Edisi 20-12-2017
Pemerintah Datangkan 40 Cendekia Diaspora


JAKARTA – Sebanyak 40 cendekia Indonesia yang selama ini berkiprah di luar negeri akan diundang ke Indonesia.

Para diaspora tersebut diminta Kemenristek Dikti untuk berbagi pengalaman selama di luar negeri, termasuk berbagi ilmu kepada akademisi Indonesia. Diaspora yang datang dari 11 negara akan berkunjung ke 32 institusi. Merekadiantara nya Satria Zulkarnaen Bisri, alumni ITB yang saat ini bekerja di lembaga riset milik Peme rin tah Jepang, Riken; Profesor MatematikaVictor Eralingga Ginting dari University of Wyoming, Amerika Serikat; ahli perkapalan dan jet dari Derby University, UK, Dani Harmanto; serta Bibin Bintang Andriana yang ber kiprah sebagai Assistant Professor Kwansei Gakuin University, Jepang.

Dirjen Sumber Daya Iptek dan Dikti (SDID) Kemenristek Dikti Ali Ghufron Mukti mengungkapkan, pihaknya mengundang diaspora para ilmuwan yang bekerja di luar negeri ialah agar mereka berbagi pengalaman dan ilmu yang sangat dibutuhkan untuk pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di Tanah Air.

“Kita ingin ada kerja sama triple helix antara swasta, pemerintah, dan akademis sehingga hasil temuan bisa dihilirisasi di industri dan juga menghasilkan teknologi baru yang berman faat untuk masyarakat. Kita ingin diaspora yang sukses ini bisa berbagi pengalaman dan ilmunya di sini sebab Indonesia mempunyai potensi itu,” kata dia saat Talkshow Ilmuwan Muda dan Sumbangsihnya bagi Bangsa.

Mantan wakil menkes ini menuturkan, Indonesia sebenarnya mempunyai potensi di bidang pendidikan yang luar biasa. Jumlah perguruan tinggi negeri dan swasta saat ini mencapai 4.500 dan belum lagi ada jutaan mahasiswa dan dosen. Namun, potensinya itu masih sebatas kuantitas, sementara kualitasnya masih belum.

Karena itu, dari 138 PTN yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia, baru tiga saja yang masuk 50 perguruan tinggi terbaik dunia. Harus dicari berbagai terobosan untuk bisa memacu kualitas pendidikan tersebut. “Ini semua tergantung pada leadership. Maka harus dikembangkan academic leader.

Kampus yang dikunjungi diaspora ini bisa sharing dengan para diaspora muda sehingga kampusnya bisa berkembang dengan baik,” jelas dia. Para cendekia diaspora meng apresiasi langkah pemerintah. Satria Zulkarnaen Bisri misalnyamenilailangkahinibisa menjadi Brain Circulation .

Ada diaspora yang berkiprah di luar negeri tidak dipaksa untuk pulang ke Tanah Air, namun memanfaatkan ilmu yang mereka dapat untuk bersama membangun bangsanya.“Dalamren cana jangka panjang kita pasti pulang. Dalamhati pengen pulang dan melakukan sesuatu untuk Indonesia,” jelas dia.

Satria yang mengambil gelar Ph.ddiTohokuUniversity, Japan dan Postdoctoral di University of Groningen, Belanda ini juga berharap pemerintah mau mendengar perspektif para ilmuwan yang berkiprah di luar negeri untuk memajukan dunia pen – didikan karena mereka su dah merasakan sistem pen didik an yang berbeda.

Senada, ProfesorMate matika Victor Eralingga Ginting berpen dapat, program ini bisa mem beri kesempatan para diaspora yang mem punyai potensi untuk kembali ke Indonesia untuk mem ba ngun kolaborasi. Victor sudah mendapat tawaran dari Institut Teknologi Bandung untuk membuat pembelajaran baru di program studi Mate matika yang lebih inovatif.

neneng zubaidah

Berita Lainnya...