Edisi 08-12-2017
120.000 Warga Kesulitan Air Bersih


GUNUNGKIDUL – Selain kerusakan infrastruktur, banjir yang melanda wilayah Gunungkidul, DIY pada 28 November lalu menyebabkan terganggunya layanan air bersih dari Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Handayani.

Sejumlah pompa dan pipa mengalami kerusakan sehingga mengganggu layanan. Direktur Utama PDAM Tirta Handayani Isnawan Fibriyanto mengatakan pihaknya terus berupaya untuk memperbaiki sejumlah kerusakan jaringan air. Namun diakuinya masih ada kendala yang membuat sejumlah titik kerusakan belum dapat dibenahi.

“Peralatan pengganti yang rusak masih belum datang dan sejumlah titik sambungan listrik dari PLN juga belum nyambung,” ucapnya, kemarin. Akibat kerusakan alat tersebut, 3.000 sambungan rumah atau sekitar 120.000 jiwa belum mendapatkan akses air bersih selama beberapa hari terakhir pascabanjir.

“Kita terus perbaiki, salah satunya dengan sistem giliran untuk melayani warga,” paparnya. Sementara itu, Pemkab Gunungkidul berhasil menyelesaikan pendataan rumah rusak akibat bencana banjir. Tercatat 202 rumah warga mengalami kerusakan yang cukup berat sehingga membutuhkan anggaran besar untuk melakukan rehabitasi.

Kepala Seksi Kedaruratan dan Losgistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Gunungkidul Sutaryono menjelaskan, pendataan kerusakan rumah memang tidak bisa cepat. Hal ini lantaran pihaknya fokus pemberian logistik untuk warga selama tanggap darurat.

“Jadi awalnya kami fokus kebutuhan masyarakat pascabanjir. Selain itu, juga pembersihan lokasi sehingga bisa digunakan, termasuk akses lalu lintas di lokasi bencana,” terangnya.

Dengan data yang masuk, pihaknya langsung melakukan verifikasi hingga terdapat data 202 rumah warga yang mengalami keruskaan cukup berat. “Data ini telah kita olah, sudah muncul nama dan alamatnya dan bisa dicek,” ulas dia.

Dinas Pekerjaan Umum Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (DPUPRKP) Gunungkidul memperkirakan kerugian bencana banjir dan longsor mencapai Rp100 miliar. Kerugian tersebut meliputi rumah akses jalan dan juga akses jembatan.

“Ini kerugian infrastruktur, belum termasuk terganggunya kegiatan ekonomi penduduk,” kata Kepala DPUPRKP Eddy Praptono. Pihaknya mencatat ada 11 jembatan yang rusak, kemudian 9 titik jalan yang juga mengalami kerusakan dan 202 rumah warga.

Sedangkan kecamatan yang mengalami kerusakan parah di antaranya Kecamatan Semanu, Gedangsari, Playen, Karangmojo, Semin, Girisubo, Wonosari, Tanjungsari, Nglipar, Ponjong, Tepus, dan Patuk.

Jalur KA Amblas, Ribuan Penumpang Dialihkan

Rute kereta api (KA) yang menghubungkan Bandung dengan sejumlah daerah di kawasan timur Jawa sempat terputus akibat pergerakan tanah di jalur rel, kemarin pagi. Akibatnya, ribuan penumpang sempat dialihkan dan melanjutkan perjalanan menggunakan bus.

Namun demikian, tanah yang amblas di jalur kereta api kembali bisa dilalui kereta api. Tim dari PT Kereta Api Indonesia(KAI) berhasil melakukan perbaikan dan aman dilalui pada pukul 08.33 WIB.

Manajer Humas PT KAI Daop II Bandung Joni Martinus mengatakan, panjang tanah yang amblas pada jalur KA di sekitar Tasikmala sekitar 25 meter dengan kedalaman 1,5meter. Amblasan di kawasan tersebut menyebabkan pergerakan pada rel.

Menghindari hal-hal yang tidak dinginkan, PT KAI menghentikan semua perjalanan KA yang akan melintas di stasiun terdekat. “Kami menemukan adanya pergerakan tanah berupa amblasan di Km 227 + 4/5 antara Stasiun Warung Bandrek dan Stasiun,” kata Joni.

Akibat tidak bisa dilaluinya jalur tersebut, PT KAI melakukan rekayasa perjalanan dengan pola memutar dan menggunakan feeder bus untuk kemudian melanjutkan menggunakan kereta api.

Kereta yang memutar arah adalah yang tertahan dari arah timur menuju Bandung yaitu KA Mutiara Selatan tujuan Malang - Surabaya - Bandung, KA Malabar tujuan Malang - Bandung, KA Turangga tujuan Surabaya -Bandung, dan KA Lodaya tujuan Solobalapan - Yogyakarta - Bandung.

suharjono/ a rif budianto