Edisi 08-12-2017
Langkah Trump Guncang Perdamaian


YERUSALEM – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengambil keputusan ceroboh. Kemarin pengganti Barack Obama tersebut menyatakan mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel.

Langkah yang disebut sebagai pendekatan baru dan diklaim dapat menyelesaikan kon flik Israel- Palestina itu justru dikhawatirkan menggoyahkan perdamaian dunia. Sikap Trump memang langsung memicu reaksi keras dunia, termasuk Indonesia.

Negara-negara Arab, sejumlah negara Eropa, dan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menilai pengakuan itu sebagai langkah yang memanas-manasi wilayah yang bergejolak. Delapan negara pun menyerukan pertemuan Dewan Keamanan PBB.

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan juga menyerukan penyelenggaraan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) di Istanbul pada 13 Desember untuk menunjukkan aksi bersama negara-negara Islam.

Kekhawatiran dunia terhadap dampak langkah Trump sangat beralasan. Sesaat setelah pengumuman, muncul demonstrasi besar-besaran di Palestina, terutama di Tepi Barat dan Jalur Gaza, yang berujung bentrokan antara pasukan Israel dan warga Palestina yang tak bersenjata.

Sedikitnya 17 orang terluka akibat tembakan tentara Israel selama aksi berlangsung. Hamas pun sudah menyerukan intifada baru. “Israel merupakan bangsa berdaulat yang memiliki hak seperti negara berdaulat lain un tuk menentukan ibu kota negara sendiri,” ujar Trump di Gedung Putih. “Ini saatnya secara resmi mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel,” ucapnya seperti dilansir Reuters.

Menurut Trump, pengakuan Yerusalem sebagai ibu kota Israel merupakan kepentingan terbaik bagi AS demi mewujudkan perdamaian antara Israel dan Palestina. Dia menandaskan AS mendukung solusi dua negara antara Palestina dan Israel agar bisa hidup damai.

“Kita tidak mengambil posisi status final, termasuk kedaulatan Israel di Yerusalem,” ungkap Trump. Atas keputusan tersebut, Trump langsung memerintahkan Departemen Luar Negeri AS untuk memulai persiapan memindahkan Kedubes AS dari Tel Aviv ke Yerusalem. Menteri Luar Negeri (Menlu) AS Rex Tillerson menyatakan segera menindaklanjuti instruksi tersebut.

“Departemen Luar Negeri (Deplu) akan segera memulai proses untuk menerapkan keputusannya dengan memulai persiapan untuk memindahkan Kedubes AS di Tel Aviv ke Yerusalem,” ujar Tillerson. AS menyadari keputusan Trump sangat berisiko, termasuk terhadap keamanan warga negaranya.

Karena itu Deplu AS akan melaksanakan sejumlah langkah melindungi warga AS, terutama di Timur Tengah. Langkah Trump tersebut juga diperkirakan akan semakin mengisolasi AS dan Trump karena kebijakan tersebut ditentang banyak sekutunya.

Trump dinilai hanya ingin mewujudkan janji kampanye daripada memperhatikan risiko keamanan di kawasan yang telah di ujung tanduk. Israel yang diuntungkan tentu saja menyambut gembira keputusan Trump tersebut. PM Israel Benjamin Netanyahu menyebut pengumuman Trump sebagai sebuah momen paling bersejarah bagi bangsa Yahudi.

Dia menyebut hal itu merupakan keputusan yang berani dan adil. “Pidato Trump adalah langkah penting menuju perdamaian karena tidak akan ada perdamaian yang tidak mencakup Yerusalem sebagai ibu kota negara Israel,” tuturnya.

Di sisi lain, Presiden Palestina Mahmoud Abbas menegaskan AS tidak bisa lagi memainkan peran sebagai mediator perdamaian. Dalam pandangannya, langkah Trump sebagai sebuah pengumuman penarikan AS dari perannya dalam beberapa dekade terakhir sebagai sponsor proses perdamaian.

“Langkah-langkah menyedihkan dan tidak dapat diterima ini dengan sengaja melemah kan seluruh upaya perdamai an,” kata Abbas dalam sebuah pidato setelah pengumuman Trump. Sementaraitu lan gkahTrump langsung memicu per lawanan masyarakat Palestina.

Ribuan warga langsung turun ke jalan berdemonstrasi besar-besar an di TepiBaratdanJalurGaza. Mereka berteriak, “Yerusalem adalah ibu kota Palestina.” Demonstrasi diwarnai ben trokan dengan pasukan Israel. “Sebanyak 17 orang terluka terkena tembakan.

