Edisi 13-01-2018
Bisnis Oleh-oleh asal Batam Semakin Laris


Bisnis oleh-oleh tak terpengaruh jebloknya kondisi ekonomi Batam. Usaha baru bermunculan, bahkan para artis pun melebarkan sayapnya ke Batam.

Adnan, lelaki berusia sekitar 20 tahun itu masih menelepon ketika membuka pintu masuk pusat oleh-oleh Zapin Batam. Sejurus kemudian, dia mendatangi seorang karyawan pusat oleh-oleh Zapin di kawasan Nagoya Hill. Telepon dia hentikan dan mulai bertanya oleh-oleh khas dan paling enak yang dijual Zapin.

Sesaat karyawan Zapin langsung menyuguhkan aneka produk yang mereka miliki. Seketika Adnan memilih produk yang paling laris di toko khusus kue yang digadanggadang menjadi pusat oleholeh Batam itu. Adnan satu dari beberapa orang yang keluar masuk untuk membeli kue khas Batam di toko itu.

Pada September 2017, toko yang menjadi pusat oleh-oleh ini dibuka hingga kini kebanjiran pembeli. Hal ini sudah diprediksi pemilik Zapin Batam Andika Pratama dan Ussy Sulistiawaty yang memandang prospek cerah Batam di sektor pariwisata yang erat kaitannya dengan oleh-oleh.

”Kami juga yakin Batam banyak disinggahi turis, baik lokal maupun dari luar negeri,” ujarnya saat datang ke KORAN SINDO beberapa waktu lalu. Karena itu, dia tak mainmain untuk menggarap sektor ini. Bahkan untuk menentukan rasa, artis Ibu Kota ini bersama timnya telah beberapa kali membuat riset sehingga muncul perpaduan rasa, yakni tradisional dan modern.

Kini bisnis oleh-oleh ini semakin berkembang, terbukti dengan penjualan produk dari Zapin semakin naik, bahkan pada hari biasa mampu terjual lebih dari 1.000 produk laris setiap hari. Hal ini diungkapkan Head of Marketing Communication Zapin Batam Ela Sartika Kristiani.

”Untuk weekday sehari bisa habis 1.000-an, untuk weekend habis 1.500 ke atas,” kata Ela. Kehadiran Zapin Batam juga mampu menyerap tenaga kerja Batam. Belum lama buka, saat ini karyawan bagian proses pengolahan adonan kue, panggang, garnish atau topping, dan packing mencapai 60 orang.

Selain Andika, bisnis oleholeh ini juga dilirik David Delyandri. Perkembangan bisnis oleh-oleh di Batam memang sangat menjanjikan. ”Wisatawan yang datang ke Batam banyak, baik luar maupun lokal. Mereka butuh buah tangan yang bisa dibawa pulang,” katanya.

Pengusaha yang terkenal dengan brand Brownies Aqila Lava itu menyebut hadirnya berbagai oleh-oleh kekinian seperti Zapin Batam atau Ogura semakin memberikan alternatif pilihan kepada wisatawan. Sebagai pemain lama dalam bisnis oleh-oleh dia tak merasa tersisih dengan munculnya brand oleh-oleh baru yang dibuka oleh para artis.

”Kalau cita rasa dipertahankan, bisa bikin kangen langganan. Pasti mereka enggak lari,” katanya. Hingga saat ini penjualan brownies untuk oleh-oleh di tempatnya masih normal.

Keberadaan pusat oleh-oleh yang menggunakan brand artis atau milik artis malah jadi tempatnya belajar membuat strategi marketing yang baik. ”Saya belajar dari strategi mereka, jual pakai Instagram , tetap gencar promo di Facebook dan kerja sama dengan aplikasi pesan antar makanan,” katanya.

Dorong Pertumbuhan UKM

Tumbuh outlet penjualan oleh-oleh seharusnya dimanfaatkan oleh masyarakat Batam dengan memproduksi jajanan khas Batam sebagai alternatif pilihan. Tak hanya dari masyarakat, Pemerintah Kota (Pemko) Batam juga harus menyiapkan. Apalagi mengingat Batam sedang berbenah mengembangkan sektor pariwisata sebagai langkah memulihkan kembali ekonomi Batam.

