunungkidul, DIY pada Selasa (23/11) lalu, menyisakan kegelisan dan pertanyaan warga setempat.

Bagaimana tidak, luweng yang biasanya cukup dalam dan jarang didekati itupun tak lagi terlihat. Air di mulut luweng pun naik hingga menutupi komplek hutan jati. Selama berhari-hari, airnya tak kunjung surut. Sebuah peristiwa besar dan menakutkan terjadi pada Minggu (3/12) sekitar pukul 01.00 WIB.

Dari arah luweng, warga yang tinggalnya berjarak 300 meter, mendengar suara menggelegar hingga beberapa kali. “Saya sempat gemetar waktu itu Mas. Suaranya keras, seperti ombak besar dan menerpa batuan,” tutur Mbah Prengil saat berbincang dengan KORAN SINDO di bibir luweng yang kini layaknya telaga warna.

Luweng Blimbing menjadi salah satu bagian dari banyaknya peristiwa tanah ambles di Gunungkidul pascabanjir. Diduga, hingga kini masih terjadi banjir di aliran sungai bawah tanah yang berada di bawah bumi Gunungkidul. Beberapa warga pun kemarin memasang police line.

Maklum, sesekali masih terlihat longsoran batuan di semua sisi luweng yang semakin melebar dan menggerus area sekitar. Namun demikian, hal ini tidak menyurutkan semangat warga yang penasaran untuk melihat fenomena alam yang baru pertama kali ini.
“Peristiwa ini mengagetkan, dan ternyata ada pemandangan menakjubkan di tengah kawasan lahan pertanian dan hutan makanya saya penasaran,” ucap Adhitya warga, Baleharjo, Wonosari yang mengunjungi danau tiban luweng Blimbing tersebut.

Sebuah danau dikelilingi bukit dengan luasan layaknya lapangan bola kini terpampang. Warga pun berharap airnya tidak surut sehingga bisa menjadi arena wisata baru. “Kalau airnya tidak surut ini sangat indah,” lanjut Adhit.

Selain di Luweng Blimbing yang mengalami pelebaran dan airnya meluap ke atas, beberapa telaga juga dilaporkan ambles . Di antaranya di Trowono, Karang Asem Paliyan di Rongkop serta Girisubo. Para ahlipun mengatakan di Gunungkidul memang banyak rongga rongga tanah di bawah.

Karena desakan air, lama-lama tanah ambles memadatkan sisi bawah sehingga seringkali muncul tanah ambles yang disebut sink hole. Kepala Seksi Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Gunungkidul Sutaryono berharap warga berhatihati.

Saat ini pihaknya masih konsentrasi untuk tanggap darurat bencana sehingga proses penelitian akan dikoordinasikan dengan melibatkan akademisi. “Kita minta warga berhati-hati,” tuturnya.

SUHARJONO

Gunungkidul