Edisi 20-12-2017
Jokowi Mendominasi Pemberitaan Capres


JAKARTA - Pemilihan presiden baru akan digelar pada 2019, tetapi pemberitaan media massa mengenai dinamika pencalonan sudah mulai marak dalam setahun terakhir.

Dari seluruh figur calon presiden (capres) yang muncul melalui pemberitaan, nama Presiden Joko Widodo (Jokowi) menempati urutan teratas. Hal ini tergambar berdasarkan riset Lembaga Monitor Indonesia yang dirilis di Jakarta kemarin. ”Dalam media monitoring tentang tema capres, ditemukan bahwa berita tentang Joko Widodo sebanyak 56%.

Kemudian jauh di bawahnya ada sosok Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Muhaimin Iskandar 17%, Gatot Nurmantyo 11%, dan Agus Harimurti Yudhoyono 8%,” kata Direktur Riset Monitor Indonesia Ali Rifan saat memaparkan hasil risetnya. Dia mengatakan, sosok Muhaimin muncul dalam pemberitaan tentang capres dari PKB.

Gatot Nurmantyo muncul dari Partai Gerindra yang berniat menjadikannya bakal capres. ”Sedangkan Zulkifi Hasan muncul dari PAN dan Agus Harimurti dari Partai Demokrat,” jelas Rifan.

Riset Media Monitoring ini dilaksanakan pada 10 Agustus- 25 November 2017 dengan menggunakan metode purposive sampling pada enam media cetak, yakni KORAN SINDO, Kompas, Koran Tempo, Jawa Pos, Republika , dan Media Indonesia. Dalam riset tersebut, teknik pengumpulan data dilakukan dengan filterisasi semua pemberitaan, dan pencarian dengan tema partai politik, parlemen, pemerintahan, dan pencapresan.

Semua berita yang terkumpul dianalisis menggunakan pendekatan content analysis. Rifan menjelaskan, dari aspek tone pemberitaan baik positif, netral, maupun negatif, nama Jokowi paling mendominasi.

Secara umum, lanjut Rifan, ditemukan pula bahwa tokoh yang paling banyak menjadi objek pemberitaan terkait dengan tema partai politik, pemerintahan, parlemen, serta pencapresan adalah Jokowi (37%), Setya Novanto (26%), Muhaimin Iskandar (9%), dan Gatot Nurmantyo (8%).

Kemudian untuk tema partai politik, ditemukan bahwa Partai Persatuan Indonesia (Perindo) mendapat porsi pemberitaan paling besar dengan 36% dan Partai Golkar 32%. ”Ketika didalami soal subtema yang diberitakan, Partai Perindo diberitakan dengan kinerja dan kegiatan partai sebagai subtema yang mendominasi pemberitaannya.

Sedangkan Golkar dengan subtema kasus hukum, kemudian soal persiapan pilkada, serta dinamika koalisi,” jelasnya. Menanggapi hasil survei monitoring media ini, pengamat komunikasi politik dari Universitas Paramadina Hendri Satrio mengatakan sangat wajar jika Perindo sebagai partai baru bisa memanfaatkan publikasi sebesar-besarnya untuk mencuri perhatian publik.

Menurut Hendri, kehadiran Perindo sebagai partai baru butuh kinerja yang populer di masyarakat. Apalagi, ada peluang emas yang bisa diambil ketika partai-partai besar banyak yang mengalami masalah. Tampilnya Perindo di hadapan publik dalam aksi langsung ataupun dengan pemberitaan media menurut dia sangat penting untuk memaksimalkan peluang yang ada.

rahmat sahid

Berita Lainnya...