Anggota Komisi II DPRD Kota Batam Mukriyadi meminta Pemko Batam melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Batam agar memiliki program untuk melakukan pembinaan terhadap pelaku usaha kecil menengah (UKM).
Hal itu sangat diperlukan untuk menyiapkan pelaku usaha lokal yang mampu bersaing agar tak menjadi penonton di daerah sendiri menyusul mulai maraknya ekspansi produk makanan atau produk lainnya dari luar daerah ke Batam. ”Ini perlu peran pemerintah daerah. Jangan sampai seluruh bisnis yang digarap oleh masyarakat Batam, habis diambil orang luar.

Apalagi artis yang mulai banyak bisnis di Batam,” kata Mukriyadi di Batam Centre, belum lama ini. Dia mengatakan, saat ini Pemko Batam sedang menggalakkan sektor pariwisata sebagai penopang pertumbuhan ekonomi di Batam, setelah sektor unggulan, seperti shipyard dan elektronik terus mengalami penurunan.

Langkah tersebut harus dimanfaatkan dengan maksimal oleh pemerintah daerah dan masyarakat. Jangan sampai peluang ini justru dimanfaatkan oleh pelaku usaha di luar Batam. ”Pembinaan harus diutamakan. Setelah itu, berikan bantuan-bantuan dana hingga pelaku usaha dapat mandiri.

Jangan kita hanya menjadi penonton di daerah sendiri. Ini akan sangat meresahkan masyarakat nantinya,” katanya. Mukriyadi mengatakan, pariwisata merupakan satusatunya industri yang memerlukan keterlibatan masyarakat atau komunitas. Menurut dia, dengan majunya pariwisata, maka sektor UKM juga akan maju.

”Misal kita mau beli oleh-oleh di mana, mau homestay di mana. Asal masyarakatnya sadar mau mengambil peran itu. Kalau nggak tahu, ya gimana, UKM nggak akan maju-maju,” katanya. Masyarakat jangan hanya jadi penonton dan pekerja. Pariwisata diharapkan akan menumbuhkan pelaku-pelaku UKM baru.

”Jangan cuma jadi karyawan toko suvenir, tapi coba jadi pengusaha suvenir dengan buka toko sendiri walau kecilkecilan,” ujar politisi PKS ini. Anggota Komisi II DPRD Kota Batam lainnya Uba Ingan Sigalingging menambahkan, Pemko Batam harus melakukan penguatan kegiatan pariwisata berbasis masyarakat.

Tak lain tujuannya agar pelaku-pelaku usaha kecil mikro di Batam tak menjadi penonton di daerah sendiri. ”Kalau pariwisata tak berbasis masyarakat seperti hari ini, dimungkinkan masyarakat hanya jadi penonton,” kata Uba. Sementara menurut Uba, sebagai daerah yang diberikan keunggulan dari sisi geografis dekat dengan negara-negara tetangga, Batam tak bisa menutup diri dari hal-hal semacam itu. ”Makanya perlu duduk bersama.

Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, Dinas UMKM, dan dinas lainnya untuk penguatan kegiatan berbasis masyarakat. Termasuk dengan BP Batam juga. Lupakan dulu masalah kewenangan,” ujar dia. Uba pribadi mengaku agak kecewa dengan kinerja pemerintah saat ini.

Di satu sisi ingin mengembangkan pariwisata Batam, di sisi lain upaya pengembangan ke arah itu belum begitu terlihat. Perlu pengembangan tidak hanya dari sisi infrastruktur, tetapi juga suprastruktur. ”Kegiatan Disbudpar sekarang ini lebih banyak seremonial. Konkretnya apa? Mesti didorong ke arah itu.

Banyak kok sebenarnya turis yang mau datang lihat langsung proses pembuatan sesuatu di Batam. Ini potensi yang perlu diadakan. Apa karena ketidakmampuan Disbudpar menggarap itu, saya kurang tahu,” ujarnya.

ASRUL RAHMAWATI/ IWAN SAHPUTRA

Batam