Edisi 20-12-2017
Arab Saudi Cegat Rudal Houthi


RIYADH– Pertahanan udara Arab Saudi mencegat rudal balistik yang ditembakkan Houthi ke ibu kota Riyadh, kemarin.

Tidak ada korban akibat tembakan rudal tersebut. Serangan rudal itu merupakan yang terbaru oleh kelompok pemberontak beraliansi dengan Iran di Yaman. Juru bicara gerakan Houthi menyatakan, rudal balistik itu menargetkan gedung kerajaan di Istana al- Yamama saat para pemimpin Arab Saudi sedang rapat.

Anggota Kerajaan Arab Saudi mengonfirmasi rudal itu menargetkan rapat di istana kerajaan. “Pasukan koalisi mengonfirmasi mencegat satu rudal Houthi-Iran yang menargetkan selatan Riyadh. Tak ada laporan korban saat ini,” ungkap pernyataan Pusat Komunikasi Internasional Saudi melalui akun Twitter dikutip kantor berita Reuters.

Serangan itu terjadi beberapa jam sebelum Arab Saudi mengumumkan anggaran tahunan dalam konferensi pers yang dihadiri para menteri senior. Saksi mata Reuters mendengar bunyi ledakan dan melihat asap di bagian timur laut Riyadh.

Saudi menyatakan pada 4 November lalu bahwa pihaknya telah mencegat satu rudal balistik di atas Bandara King Khaled, Riyadh, dalam serangan memicu reaksi keras dari kerajaan itu.

Riyadh menuduh Iran menyelundupkan rudal ke Houthi. Pasukan koalisi pimpinan Saudi pun memblokade Yaman. Saudi juga meminta Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperketat prosedur pengawasan agar penyelundupan senjata ke Yaman tidak terjadi.

Pekan lalu, Amerika Serikat (AS) untuk pertama kali menunjukkanpecahanrudal. AS menyatakan persenjataan asal Iran disuplai ke Houthi. AS juga menyatakan pecahan rudal itu merupakan bukti nyata bahwa Teheran melanggar resolusi PBB. Iran yang menjadi musuh regional Arab Saudi menyangkal tuduhan AS tersebut.

Teheran kemudian memanggil Duta Besar (Dubes) Swiss untuk mengecam tuduhan Duta Besar (Dubes) AS di PBB Nikki Haley bahwa Iran menyuplai rudal ke Houthi di Yaman yang ditembakkan ke Arab Saudi pada 4 November 2017 lalu. Kedutaan Besar (Kedubes) Swiss mewakili kepentingan AS di Teheran.

AS tidak memiliki misi diplomatik di Iran sejak 1980 saat mahasiswa Iran menyandera 52 warga AS selama 444 hari. “Iran memprotes keras klaim provokatif dan tidak berdasar Haley yang disampaikan pada Dubes Swiss,” ungkap juru bicara Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Iran Bahram Qasemi.

Sesuai resolusi PBB yang disebut dalam kesepakatan nuklir antara Iran dan kekuatan dunia pada 2015, Teheran dilarang menyuplai, menjual, atau memindahkan persenjataan ke luar negeri, kecuali disetujui Dewan Keamanan PBB.

Washington mengakui tidak bisa menjelaskan dengan rinci kapan persenjataan itu dipindahkan ke Houthi dan dalam beberapa kasus, tidak dapat mengatakan kapan rudal itu digunakan. Adapun di Jenewa, juru bicara badan hak asasi manusia (HAM) PBB menyatakan, serangan udara koalisi militer Saudi menewaskan sedikitnya 136 warga sipil di Yaman sejak 6 Desember 2017 lalu.

Pejabat PBB lainnya menjelaskan, koalisi Arab Saudi mempertahankan pembatasan ketat kapalkapal yang dapat berlabuh di Yaman meski 8 juta rakyat Yaman terancam kelaparan. Saat ini rakyat Yaman sangat tergantung pada pengiriman bantuan makanan, bahan bakar dan obat-obatan dari luar negeri.

“Kami sangat mengkhawatirkan bahwa meningkatnya korban sipil di Yaman sebagai akibat serangan udara intensif oleh koalisi, setelah tewasnya mantan Presiden Ali Abdullah Saleh di Sanaa pada 4 Desember,” papar juru bicara badan HAM PBB Rupert Colville.

Berbagai insiden yang diverifikasi badan HAM PBB, termasuk tujuh serangan udara di satu penjara di distrik Shaub, Sanaa, pada 13 Desember yang menewaskan sedikitnya 45 tahanan setia pada Presiden Yaman Abd- Rabbu Mansour Hadi yang didukung Saudi.

“Dapat diasumsikan itu kesalahan, mereka tidak bermaksud membunuh para tahanan dari pihak mereka sendiri. Ini ilustrasi kurangnya pencegahan,” papar Colville. Serangan udara lain menewaskan 14 anak dan enam orang dewasa di lahan pertanian di Hodeidah pada 15 Desember serta seorang perempuan dan sembilan anak yang pulang dari pesta pernikahan di Marib pada 16 Desember.

syarifudin

Berita Lainnya...