Edisi 20-12-2017
Terminal Pulogebang Tidak Optimal


JAKARTA –Operasional Ter minal Pulogebang, Jakarta Timur, yang di resmikan sejak tahun lalu belum meng alami peningkatan. Sejumlah perusahaan otobus (PO) Antarkota Antarprovinsi (AKAP) meminta dikembalikan ke terminal semula.

Ketua Organisasi Angkutan Darat (Organda) DKI Jakarta Shafruhan Sinungan mengatakan, sejak dipindahkan dari ter mi nal dalam kota ke Pulogebang, jum l ah pe numpang bus jurusan Ja wa Tengah dan Jawa Timur merosottajam.

”Banyak kom plain da ri penum pang karena ak ses ke Pu lo gebang terlalu jauh dan harus berkali-kali meng gu nakan ang kutan me nu ju ke sana, khu sus nya wi layah Jakarta Selatan dan Jakarta Ba rat,” ujar Sha f ru han, kemarin. Menurut Kepala Unit Pengelola Teknis (UPT) Terminal Angkut an Jalan Dinas Perhubungan DKI Jakarta Faisol, ke inginan PO bus AKAP Jawa Tengah dan Jawa Timur kembali ke termi nal dalam kota lainnya sulit di wu judkan.

Itu hanyalah keingin an segelintir orang yang me rasa dirugikan dengan pemin dahan bus AKAP. Hingga saat ini terminal dalam kota seperti Rawamangun, Ka m pung Rambutan, dan Kalideres masih diperbolehkan men jual tiket. Bahkan, untuk per jalanan ke Sumatera dan Jawa Barat masih ada di Kampung Ram butan dan Kalideres.

”Kondisinya normal-normal saja sebelum dan sesudah bus AKAP Jawa Tengah dan Jawa Barat di pindah kan ke Pulogebang pada pertengahan 2016,” ungkapnya. Pengamat transportasi Unika Soegijapranata Joko Triyono me ngatakan, Terminal Pulogebang merupakan terminal yang di rencanakan sejak lama sebagai tempat pemberangkatan dan kedatangan bus AKAP sehing ga ke depan tidak ada lagi ter minal dalam kota yang di gunakan sebagai tempat bus AKAP.

Apabila memang sudah siap di gunakan, Pemprov DKI harus me maksimalkan bus AKAP di Ter minal Pulogebang. Apalagi, Ter minal Lebak Bulus, Jakarta Se latan, sudah tidak digunakan se bagai tempat bus AKAP. Terpen ting, Pemprov DKI menyiap kan layanan bus pengumpan yang memudahkan warga me nuju Terminal Pulogebang. ”Kalau kembali ke ter mi nal da lam kota, malah ke mun dur an.

Se gera selesaikan dengan menyiap kan angkutan umum yang m emudahkan masyarakat menuju ke Pulogebang,” ujarnya. Anggota Komisi B DPRD DKI Jakarta Yuke Yurike mengaku tidak terkejut dengan keingin an PO bus yang kembali ke te r minal dalam kota sebelum ke Pu logebang.

Sebab, DKI belum mam pu mewujudkan revitalisasi angkutan dan menambah la yanan bus Transjakarta. Politikus PDIP itu menilai Ter minal Pulogebang masih meng alami banyak masalah, mu lai dari belum adanya uji kelayakan gedung, kamera pengawas/closed circuit television (CCTV) yang tidak bisa berkomunikasi dua arah hingga banyak sistem yang tidak berfungsi maksimal.

”Harus ada te robos an, arteri, dan jalan se kitarnya. Untuk hal-hal yang seperti pengelolaannya saja masih bere but dengan PD Pasar Jaya, itu be lum tuntas,” kata Yuke. Pengamat transportasi Univer sitas Indonesia Ellen Tan kudung mengatakan, Terminal Pu logebang sudah selayaknya me nerapkan tiket online guna me ngurangi penumpukan penum pang.

Dengan tiket online, pe numpang tidak perlu mengantre di loket dan menunggu bus terlalu lama di terminal. ”Ha rusnya disiapkan sistemnya. Jangan buat penumpang me numpuk di sana, harus ada lo ket online dan dijual jauh-jauh h ari seperti kereta api,” ujarnya.

Ketua Dewan Transportasi Ko ta Jakarta (DTKJ) Iskandar Abu Bakar menuturkan, selain tiket online,hal yang menjadi fo kus uta ma peningkatan la yan an terminal tipe A adalah akses. Ja karta s e bagai ibu kota harus m e miliki ter minal di pusat kota yang memper mudah akses ma sya rakat.

”Ka lau tidak, terminal ba yangan akan tetap ada mes ki pun feeder bus disiapkan ke ter mi nal tipe A di Jakarta, seperti Ter minal Pu logebang. Ya, itu ka rena aksesnya ter lalu jauh,” katanya. Di bagian lain, Pemprov DKI Ja karta akan mengintegrasikan ojek online dengan ang kut an umum.

Integrasi ini untuk men cegah kesemrawutan di jalan raya. Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno mengajak peran aktif pengusaha trans portasi on line dalam gerakan mengintegrasikan layanan masingmasing moda transportasi. Apa lagi kedepan, transportasi ber basis rel seperti light rail transit (LRT) dan mass rapid transit (MRT) akan beroperasi.

”J angan sampai terpisah-pisah dan akhirnya menimbulkan kesemrawutan lain seperti di beberapa stasiun yang ada saat ini,” ujar Sandi di Balai Kota DKI Jakarta kemarin. Dalam mengatasi ke se mraw utan ojek online di jalan, mereka harus diberikan tempat berbarengan dengan ojek pangkalan dan angkutan umum lai nnya.

Pemprov DKI akan membuktikannya pada penataan kawasan Tanah Abang, Jakarta Pusat. Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta Andri Yansyah meng aku siap mengintegrasikan ojek online dengan ang kutan umum, dengan menyediakan lokasi-lokasi strategis yang ti dak menghambat aktivitas di ja lan raya.

Terpenting, pengusaha ojek online mematuhi per aturan dan tidak melanggar lalu lintas. ”Kami sering memanggil pebisnis online, bahkan meminta me reka menghentikan re krutmen lantaran jumlahnya sulit di kendalikan. Saat itu ada ke sepakatan bila driver mencari jalan lingkungan untuk beristirahat, tetapi karena jumlahnya terus bertambah ya akhirnya memanfaatkan fasilitas umum,” ungkapnya.

Menurut dia, angkutan roda dua atau ojek saat ini masih dibutuhkan masyarakat meski jelas melanggar UU No 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Ang kutan Jalan lantaran bukan ang kutan umum. Dishub hanya bis a menertibkan berbarengan de ngan penertiban pelanggaran lalu lintas lainnya. Dia berharap kepolisian membantu penertiban meng ingat petugas yang ada saat ini mi nim.

bima setiyadi


Berita Lainnya...