Edisi 13-01-2018
Jaga Kepercayaan Konsumen


Fenomena kue artis membuat pangsa pasar kue dan bakery semakin banyak. Hal ini terlihat dari banyaknya artis yang memilih untuk serentak membuka bisnis kue di kota-kota besar, seperti Bandung, Medan, Depok, Bogor, Malang, dan kota-kota lainnya.

Bahkan, masyarakat sampai rela antre untuk mencicipi kue artis-artis ini, khususnya pada akhir pekan dan libur nasional. Fenomena ini pun membuat kue artis disebut-sebut sebagai oleh-oleh kekinian khas daerah kota-kota tersebut. Lalu, bagaimana tanggapan bisnis kue daerah mengenai hal ini? Meski beberapa waktu terakhir banyak bermunculan bisnis kue artis, Lapis Bogor Sangkuriang yang berdiri sejak tahun 2011 tetap mampu mempertahankan eksistensinya sebagai oleh-oleh khas Bogor.

Lapis Bogor Sangkuriang tetap digemari oleh pengunjung dari luar kota maupun warga Bogor sendiri. Dengan tetap menjaga kualitas rasa dan pelayanan bagi konsumen, Lapis Bogor Sangkuriang merasa tidak takut dengan adanya fenomena kue artis ini. Hal tersebut juga tidak memengaruhi pendapatan bisnis kue dengan produk andalan lapis talasnya ini.

Selain menjaga kualitas rasa dan pelayanan, Lapis Bogor Sangkuriang juga merasa perlu adanya inovasi untuk tetap menjaga eksistensi bisnis mereka agar konsumen tidak bosan. Hal ini terlihat dari semakin beragamnya varian rasa, jenis kue, dan supplier jajanan yang masuk ke toko.

Tak hanya itu, Lapis Bogor Sangkuriang kini juga mengeluarkan produk-produk baru, seperti crispy talas dan jajanan ringan khas Bogornya lainnya. "Semakin hari justru semakin ramai. Costumer yang ke sini pun bilang lebih enak Sangkuriang," kata Rimas Supriyawanti, leader Lapis Bogor Sangkuriang cabang Jalan Sholeh Iskandar, Bogor.

Sama halnya dengan Lapis Bogor Sangkuriang, bisnis kue Amanda juga tetap eksis dan terus menjaga kepercayaan konsumennya. Amanda, bisnis kue asal Bandung dengan produk andalan brownies-nya ini, merasa bahwa fenomena kue artis tidak memengaruhi pendapatan maupun eksistensi dari Amanda sendiri.

Untuk tetap menjaga eksistensinya, Amanda terus berinovasi dengan memunculkan produk dan rasa baru secara berkala, yakni setahun sekali. Contohnya saat ini, Amanda mengeluarkan rasa baru, yakni brownies dengan rasa green tea dan strawberry.

Kedua bisnis kue khas daerah tersebut juga sependapat untuk menganggap bahwa kue artis tidak menjadi saingan mereka dalam berbisnis kue. "Kami tidak menganggapnya sebagai saingan. Sebelum marak fenomena ini, yang jual kue juga sudah banyak," tutur Anisa Septiana selaku pramuniaga Amanda cabang Jalan Sudirman, Bogor.

Bisnis kue khas daerah maupun kue artis mempunyai ciri khasnya masing-masing, baik dalam penjualan, promosi, maupun produknya sendiri. Lapis Bogor Sangkuriang dan Amanda lebih memusatkan perhatian pada user experience, yakni bagaimana kedua bisnis kue daerah tersebut tetap menjaga kepercayaan konsumen dengan menjaga kualitas rasa dan pelayanan.

Tidak hanya pengalaman konsumen, kedua bisnis kue daerah tersebut juga kini menggunakan media sosial sebagai media promosi, seperti website, Instagram, serta bermitra dengan ojek online. Adanya fenomena kue artis sekarang ini ternyata tidak memengaruhi eksistensi, penjualan, dan pendapatan dari bisnis kue khas daerah.

Bisnis kue, baik kue daerah maupun kue artis memiliki kelebihan, kekurangan, dan ciri khasnya masing-masing. Namun, keduanya juga harus pintar dalam melakukan inovasi, baik dalam hal penjualan, promosi, produk, maupun dari segi pelayanannya. Hal ini tentunya untuk menjaga eksistensi dan kepercayaan dari konsumen.

NABILLA RIZKY RAMADHANI

GEN SINDO

Institut Pertanian Bogor