Satu orang ter kena tembakan peluru tajam. Belasan orang lainnya terkena peluru karet,” ungkap para petugas medis seperti dilansir Reuters. Pemimpin Hamas, kelompok Islam Palestina yang sangat berpengaruh, Ismail Haniyeh menyerukan intifada baru atau gerakan perlawanan rakyat setelah Presiden Trump mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel.

“Kita harus menyerukan dan melakukan intifada dalam menghadapi musuh, Zionis,” kata Haniyeh saat berpidato di Gaza kemarin seperti dilansir Reuters. Selain Hamas, Hizbullah juga menyerukan perlawanan terhadap sikap AS.

“Keputusan AS akan mengakibatkan pembalasan bencana yang mengancam keamanan dan stabilitas internasional dan regional,” demi kian pernyataan Hizbullah. Dia mengungkapkan keputus an Trump itu sebagai bentuk agresi terhadap Palestina, rakyat nya, dunia Islam dan Arab.

Intifada pertama untuk menentang pendudukan Israel berlangsung mulai 1987 hingga 1993 dan yang kedua dimulai pada 2000. Warga Palestina, baik di Jalur Gaza maupun Tepi Barat, pada hari Kamis ini menggelar aksi protes dan pemogokan.

Kecaman Internasional

Pemerintah Indonesia mengecam keras keputusan AS yang mengakui Yerusalem se bagai ibu kota Israel yang akan memicu guncangan stabilitas keamanan dunia. Indonesia pun meminta AS mempertimbangkan kembali keputus an tersebut.

“Keputus an itu telah melanggar berbagai resolusi di PBB yang AS menjadi anggotanya dan ini bisa mengguncang stabilitas keamanan dunia,” kata Presiden Joko Widodo di Istana Kepresi den an, Bogor, kemarin. Selain Indonesia, kecaman juga berdatangan dari berbagai penjuru dunia dan lembaga inter nasional.

Delapan negara me nyerukan pertemuan mendesak PBB. Bolivia, Mesir, Prancis, Italia, Senegal, Swedia, Inggris, dan Uruguay menginginkan penyelenggaraan pertemuan pada akhir pekan ini. Duta Besar Bolivia Sacha Sergio Llorenty Soliz menyebut langkah Trump sebagai sebuah keputusan ceroboh dan ber ba haya yang bertentangan de ngan hukum internasional, resolusi Dewan Keamanan.

PBB pun melalui sekjennya, Antonio Guterres, menegaskan menentang tindakan sepihak AS itu. ”Status Yerusalem hanya bisa diselesaikan melalui perundingan langsung antara Israel dan Palestina,” tandasnya. Sejumlah sekutu AS di Eropa seperti Inggris dan Jerman juga mengecam sikap Trump.

Perdana Menteri (PM) Inggris Theresa May, misalnya, mengingatkan keputusan tersebut tidak akan membantu prospek perdamaian di kawasan Timur Tengah. Sikap tegas juga disampaikan Kanselir Jerman Angela Merkel. “Kami tidak setuju dengan keputusan AS untuk memindahkan kedutaannya ke Yerusalem dan mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel,” ujar Theresa May.

Sementara itu Paus Fransiskus menyerukan agar status quo dihargai di Yerusalem. Dia mengungkapkan ketegangan baru di Timur Tengah akan menambah konflik baru. Karena itu dia meminta semua pihak agar menghargai resolusi PBB tentang Yerusalem sebagai kota suci bagi Yahudi, Kristen, dan Islam.

“Saya tidak bisa diam tentang kekhawatiran atas situasi yang dicipatakan dalam beberapa hari terakhir,” paparnya. Reaksi lebih keras ditunjukkan negara-negara di kawasan Timur Tengah. Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, misalnya, menyerukan penyelenggaraan KTT OKI di Istanbul pada 13 Desember.

Turki menyebut pengakuan Yerusalem sebagai ibu kota Israel dan pemindahan ke duta an AS dari Tel Aviv ke Yerusalem akan menjadi ke salah an besar terhadap kesepakatan-kesepakatan internasional. “Yerusalem adalah kehormatan kami, Yeru salem adalah tujuan bersama kami, Yerusalem ada lah garis merah kami,” katajuru bicara kepresidenan Ibrahim Kalin kepada para wartawan di Ankara, Rabu.

andika hendra

Berita Lainnya...