Edisi 20-12-2017
Suriah dan Prancis Saling Kecam


AMMAN – Suriah dan Prancis saling melontarkan kecaman. Presiden Suriah Bashar al Assad menuduh Prancis mendukung pertumpahan darah di negaranya sehingga tidak layak membicarakan tentang kesepakatan damai.

Pernyataan Assad itu sebagai jawaban atas pernyataan pemerintah Prancis bahwa Assad tidak dalam posisi memberi pelajaran, setelah membunuh rakyatnya. Prancis pada Jumat (15/12) menyatakan, pemerintah Suriah tidak melakukan apa pun untuk mencapai kesepakatan damai, setelah hampir tujuh tahun perang dan Suriah melakukan kejahatan massal di wilayah Ghouta Timur saat 400.000 orang dikepung pasukan pemerintah Suriah.

Assad pun membalas pernyataan Prancis tersebut pada Senin (18/12). “Prancis memelopori dukungan pada terorisme dan tangan mereka berlumur darah rakyat Suriah dari hari pertama dan kami tidak melihat mereka mengubah sikap mereka secara fundamental,” ungkap Assad setelah bertemu delegasi Rusia, dikutip kantor berita Reuters kemarin.

“Mereka yang mendukung terorisme tidak memiliki hak berbicara tentang perdamaian,” papar Assad. Meski mendukung oposisi Suriah, Prancis mencari pendekatan lebih pragmatis pada konflik Suriah sejak kehadiran Presiden Prancis Emmanuel Macron menyatakan kepergian Assad bukan syarat awal untuk perundingan.

Macron menjelaskan, dia akan mendorong perundingan damai yang melibatkan semua pihak dalam konflik Suriah selama enam tahun, termasuk Assad, pada awal tahun depan. Macron tidak menjelaskan bagaimana proposal Prancis akan terkait dengan negosiasi yang telah dimediasi oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Dia juga menegaskan, pemimpin Suriah akan menghadapi pengadilan untuk kejahatannya. Saat berbicara di Washington setelah bertemu para pejabat senior Amerika Serikat (AS), Menteri Luar Negeri (Menlu) Prancis Jean-Yves Le Drian menjelaskan, Prancis tidak mengambil pelajaran dari seorang pria yang membebaskan ribuan militan dari penjara untuk memperparah perang sipil dan tergantung pada Rusia dan Iran untuk tetap berkuasa.

“Saat Anda menghabiskan hari-hari Anda membantai rakyat Anda, Anda seharusnya secara umum sedikit banyak mengalami kelainan,” papar Le Drian. Intervensi Rusia dan Iran dalam perang di Suriah telah menguntungkan posisi Assad.

Kelompok militan dan pemberontak mengalami banyak kekalahan sehingga Assad dapat tetap berkuasa di Suriah. Assad pun mendeklarasikan kemenangannya dalam konflik sipil tersebut.

Meski demikian, perundingan damai antara kelompok pemberontak dan rezim Assad masih terganjal banyak hal. Masing-masing pihak bersikeras dengan sikap masingmasing. Sejumlah perundingan pun berakhir tanpa kesepakatan apa pun antara kedua pihak yang bertikai.

syarifudin


Berita Lainnya...