Edisi 13-01-2018
Dua Mahasiswi Terlibat Sindikat Surat Sakit Palsu


JAKARTA - Penyidik Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri membongkar sindikat pembuat dan penjual surat keterangan sakit palsu melalui media sosial seperti Facebook, Twitter, Instagram, dan blog .

Mereka adalah MJS dan NDY. Seorang tersangka lainnya MKM. “Harga yang ditawarkan sekitar Rp25.000 hingga Rp50.000 untuk selembar surat keterangan sakit,” ujar Kasub dit II Direktur Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri Kombes Pol Asep Safrudin di Jakarta kemarin.

Menurut Asep, pelaku juga me nyediakan kuitansi biaya obat maupun perawatan agar bisa diganti oleh instansi pemesan. Pelanggan jasa ini biasanya mahasiswa dan karyawan. “Hal ini berakibat pada kerugian kepada instansi atau perguruan tinggi,” ungkapnya. Kasus ini terbongkar setelah polisi mendapat informasi dari Kementerian Kesehatan mengenai adanya sindikat penjualan surat keterangan sakit palsu.

Kemudian, Satgas E-Commerce Siber Bareskrim Polri mela ku kan penyelidikan. MKM menjual surat keterangan sakit me la lui blog jasa surat sakit.blog spot.com. Aksi ini sudah dila ku kan sejak 2012. “MKM dibantu NDY untuk memasarkan,” tutur Asep. Tidak jauh berbeda dengan itu, MJS menjual surat keterangan sakit di akun Instagram @suratsakitjkt dengan tarif Rp50.000.

Kemudian, setengah dari harga tersebut Rp25.000, ditransfer ke rekening MKM. “Tujuannya jelas, mengambil keuntungan,” kata Asep. Dalam sehari pelaku bisa menerima pesanan hingga 20- 50 surat sakit. Keuntungan yang diperoleh mencapai Rp1 juta. Dalam penangkapan itu po lisi menyita puluhan bundel surat sakit dengan nama dokter dan klinik yang berbeda-beda.

Atas perbuatannya, pelaku diduga melanggar Pasal 28 ayat 1 jo Pasal 45 ayat 1 UU Nomor 19 Tahun 2016 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik dan Pasal 73 ayat 1 jo Pasal 77 UU Nomor 29 Tahun 2004 Tentang Praktik Kedokteran.

Kepala Bagian Penerangan Umum Divisi Humas Polri Kombes Pol Martinus Sitompul mngatakan Polri telah mem ben tuk Satgas E-Commerce yang dikepalai Kombes Pol Asep Syafruddin. Satgas ini dibentuk karena dinilai banyak kera wan an bisnis di dunia maya.

“Ini banyak kerawanan seperti yang kita ketahui, contohbeli ponsel yang dikirim dari Batam. Lalu kirim duit, tapi barangnya ter nyata tidak ada. Maka untuk mengantisipasi itu, polisi hadir di dunia maya,” katanya. Martinus menerangkan, satgas ini menggandeng be bera pa mitra dalam memerangi kejahatan e-commerce seperti Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Asosiasi Financial Technology (Fintech) dan Ikatan Digital Ekonomi.

Dia menambahkan, karena begitu banyaknya pengguna ecommerce, Bareskrim akan meluncurkan sebuah aplikasi yang akan menjadi wadah laporan masyarakat. Nantinya warga yang merasa ditipu dengan penjual di dunia maya dapat mengadu lewat aplikasi tersebut. “Kita berkomunikasi untuk mengantisipasi hal-hal yang mengandung unsur kriminal dan masyarakat jadi korban,” ujarnya.

Mantan Kabid Humas Polda Metro Jaya ini menjelaskan, pengungkapan kasus kejahatan e-commerce itu gampang-gampang susah karena pelaku dapat menghilangkan identitasnya seusai beraksi. Namun, dengan kerja sama antarpemangku kepentingan, polisi dapat memonitor pergerakan akun ecommerce para pelaku.

m yamin