Edisi 13-01-2018
Kembali Ke Selera Asal


Maraknya kalangan artis yang saat ini membuka usaha kuliner perlu diketahui dari latar belakang artisnya. Ratarata artis ini membuka usaha kue tersebut bukan dari inisiatif artisnya sendiri, tetapi dari satu korporasi.

Fenomena ini cukup menimbulkan pro dan kontra. Akankah kue artis ini menggeser posisi para pedagang kue skala rumah tangga dan kue tradisional? "Fenomena kue artis ini cukup menarik. Para selebriti akhirnya sadar bahwa kuliner merupakan jenis usaha yang menjanjikan.

Namun, satu hal yang tidak mereka sadari adalah, kuliner merupakan bidang yang dinamis dan memerlukan tingkat fokus yang tinggi. Terutama menyangkut dengan quality control standard makanan," kata Kevindra Soemantri, food & restaurant writer. Tak ada yang salah dengan para artis yang membuat usaha baru.

Hal itu menandakan kesadaran mereka bahwa karier di dunia keartisan tak akan bertahan selamanya. Namun, bicara soal rasa, kue-kue bikinan para artis ini tidak jauh berbeda. Rasanya pun bukan rasa khas kue daerah, melainkan rasa kekinian.

"Walaupun berbisnis kue dan oleh-oleh ini hak siapa saja, tetapi setiap orang mempunyai tanggung jawab untuk menyajikan yang terbaik bagi masyarakat, baik dari segi cita rasanya maupun dari keautentikannya," ujar Arie Parikesit, CEO & Founder Kelana Rasa Culinary. Menurut Arie, berbisnis oleh-oleh juga harus mempunyai political correctness.

Penjual harus tahu di mana dia menempatkan kuenya dan memasarkan kuenya dengan cara dan marketing yang baik dan tidak merusak tatanan budaya yang ada. Di samping pergeseran orientasi masyarakat dari kebutuhan hidup menjadi gaya hidup, ada hal yang lebih besar di balik semua itu, yakni adanya praktik bisnis monopoli oleh pengusaha besar atau pemilik modal.

Pemodal ini berdiri di belakang para artis yang sekadar menjadi satu bagian saja dari mesin produksi bisnis rasa ini. Pemilik modal memanfaatkan maraknya konsumerisme dalam keseharian masyarakat, popularitas sang artis, dan berupaya membentuk satu bangunan perilaku sosial yang diproduksi terusmenerus melalui jaringan dunia maya atau media sosial.

Ditambah lagi kebanyakan artis yang menjual kue ini menggunakan nama daerah sebagai nama brand mereka. Fenomena ini pun menjadi pro dan kontra yang berkembang di kalangan masyarakat. Sebut saja Malang Strudel, Medan Napoleon, Surabaya Snowcake, dan masih banyak lagi yang lainnya. Hal tersebut mungkin saja dilakukan sebagai bagian dari strategi pemasaran.

Contohnya Malang Strudel. Strudel adalah kue khas Austria, namun Teuku Wisnu selaku pemilik Malang Strudel menggunakan embel-embel "Malang" sebagai nama brand dari bisnis miliknya itu. "Bisnis kue artis ini memang dipaksakan menjadi oleh-oleh khas daerah.

Saya melihat pada akhirnya nanti bisnis kue artis ini akan sepi, dan masyarakat akan kembali ke selera asal. Kue-kue dan makanan khas daerah akan tetap memiliki penggemarnya sendiri," tutur Arie. Penulis buku Jakarta Street Food, Kevindra, menilai kue tradisional akan selalu menjadi juara.

"Hal itu mungkin tidak terlihat. Tetapi kalau dihitung, jumlah orang yang membeli kue di pasar tradisional, pasar modern, atau toko kue, akan berkali-kali lipat dari penjualan kue artis," kata jebolan Masterchef Indonesia Season 1 ini. Menurut Arie, penjual kue tradisional bebas berinovasi, tetapi dengan tetap menjaga keaslian rasanya.

"Silakan berinovasi dari bahan-bahan, kemasan, cara promosi, dan lain sebagainya. Oleh-olehnya mungkin tradisional, tetapi promosinya harus modern. Penjual kue tradisional harus bisa menarik perhatian banyak orang, termasuk anak-anak muda," papar pemilik akun Instagram @arieparikesit ini.

Hal senada juga disampaikan Kevindra. Dia menyarankan penjual kue tradisional untuk fokus dengan yang dijual dan jangan menurunkan kualitasnya. Selain itu, penjual harus bisa memperluas jangkauan usahanya.

Menurut pemilik akun Instagram @kevindrasoemantri ini, ramainya kue artis hanya sementara, karena mereka tidak menaruh hati dan passion mereka di sana. "Tidak apa-apa sekarang kurang populer. Yang penting bukan populer, tetapi bertahan lama," tuturnya.

ARIS NURJANI

GEN SINDO

Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Jakarta